Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab.180 - Foto


__ADS_3

"Bagaimana menurut Anda?" tanya Abash kepada Putri yang sedang menatap ke arah luar jendela mobil.


Saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan menuju rumah sakit, di mana Putri dan Abash baru saja selesai bertemu dengan Om Martin.


Putri menghela napasnya dengan pelan.


"Hari ini keluargaku, mungkin esok keluarga Anda," lirih Putri. "Sebaiknya kita memang harus mencabut tuntutan itu. Saya tidak ingin ada korban jiwa lagi," ujar Putri dengan menatap wajah Abash.


"Baiklah, aku setuju."


"Ah ya, bagaimana dengan Sifa? Apa Anda sudah memberikan perlindungan untuknya? Saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya," tanya Putri penuh dengan perasaan khawatir.


Entah mengapa, melihat Sifa, dia teringat akan sahabatnya--Luna. Walaupun gadis itu berasal dari keluarga yang terpandang dan berada, akan tetapi gadis itu selalu berusaha untuk mencapi cita-citanya dengan kemampuannya sendiri.


Bahkan, Luna pernah bekerja paurh waktu di cafe sebagai pelayan di masa dia kuliah dulu. Saat itu lah pertama kalinya Luna bertemu dengan kekasihnya itu.


Bukannya Putri tak tahu siapa Luna sebenarnya. Putri adalah orang yang paling tahu siapa Luna sebenarnya dan juga latar belakang gadis itu.


Untuk itu, Putri ingin berteman dengan baik dengan Sifa. Kesederhanaan Sifa dan kerja keras gadis itu membuat Putri tertarik untuk berteman dengannya. Putri mengetahui tentang Sifa, karena Quin sempat menceritakan tentang gadis itu saat mereka sedang membuat kue bersama.


Jika Sifa takut kalau keluarga Moza menolaknya! Menurut Putri hal itu sangat tidak mungkin. Karena melihat bagaimana welcome-nya keluarga Moza menerima kedatangan Sifa, membuat Putri merasakan ada sesuatu yang dirahasiakan oleh gadis itu dan juga Abash.


Yang jelas, bukan perihal tentang cinta yang tidak di restui.


Tapi apa?


Ah, itu bukan urusan Putri. Dia tidak akan ikut campur dalam hubungan Abash dan Sifa. Saat ini yang akan Putri lakukan adalah, berterima kasih dengan Sifa, karena sudah berlapang dada membiarkan kekasih gadis itu menemaninya ke Bandung. Bahkan, Abash tidak meninggalkannya sama sekali.


Sebagai seorang wanita, Putri memahami betul apa yang Sifa rasakan. Walaupun mulut memberi izin dan berkata tidak akan cemburu, tapi sorot mata gadis itu sungguh berkata lain.


Putri sebenarnya tidak menyangka, jika Abash akan tetap tinggal di Bandung dan menemaninya. Tidak seperti apa yang Putri bayangkan sebelumnya, di mana dia berpikir, jika Abash akan meninggalkannya setelah mengantarkan dirinya ke Bandung.


"Anda jangan khawatir, Saya sudah menempatkan seseorang untuk menjaga Sifa. Dan ya, ada satu hal lagi yang ingin saya kasih ke Anda," ujar Abash.


Pria itu pun menepikan mobilnya, dia mengambil sesuatu yang ada di dalam kantongnya.


"Apa itu?" tanya Putri saat Abash mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna coklat.


Abash membuka kotak tersebut, sehingga membuat Putri dapat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.


"Kalung?" lirih Putri.


"Ini bukan kalung biasa. Sebenarnya saya sudah ingin memberikan kalung ini kepada Anda kemarin, tetapi kejadian yang tidak terduga membuat saya melupakannya," ujar Abash sambil memberikan kalung tersebut untuk Putri.


"Untuk saya? Kenapa?" tanya Putri.


"Tidak, saya tidak bisa menerimanya. Saya tdiak ingin ada yang salah paham dengan hal ini," tolak Putri sambil mengulurkan kembali kalung tersebut kepada Abash.


Abash mendengus pelan. "Ini bukan kalung yang seperti Anda maksud. Tetapi, kalung ini sudah saya tanamkan sebuah alarm pelindung. Saya akan tahu di mana keberadaan Anda, jika terjadi sesutau dengan Anda nanti," ujar Abash menjelaskan secara singkat.


"Ah, alat pelacak, ya?" lirih Putri yang mulai memahami apa yang di maksud oleh Abash.


"Iya, dan Anda lihat permata ini?" tunjuk Abash.


"Huum, permata yang cantik. Apa ada yang berwarna merah? saya suka warna merah," cengir Putri yang mana membuat Abash menaikkan alisnya sebelah.


"Maaf, Saya hanya bercanda," kekeh Putri yanga sebenarnya hanya ingin mencairkan suasana. "Lalu, kenapa dengan permata ini?" tanya Putri.


"Jika Anda mengusap dan menekan permata ini, maka saat itu juga saya akan tahu jika Anda berada di dalam bahaya dan membutuhkan bantuan. Ingat, Anda hanya boleh menekan permata ini di saat yang darurat," ujar Abash.

__ADS_1


"Baiklah, saya mengerti. Terima kasih banyak," ujar Putri dengan tersenyum manis.


Gadis itu pun kemudian membuka kotak bludur dan memasukkan kembali kalung tersebut.


"Kenapa malah di simpan? Sebaiknya kamu memakainya sekarang," titah Abash.


"Sekarang? Baiklah."


Putri pun membuka kaitan kalung tersebut, kemudian dia memakaikan pada lehernya.


"Ughh, susah sekali," lirhinya sambil terus mencoba memasang kaitan kalung pada lehernya.


Abash yang melihat Putri kesusahan pun, menawarkan bantuan untuk menolongnya.


"Kemarilah," titah Abash menyuruh Putri mendekat ke arahnya.


"Hum?"


Abash mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk membantu Putri mengaitkan cantolan pada kalungnya, sehingga membuat jarak mereka pun menjadi sangat dekat.


Cekrek ... Cekrek ...


Foto itu pun kembali terkirim kepada seseorang.


*


Sifa melihat kalung yang di berikan oleh Abash, sebelum pria itu pergi ke Bandung bersama Putri.


"Pakai ini, ini akan membantu kamu tetap terlindungi," bisik Abash sambil memakaikan kalung tersebut di lehernya.


Sifa menghela napasnya dengan pelan. Entah kenapa rasa takut dan juga khawatir yang dia rasakan pun semakin membesar. Pandangannya menatap jauh ke arah gedung-gedung yang ada di seberang gedung perusahaannya.


Cling ...


Sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenali pun masuk ke dalam ponselnya. Gadis itu pun langsung meraih ponselnya dan melihat isi dari pesan tersebut.


"Mas Abash?" lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


Sifa menggenggam erat ponselnya, di mana sedang menampilkan foto Abash yang tengah memeluk Putri di sebuah cafe.


"Mas?" isaknya dengan dada yang bergemuruh.


Di sisi lain, seseorang menatap penuh bahagia, di saat melihat Sifa menangis setelah mendapatkan pesan tersebut.


"Itulah yang aku rasakan, Sifa. Sakit kan?" lirih Amel dengan menatap Sifa penuh kebencian dari tempat persembunyiannya.


Tak terasa waktu terus berlalu dengan cepat, semenjak kiriman foto dari orang yang tak di kenal tadi siang. Sifa seolah tak memiliki semangat untuk mengerjakan apapun. Bahkan, untuk memasak makan malam pun, gadis itu terasa malas.


"Hmmm, aku sepertinya butuh mencari angin segar," lirihnya dan mengambil jaket untuk menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan.


Sifa pun memakai sepeda yang di berikan oleh Oma Laura sebagai hadiah pengganti dirinya yang tidak bisa pergi ke Bali saat memenangkan lomba lari berpasangan bersama Abash.


Ingat, jangan di tanya berapa harga sepeda tersebut ya.


Sifa mengayuhkan sepedanya ke lapangan yang tak jauh dari apartemennya berada. Di sana, jika malam begini akan banyak penjual kaki lima yang membuka lapak.


Tin .. Tin ...


Sifa menepikan sepedanya di saat ada sebuah mobil yang membunyikan klakson dan mendekati dirinya.

__ADS_1


Gadis itu memicingkan matanya untuk melihat siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut.


"Mas Arash?" tebak Sifa, di mana pria itu langsung mengembangkan senyumannya.


"Hai," sapa Arash yang mana membuat Sifa ikut tersenyum.


Dan, di sinilah mereka saat ini. Di lapangan yang terdaapat menjual banyak jajanan kaki lima, tempat di mana Sifa ingin datangi tadi.


"Ini sangat enak," ujar Sifa saat memasukkan dimsum ke dalam mulutnya, sehingga membuat pipi gadis itu mengembang dan penuh.


Arash terkekeh pelan, "Pelan-pelan makannya, Sifa," ujar Arash sambil membersihkan sudut bibir Sifa dengan menggunakan sapu tangan yang sering pria itu bawa.


"Eh, te-terima kasih, Mas," ujar Sifa sambil mengambil alih sapu tangan tersebut dan membersihkan sendiri sudut bibirnya yang belepotan.


"Mau lagi?" tawar Arash di saat melihat dimsum yang ada di hadapan mereka telah habis.


"Boleh?" tanya Sifa yang di angguki oleh Arash.


"Tentu."


Arash pun kembali memesan dimsum dan juga bola-bola udang di stand penjualnya. Tak lupa pria itu juga memesan martabak telur untuk dirinya dan juga Sifa.


"Banyak amat yang di pesan, Mas?" tanya Sifa.


"Gak papa, kan ada kamu yang akan habiskan," ujar Arash dengan tersenyum.


"Iih, emangnya aku serakus itu apa?" cicit Sifa dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.


"Iya," jawab Arash kemudian pria itu terkekeh di saat Sifa memukul lengannya dengan pelan.


"Jahat banget," cibir sifa seolah dia sedang merajuk.


"Bercanda," kekeh Arash sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.


"Ah ya, besok Abash dan Putri akan kembali ke Bandung," ujar Arash memberti tahu.


"Oh ya?" tanya Sifa yang merasa tertarik dengan pembahasan tentang sang kekasih.


"Heum, tadi Putri menghubungi aku, katanya dia akan mencabut tuntutan itu," ujar Arash.


"Kenapa harus di cabut?" tanya Sifa penasaran.


"Entahlah, mungkin Putri punya alasannya sendiri," jawab Arash yang tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Sifa.


"Seharusnya biarin aja penjahat itu di penjara," lirih Sifa.


Arash melihat wajah Sifa yang sedang menggerutu kesal. Entah mengapa, pria itu semakin yakin jika dirinya akan memilih gadis yang ada di sebelahnya saat ini untuk menjadi kekasihnya.


Melihat mulut Sifa yang sedang komat kamit karena menggerutu kesal pun, membuat wajah gadis itu semakin menggemaskan.


"Mas, ini pesanannya," ujar penjual yang mana membuat lamunan Arash pun buyar.


"Ah ya, terima kasih banyak, Mas," ujar Arash sambil menerima nampan yang di berikan oleh penjual tersebut.


"Ayo, kita makan lagi," ajak Arash yang di angguki oleh Sifa.


"Ayo."


Hanya dengan makan, maka gadis itu akan melupakan sedikit amarah di dalam hatinya. Setidaknya, bersama dengan Arash saat ini mengalihkan pikirannya dari sang kekasih yang sedang memeluk Putri.

__ADS_1


__ADS_2