Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 63 - aroma tubuh


__ADS_3

"Bapak gak nyesal? Harga buku ini mahal banget loh, Pak,"


Abash membelalakkan matanya, pria itu menggerutu di dalam hati karena lupa melepaskan label harga pada buku-buku itu.


"Ha.. ha..ha... cuma satu doang kok yang harga segitu, gak Masalah. Saya bisa cari yg lain," ujar Bagas sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Bukan cuma satu loh, Pak. Tapi rata2 semua buku ini harganya di atas lima ratus ribu. Bapak yakin kasih buku ini cuma-cuma untuk saya? Buku ini mahal-mahal loh, Pak. Saya gak mampu ganti jika nantinya buku ini rusak di tangan saya dan Bapak minta balik lagi buku-buku ini. Minjamnya saja saya gak berani, Pak" ujar Sifa panjang lebar dan mengembalikan buku-buku tersebut.


"Gak papa, saya ikhlas kok ngasihnya. Lagi pula buku-buku itu bisa kamu gunakan untuk membuat skripsi kamu, juga bisa untuk bekal pembelajaran kamu ikut tes masuk ke tim Cobra," ujar Abash.


"Iya sih, Pak. Tapi ... buku-buku ini mahal. Saya gak berani menjadikannya hak milik saya."


"Ambil saja, barang yang sudah saya beri, pantang untuk saya terima kembali," ujar Abash sambil mendorong buku-buku itu kembali ke dekat Sifa.


"Jangan, Pak. saya gak enak. Gimana kalau buku-buku ini rusak?" ujar Sifa sembari mengembalikan buku-buku tersebut kepada Abash.

__ADS_1


"Gak masalah, itu hak kamu. Mau kamu coret-coret atau gimana pun, itu gak kamu, karena buku ini sudah menjadi milik kamu," ujar Abash sambil memberikan buku-buku tersebut ke atas pangkuan Sifa.


"Pak, tapi saya benar-benar gak enak. Buku-buku ini sangat mahal. Jika di satukan semua harganya, makanya akan menjadi hampir satu bulan gaji saya," ujar Sifa sambil memberikan buku tersebut ke atas pangkuan Abash.


"Sifa, saya sudah bilang buku-buku ini untuk kamu. Saya beli semua buku-buku ini memang khusus untuk kamu. Bukan mudah saya mencari semua buku-buku ini. Jadi, karena buku-buku ini saya beli khusus untuk kamu, itu artinya buku-buku ini sudah menjadi milik kamu, Paham?" ujar Abash yang sudah meletakkan kembali buku-buku tersebut ke atas pangkuan Sifa. Bahkan saat ini tubuhnya telah mecondong ke arah gadis itu.


Sifa mengerjapkan matanya. "Bapak beli semua buku-buku ini untuk saya?" tanya Sifa yang sedari tadi sudah menahan napasnya.


Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Abash, membuat indera penciumannya seakan termanjakan, bahkan saat ini detak jantungnya berdetak dengan cepat.


"Pak," panggil Sifa.


"Ya?"


"Bi-bisa Bapak menjauh sedikit? Aroma tubuh Bapak membuat saya menahan napas," ujar Sifa.

__ADS_1


Abash kembali mengerjapkan matanya, pria itu membenarkan posisi duduknya dan menciumi tubuhnya.


"Saya sebau itu?" tanya Abash kepada Sifa.


"Eh, bukan begitu. Bapak wangi, cuma saya__"


"Aroma tubuh saya bikin kamu sesak napas? Itu tandanya saya bau," ujar Abash.


"Tidak, bukan begitu. Bapak sangat wangi. Hanya saja saya___" Sifa menggigit bibir bawahnya, karena takut mengatakan yang sebenarnya.


Ya, Sifa takut jika dia terlena dengan aroma tubuh Abash yang sangat wangi dan memanjakan hidungnya.


Cukup sekali Sifa menderita karena merindukan aroma tubuh Abash, di saat wanita itu tanpa sengaja terjatuh di atas sang bos dan mencium bibirnya. Bayangan itu serta aroma tubuh Abash seakan tak ingin pergi dari ingatannya.


"Sebaiknya kamu pulang, lagi pula semua pekerjaan sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya," Ujar Abash dan bangkit dari duduknya menuju ke dalam kamar pria itu.

__ADS_1


"Apa aku salah, ya?" gumam Sifa sambil menatap punggung Abash yang perlahan menghilang dari balik pintu kamar.


__ADS_2