Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 29 - Jejak Air Mata


__ADS_3

Arash melirik ke arah Zia yang sedang tertidur pulas di kursinya. Ya, saat ini Arash dan Zia sedang berada di perjalanan pulang ke apartemen mereka. Berhubung sudah malam dan Arash juga berada di rumah sakit yang sama dengan Zia, maka dari itu Arash menawarkan Zia untuk pulang bersama. Bukankah sudah seharusnya dan sewajarnya jika mereka pulang bersama!


Arash menghela napasnya secara perlahan, di saat mengingat kembali semua perkataan yang di ucapkan oleh Abash. Sang kembaran pria itu berpesan jika Arash tidak mampu membuat Zia bahagia, maka jangan pernah menyakiti hatinya.


Tapi, apakah Arash sudah menyakiti hati Zia? Bukankah mereka sudah sepakat menikah dengan perjanjian yang Arash berikan kepada Zia? Bahkan, gadis itu juga tidak pernaha keberatan, menolak atau pun protes dengan perjanjian yang Arash tawarkan saat itu.


Zia tidak merasa keberatan jika Arash tidak mampu memberikan nafkah batin kepadanya. Asalkan pria itu membiarkan dirinya menjadi ibu seutuhnya untuk Yumna dan Rayyan, bukan hanya sekedar ibu pengganti. Ya, walaupun Arash setuju dengan permintaan Zia, akan tetapi tetap saja bagi pria itu jika Zia adalah ibu pengganti bagi Zia. Tapi, keberadaan Zia tidak akan pernah menggantikan posisi Putri di hati dirinya dan kedua anaknya nanti.


Arash kembali menoleh ke arah sang istri yang masih terlihat tertidur dengan lelap, tak terganggu sedikit pun dengan gundukan polisi tidur yang baru saja mereka lewati di Arash mengemudikan mobilnya masuk ke dalam basemen.


Zia terlihat terlelap dalam tidurnya, akan tetapi wajah sedih gadis itu masih terpancar walaupun dia sedang tidak menangis saat ini. Arash menghentikan mobil yang sedang dia kendarai di tempat biasa dirinya memarkirkan mobil. Pria itu kembali menoleh ke arah sang istri yang masih tertidur pulas.


Arash melepas seat belt yang dia kenakan sambil melirik ke arah Zia, berharap gadis itu terbangun dari tidurnya. Dan ternyata, Zia masih terlelap, seolah gadis itu terlihat sangat kelelahan sekali.


Arash memajukan tubuhnya mendekat ke arah Zia, dia hanya berniat untuk membuka seat belt yang dipakai oleh sang istri dan berharap jika Zia terbangun dari tidurnya.


Cekleekk ...


Seat belt yang Zia pakai pun telah terlepas, akan tetapi gadis itu masih saja terlihat masih tertidur dengan begitu pulasnya. Arash menarik napas panjang, tetapi dalam waktu yang bersamaan pria itu menahan napasnya untuk tidak di hela.


Arash mencipitkan sedikit matanya di saat melihat jejak air mata yang masih berada di sudut mata sang istri. Terlihat jelas sekali jejak air mata tersebut, di mana ternyata Zia sepanjang perjalanan menangis di dalam tidurnya.


Tangan Arash refleks terangkat ke atas untuk mengusap air jejak air mata yang ada di sudut mata Zia. Mengusap jejak tersebut dengan lembut agar sang istri tidak terbangun dari tidurnya. Manik mata Arash yang awalnya hanya memandang jejak air mata yang ada di sudut mata Zia, perlahan bergerak dan menatap keseluruhan wajah sang istri yang terlihat cantik dengan porsinya sendiri.

__ADS_1


Memang, Zia dan Putri memiliki wajah yang mirip. Tapi, bukankah itu hal yang wajar karena mereka bersaudara? Layaknya Arash dan Abash yang memang identik kembar, tetapi tetap saja mereka memiliki perbedaan tersendiri pada wajah mereka. Begitu juga dengan Zia dan Putri. Walaupun wajah mereka terlihat mirip, tetapi tetap saja Arash bisa membedakan yang mana Putri dan Zia.


Bahkan saat ini, dengan sangat sadar sekali Arash menyadari jika gadis yang sedang dia sentuh wajahnya adalah Zia, bukan Putri.


Arash merasa bingung dengan dirinya sendiri saat ini, di mana hati dan pikirannya tidak sejalan saat ini, di tambah lagi bahasa tubuhnya yang juga berkata lain. Tangan Arash yang mengusap air mata Zia tadi pun perlahan mengusap pipi halus dan lembut sang istri, dengan harapan jika Zia tidak terbangun dengan pergerakan yang dia berikan saat ini.


Jantung Arash berdegup kencang, takut jika tiba-tiba saja Zia terbangun dan melihat dirinya yang sedang menyentuh wajah gadis itu. Entah mengapa, pergerakan tubuh Arash tidak ingin menuruti pikiran dan kata hatinya saat ini.


Ibu jari Arash pun bergerak menjauh dari jari-jarinya yang lain hanya untuk menyentuh bibir Zia yang terlihat berwarna pink muda dan lembab. Pria itu lagi-lagi menelan ludahnya dengan kasar dan berharap jika Zia tidak terganggu dengan apa yang saat ini sedang dia lakukan kepada wanita itu.


"Euunggmhhh ..."


Arash dengan cepat menjauhkan dirinya dari Zia, di saat gadis itu tiba-tiba saja mengerang dan membuat dirinya terkejut. Arash dengan cepat mengontrol ekspresi wajahnya dan berharap jika Zia tidak mendengar detak jantungnya yang bertalu dengan cepat saat ini.


"Kita di mana, Mas? Apa kita sudah sampai?" tanya Zia dengan suara paraunya.


Lagi, Arash menelan ludahnya dengan susah payah. Tapi, dia tidak boleh terlihat gugup sedikit pun di depan Zia.


"Hmm, ya!" jawab Arash dengan ciri khas pria itu yang jutek.


"Apa kita sudah lama tiba?" tanya Zia dengan kening yang mengkerut, di saat menyadari jika dirinya tidak lagi menggunakan seat belt.


Seingat Zia, saat masuk ke dalam mobil dia sudah menggunakan seat belt, sebelum sang suami memarahinya seperti biasa. Tapi, kenapa saat ini seat belt nya sudah terlepas? Apa memang sedari awal dia tidak memakainya?

__ADS_1


Zia melirik ke arah Arash, berpikir jika suaminya itu yang telah membuka seat beltnya.


Tapi---"


"Gak! Gak mungkin Mas Arash. Mana punya waktu dia buat lepasin seat belt aku," batin Zia yang tidak ingin menaruh curiga kepada suaminya itu.


Zia pun akhirnya memutuskan untuk berpikir jika dirinya tidak mengunci dengan erat seat belt tersebut, sehingga terlepas dari tubuhnya.


Ya, sepertinya itu adalah alasan yang lebih tepat dari pada menuduh Arash yang telah melepaskan seat belt dari tubuhnya.


"Baru saja!" jawab Arash dan mengambil ponselnya yang ada di dasboard.


"Ayo turun," titah Arash. "Atau kamu mau melanjutkan tidur di dalam mobil?" tanya pria itu lagi.


Zia melirik kesal ke arah sang suami. Lagi pula saat ini dia sedang bersiap untuk turun. Apakah suaminya itu tidak bisa bersabar sedikit saja dengan pergerakannya yang tidak bisa cepat?


Zia sudah turun dari mobil dengan kepala yang sedikit pusing. Menangis dan meluapkan emosinya saat bersama Sifa tadi, ternyata tidak hanya membuat perasaannya terasa lega, akan tetapi juga membuat matanya sangat mengantuk dan kepalanya terasa pusing.


Zia sedikit terhoyong, tetapi dia tetap berusaha untuk tersadar dan bisa berjalan dengan normal.


Arash yang melihat Zia berdiri dengan terhoyong pun hanya bisa menghela napasnya dengan pelan dan panjang.


Tidak, sebenarnya Arash menghela napasnya karena akhirnya Zia telah menjauh darinya dan tidak mencurigai dirinya. Apa lagi, Zia tidak menyadari dengan apa yang telah dia perbuat kepada istrinya itu.

__ADS_1


Ya, semoga saja Zia tidak menyadari apa yang telah dia lakukan saat Zia tertidur tadi.


__ADS_2