Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 220 - Arash bingung


__ADS_3

"Karena Putri berada di bawah perlindungan saya."


Putri mengerjapkan matanya. Gadis itu menatap ke arah Arash dengan tatapan yang bingung.


Sejak kapan dirinya berada di bawa pelindungan Arash?


Putri tersentak dari lamunannya di saat Arash melepaskan tangannya dari pegangan Soni. Bahkan saat ini pria itu sudah mengambil alih tas yang berisi laptop dan juga berkas-brkas penting miliknya yang ada di tangan Soni.


"Ayo," ajak Arash sambil menarik tangan Putri pelan.


Putri kembali mengerjapkan matanya. Dia merasa bingung kepada sikap Arash dan juga dirinya sendiri. Pikirannya ingin menahan tubuhnya untuk tidak mengikuti Arash, akan tetapi langkah kakinya tak ingin berhenti dan terus mengikuti pria yang sedang menariknya saat ini.


"Putri, apa yang kamu pikirkan?" batin Putri untuk menyadarkan dirinya sendiri, tetapi tetap saja, tubuhnya seolah tak sekata dengan pikirannya.


Soni hanya menatap kepergian Putri dengan alis yang terangkat sebelah. Tak perlu pria itu bertanya, dia sudah bisa menebak jika Putri tertarik dengan pria yang sedang memakai seragam polisi itu.


Bam ...


Arash menutup pintu mobil saat Putri sudah duduk dengan nyaman dan aman di dalamnya. Pria itu pun berlari menuju pintu mobil yang lainnya.


"Kita berangkat sekarang?" ujar Araash yang tidak di jawab dengan Putri.


Saat mobil mulai melaju, perlahan kesadaran Putri pun seolah kembali, bersamaan dengan pandangannya yang menangkap siluet tubuh Soni yang berdiri di depan lobi dengan kedua tangannya yang berada di dalam kantong.


"Soni!" lirih Putri bersamaan dengan perasaan bersalah yang mulai merogoti hatinya.


"Mau makan batagor dulu, gak?" ajak Arash.


"Kenapa kamu melakuukan ini?" tanya Putri dengan suara yang pelan.

__ADS_1


"Hmm? Melakukan apa?" tanya Arash yang tak mengerti dengan apa yang Putri katakan.


"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu menjemput aku?" tanya Putri yang sudah menatap ke arah Arash.


Arash pun melirik ke arah Putri, kemudian dia kembali fokuskan pandangannya ke depan.


"Ada apa, Put? Bukannya kamu memang selalu aku jemput saat pulang kerja?" ujar Arash.


"Tidak, bukan itu. Kenapa kamu menarik aku dan memaksa aku untuk masuk ke mobil kamu. Bukannya kamu tadi tau kalau sudah di jemput dengan yang lain?" tanya Putri lagi.


Araash terdiam, pria itu pun merasa bingung harus menjawab apa. Secara dirinya sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang telah dia lakukan tadi. Ada sesuatu yang tidak dia sukai di saat Putri bersama orang lain. Tapi, perasaan apa itu? Tidak mungkin cinta, kan? Secara orang yang dia cintai adalah Sifa, bukan Putri.


"I-itu." Arash memutar otaknya untuk berpikir. Dia harus menemukan alasan yang tepat agar Putri tak salah paham dengan apa yang sudah dia lakukan tadi.


"Itu, aku hanya ingin melindungi kamu. Lagi pula, kita tidak mengenal pria itu, kan?" ujar Arash yang mana membuat Putri mendengus.


"Aku mengenal Soni. Sangat mengenal Soni, bahkan aku jauh lebih mengenal Soni dari pada kamu. Jadi, yang seharusnya melindungi aku adalah Soni, kan? Karena dia sangat mengenal aku," ujar Putri dengan kesal.


"Iya, kamu benar. Aku tidak mengenal pria itu dan kamu sangat mengenalnya. Tapi, bukankah kita tetap harsus waspada dengan orang yang baru kita temui?" tanya Arash memberikan alasan yang lain.


"Tidak, bukan kita. Tetapi aku. Aku harus waspada dengan orang yang baru aku temui. Apa lagi saat ini aku memiliki kewajiban untuk melindungi kamu," ujar Araash yang mana membuat Putri menoleh ke arahnya.


"Aku tiidak pernah meminta kamu melindungi aku. Bukannya aku sudah ada pelindung bayangan sendiri? Bahkan Pak Abash memberikan kalung ini untuk aku gunakan di saat darurat." Putri pun menunjukkan kalung yang di berikan oleh Abash kepadanya saat di Bandung.


"Kalung?" batinnya seolah teringat akan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Arash saat melihat kening Putri berkerut di saat gadis itu tiba-tiba saja terdiam.


"A-aku harus bertemu Sifa," ujar Putri kepada Arash. "Kamu tau di mana Sifa tinggal?"

__ADS_1


Arash mengernyitkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Putri ingin bertemu dengan Sifa?


"Kamu tau gak di mana Sifa tinggal?" tanya Putri lagi.


"Ta-tau, kenapa?" tanya Arash balik.


"Ada hal penting yang harus aku katakan ke dia. Tolong antarkan aku ke tempat Sifa, aku mohon," pinta Putri dengan lirih.


"Oke, kita ke tempat Sifa," ujar Arash menuruti permintaan Putri.


"Kenapa dia sampai memohon seperti itu?" batin Arash dan melirik ke arah Putri yang sudah terlihat cemas.


Butuh waktu empat puluh lima menit dari kantor Putri menuju apartemen Sifa. Berhubung saat ini adalah jam waktu pulang kerja, jadi jalanan pun terlihat padat.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arash membuka percakapan.


"Ya?" jawab Putri yang sudah menoleh ke arah Arash.


"Kenapa kamu ingin bertemu Sifa tiba-tiba?" Pertanyaan yang Arash berikan, membuat Putri mengernyitkan keningnya. Tidak mungkin kan dia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Arash? Soal Sifa yang sudah salah paham dengannya.


Ya, Putri harus menjelaskan kepada Sifa, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Sifa. Lagi pula ada Soni di sini sekarang, jadi Putri bisa memanfaatkan pria itu dan mengatakan kepada Sifa jika dirinya sebenarnya sudah memiliki kekasih.


"Apa aku harus memberitahu semua rahasiaku dengan kamu? Apa aku harus meminta izin kepada kamu untuk bertemu dengan Sifa?" tanya Putri dengan kesal.


"Kok, kamu marah? Aku kan cuma tanya?" ujar Arash dengan kening mengkerut.


Putri menghela napasnya dengan pelan.


"Maaf, aku hanya tak suka dengan cara kamu memaksa aku untuk ikut bersama kamu tadi," ujar Putri sambil menatap ke arah luar jendela.

__ADS_1


"Maaf," cicit Arash.


Pria itu pun tak tahu, mengapa dia sampai melakukan hal tersebut kepada Putri.


__ADS_2