
Putri menatap tespack yang ada di tangannya saat ini. Sudah tiga bulan, gadis itu terus saja memeriksakan dirinya rutin dengan menggunakan tespack. Berjaga-jaga dan memastikan, jika dia tidak akan hamil karena kejadian itu.
"Ini sudah yang ke dua puluh kali, hasilnya negatif," lirih Putri bernapas lega.
"Lagi pula, ini sudah tiga bulan berlalu, gak mungkin juga kan aku hamil?" Putri mengusap perutnya yang rata.
Rasa was-was itu masih menghantui Putri, padahal selama tiga bulan ini, dia rutin kedatangan bulan.
"Aku harap, aku memang tidak hamil," ujarnya lagi dengan mencoba tersenyum.
Putri bangkit dari tempat duduknya, gadis itu pun harus bersiap untuk melanjutkan aktifitas nya sehari-hari. Selama dia berada di negara orang.
*
Pesta pertunangan Abash dan Sifa hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Termasuk keluarga besar dan beberapa klien penting. Hal itu memang sengaja di lakukan, karena mereka tidak ingin adanya sebuah kemeriahan, sehingga membuat Arash kembali merasakan kehilangan.
Malam ini, Abash terlihat tampan dengan setelan jas berwarna putihnya. Pria itu tersenyum dengan begitu elegantnya.
"Wah, anak Mama tampan banget?" puji Mama Kesya, saat melihat Abash sudah rapi dan siap keluar dari tempat persembunyiannya.
"Siapa dulu Papa-nya," sahut Papa Arka sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Gantengan Abash lagi kali," ledek Mama Kesya.
"Tapi, di mata Mama, Papa kan yang ganteng?" ujar Papa Arka sambil mengedipkan matanya sebelah.
Mama Kesya hanya bisa terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, Papa yang paling terganteng di hati Mama, tapi gak di mata Mama," kekeh Mama Kesya.
"Lah, kok bisa gitu?" Papa Arka merasa tidak terima.
"Ya bisa, dong, mata Mama kan masih normal," sahut Mama Kesya sambil tertawa.
"Gak papa, yang penting cuma Papa yang ada di hati Mama." Papa Arka pun merangkul bahu sang istri dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Mama Kesya.
"Jadi, ini mau lihat Abash? Atau mau tunjukin kemesraan di depan Abash?" tanya Abash sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu ini, ntar juga kamu pasti tahu bagaimana rasanya jadi Mama dan Papa," ujar Papa Arka yang di sahut tawa oleh Abash.
"Ah ya, Arash sudah temui kamu?" tanya Mama Kesya.
Sedari tadi, wanita paruh baya itu tidak melihat kembaran putranya.
"Belum, Ma. Abash sudah mencoba menghubungi Arash, tapi ponselnya gak aktif," ujar Abash memberitahu.
"Hmm, ke mana sih anak itu? Kenapa belum juga muncul?" resah Mama Kesya.
"Mama tenang aja, ya. Arash pasti datang," ujar Papa Arka mencoba menenangkan san istri.
"Iya, Pa. semoga aja Arash gak terlambat."
Di tempat lain, Quin sedang menatap calon adik iparnya itu.
"Waah, cantik banget kamu, Sifa?" puji Quin dengan jujur.
"Makasih, Mbak." Sifa terlihat malu-malu dengan penampilannya saat ini.
"Mbak yakin, kalau Abash pasti bakal pangling lihat kamu, Sifa," seru Quin dengan penuh semangat.
"Ini semua karena make up, Mbak. Kalau gak di make up begini, mana mungkin saya bisa secantik ini," ujar Sifa masih dengan wajah malu-malunya.
"Kamu ini. Make up itu hanya membantu saja, tapi, karena dasarnya wajah kamu memang cantik, ya hasilnya juga cantik. Lagi pula, make up nya gak tebal kok, tipis-tipis aja, sesuai dengan permintaan kamu, kan?" ucap Quin yang di jawab anggukan oleh Sifa.
"Asal kamu tau, Sifa. kamu itu cantik. Cantik banget malahan. Kalau kamu gak cantik, mana mungkin Abash sampai kelepek-kelepek," kekeh Quin. "Dan juga, kamu itu unik. Ya kali kamu gak makan nasi?"
Semua orang yang ada di sana pun ikut tertawa.
"Iya, Mbak, awal ketemu Sifa, aku juga terkejut dan gak percaya, kalau Sifa ini gak pernah makan nasi," sahut Amel.
"Iya, kamu bener," kekeh Quin.
"Oh ya, denger-denger kamu lagi deket sama seseorang?" tanya Quin sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Amel.
Amel pun menoleh ke arah Sifa yang hanya bisa mengerjakan matanya.
__ADS_1
"Kamu yang bilang?" tanya Amel kepada Sifa.
"Hah? ti-tidak, aku gak bilang siapa-siapa," ujar Sifa sambil menggelenggan kepalanya cepat.
Quin pun terkekeh, padahal wanita itu hanya bercanda saja, ternyata tebakannya benar.
"Hayo ngaku.. kamu lagi dekat sama siapa sekarang?"
*
Arash menghela napasnya pelan. Pria itu saat ini berdiri tepat di depan monumen pengenang kematian korban jatuhnya pesawat. Di mana salah satu orang yang menjadi korban adalah Putri.
Arash meletakkan sebuket bunga mawar putih di sana. Mata indah Arash pun tak bisa berbohong, bagaimana dia terpukul karena kehilangan Putri.
Tak pernah Arash bayangkan sebelumnya, jika rasa sakit kehilangan seseorang bisa sesakit ini.
"Put, Abash sebentar lagi akan bertunangan dengan Sifa," ujar Arash sambil menatap gambar pesawat yang bertuliskan nama-nama korban.
"Seperti yang kamu harapkan, akhirnya mereka bersatu, Put," lirih Arash lagi.
"Tapi bagaimana dengan kita?"
Satu tetes air mata Arash terjatuh, pria itu selama ini menahan rasa sakitnya sendiri. Tapi kali ini, biarkan Arash melepaskan rasa sakit itu.
Praaang
"Miska, what are you doing?" pekik Manager resto makanan cepat saji.
"I'm sorry," lirih Miska dengan tangan yang bergetar.
Miska tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Hatinya terasa sangat sakit, seolah ada yang menghantam hatinya dengan keras.
"Apa yang terjadi? Apa Mama sakit? Atau Arash---"
Putri yang menyamar sebagai Miska. Gadis itu pun memegangi dadanya yang berdebar dengan cepat. Dia tidak tahu, apa yang telah terjadi saat ini pada Mama Nayna dan juga Arash. Sudah tiga bulan berlalu, tetapi sekali pun Putri tidak mengetahui kabar tentang dirinya, keluarganya, dan juga Arash.
Putri sengaja menutup telinga dan matanya, agar dia bisa melupakan kejadian malam itu.
__ADS_1