
Sifa membuka pintu apartemennya, tanpa wanita itu sadari jika Abash saat ini sedang mengikutinya.
"Pak Abash!" pekik Sifa terkejut saat sang bos menarik lengan dan mendorong tubuhnya menempel ke dinding.
Buum...
Terdengar suara pintu yang tertutup, sehingga membuat Sifa melirik ke arah pintu tersebut.
"Sekarang tidak ada siapa-siapa yang melihat," bisik Abash dan menatap dalam ke mata Sifa.
Perlahan, Sifa pun membalas tatapan sang bos yang begitu tajam. Namun juga terlihat tenang dalam waktu yang bersamaan, yang mana membuat wanita itu terlena dalam tatapan mata itu.
"Apa kamu masih merasa tak nyaman?" bisik Abash yang mana semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sifa.
"I-itu---" Sifa benar-benar gugup saat ini. Dengan gerakan yang refleks, wanita itu meremas jas yang di kenakan oleh Abash.
"Katakan, apa yang kamu sukai dari Arash?" tanya Abash.
"Ba-bapak salah paham. Maksud saya bukan suka seper----"
"Apa kamu juga menyukai saya?" tanya Abash dengan memotong ucapan Sifa.
Sifa membelalakkan matanya. Bagaimana bisa dia menjawab semua pertanyaan dadakan seperti ini. Apa dia menyukai Abash? Atau dia tidak menyukainya?
__ADS_1
Sifa sendiri bingung dengan perasaannya kepada sang bos. Saat di tanya bagaimana perasaannya kepada Arash, dengan mudahnya wanita itu menjawab iya. Lalu, kenapa sangat sulit menjawab iya di saat di tanya apa dia menyukai Abash atau tidak.
"Apa kamu tidak menyukai saya?" tanya Abash lagi.
"Buk-bukan begitu. Sa-saya---" Sifa menggigit bibirnya dengan gugup. Dia bingung harus menjawabnya bagaimana.
Abash mengusap lembut pipi Sifa, yang mana membuat wanita itu semakin menegang dan meremas jas milik Abash dengan kuat.
"Jangan di gigit, nanti bibir kamu bisa terluka," bisik Abash sambil menarik pelan bibir Sifa yang di gigit oleh wanita itu.
Abash menelan ludahnya dengan kasar, rasanya dia ingin sekali mencoba menggigit bibir Sifa yang selalu saja tak bisa diam. Abash mengusap lembut bibir berwarna pink itu, sehingga membuat sang empu refleks menutup matanya secara perlahan.
Melihat reaksi Sifa yang menutup matanya, Abash tersenyum tipis. Sangat tipis sekali, hingga entah setan apa yang berbisik kepadanya untuk mencicipi bibir yang sedari tadi sudah membuatnya tergoda.
Abash pun mendekatkan bibirnya ke bibir Sifa, hingga pria itu dapat merasakan dingin, basah, empuk dan juga kenyal secara bersamaan, sehingga membuat Abash ikut menutup matanya dan menghisap lembut bibir itu.
Abash langsung menoleh ke arah pintu, kemudian dengan cepat pria itu menahan pintu dengan menggunakan kunci rantai, agar pintu tersebut tidak langsung terbuka.
"Si-siapa, Pak?" tanya Sifa dengan gugup.
Tanpa kata, Abash langsung menarik tangan Sifa untuk menjauh dari pintu.
"Sebaiknya kamu sembunyi di dalam kamar," titah Abash yang di angguki oleh Sifa.
__ADS_1
Wanita itu pun mengangguk dan menuruti perintah sang bos, sedangkan Abash mengatur napasnya dan berjalan mendekati pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka, namun tertahan karena telah di kunci dengan kunci rantai.
"Abash, kamu di dalam?" pekik Arash.
"Ya .. ya .." ujar Abash.
Abash menoleh ke arah Sifa yang baru saja membuka pintu. Pria itu memberi isyarat kepada Sifa untuk menutup pintu secara perlahan.
"Buka pintunya, aku sesak pipis," pekik Arash.
"Sebentar,"
Abash bergegas berjalan menghampiri pintu masuk, kemudian pria itu melepaskan rantai yang menahan pintu untuk terbuka lebar.
"Tumben banget di rantai," cibir Arash dan bergegas masuk ke dalam apartemen.
"Kamu mau ke mana?" tanya Abash.
"Ya mau ke kamar mandi lah," ujar Arash sambil berlalu menuju kamar Abash.
__ADS_1
"Eeh, jangan ke sana," pekik Abash yang mana menahan langkah Arash.
"Terus? Aku harus ke mana? Aku udah gak tahan lagi nih.. udah d ujung tanduk."