Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 242 - Arash Tak Jemput


__ADS_3

Putri menoleh ke arah jam tangannya, di mana sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Di mana jam makan siang dan waktu beristirahatnya akan segera habis.


"Ck, Arash mana sih? Kok belum datang juga?" lirih Putri yang sudah berdiri di depan lobi untuk menunggu kedatangan pria itu.


Putri pun sedari tadi sebenarnya juga sudah mencoba untuk menghubungi Arash, akan tetapi pria itu tidak menjawab panggilannya. Bahkan, sebuah pesan pun tidak ada pria itu kirimkan.


"Apa aku susul aja ya, kek kantor polisi?" lirih Putri sambil melirik ke arah jam tangannya.


"Iya, sebaiknya aku susul aja," putusnya kemudian.


Putri pun melihat sebuah taksi yang baru saja tiba mengantarkan penumpangnya, gadis itu pun bergegas mendekatai taksi tersebut dan bersiap untuk naik ke dalamnya.


"Putri," panggil Sonia, yang mana membuat Putri menoleh ke arah sumber suara.


"Ya?" jawabnya dengan kening mengkerut, di saat melihat Sonia berlari kecil ke arahnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Sonia dengan napas yanga ngos-ngosan. Sepertinya wanita itu baru saja habis berlari.


"Aku mau pergi ke tempat teman, ada barang aku yang tertinggal di mobilnya," jawab Putri. "Kenapa?" tanyanya.


"Sepertinya kamu gak bisa pergi, deh," ujar Sonia yang mana membuat Putri semakin mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Putri dengan bingung.


"Itu, bos nyariin kamu. Katanya ada hal penting yang harus di selesaikan saat ini juga," ujar Sonia yang mana membuat Putri sedikit terkejut.

__ADS_1


"Harus sekarang?" tanya Putri memastikan.


"Ya, bahkan aku aja belum ada istirahat lagi," jawab Sonia sambil menghela napasnya pelan.


Tin ...


"Maaf, Buk, ini jadi naik atau tidak?" tanya supir taksi yang mana mengambil atensi Putri dan juga Sonia.


"Emmm, sepertinya tidak, Pak. Maaf kan saya," ujar Putri dan menutup kembali pintu mobil taksi tersebut.


"Ayo, sebaiknya kita bergegas ke ruangan bos," ajak Sonia yang langsung di jawab anggukan oleh Putri.


Sonia dan Putri pun kembali masuk ke dalam gedung, mereka berrgegas berjalan cepat dan menaiki lift yang beruntungnya baru saja tiba di lantai satu itu.


"Gillaa, kerjaannya berat banget di kasih. Sumpahh, gueaja puyeng mikirnya," keluh Sonia sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding lift dan menghela napasnya kasar.


Lagi pula, Sonia tidak memberi tahu tugas apa yang sampai melibatkan dirinya.


"Korupsi," jawab Sonia yang mana membuat Putri mengangguk-anggukukan kepalanya.


"Hanya korupsi saja, toh?" lirih Putri yang mana membuat Sonia kembali menegakkan tubuhnya.


"Gak hanya korupsi, tetapi ini menyangkut dengan pembunuhan dan juga pengedaran narkoba," bisik Sonia yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Apa pelakunya bukan dari kalangan mafia atau orang biasa?" tanya Putri yang di jawab anggukan oleh Sonia.

__ADS_1


"Iya, tapi aku gak bisa bilang siapa orangnya saat ini," bisik Sonia yang sangat di pahami oleh Putri.


Pintu lift pun terbuka, Sonia dan Putri pun keluar dari dalam lift dengan berjalan cepat menuju ruangan sang bos. Saat Sonia membuka pintu, bos mereka pun langsung menyambut kedatangan Putri dan meminta gadis itu untuk segera duduk di bangku yang sudah di sediakan di sana.


"Baiklah, Putri. Jadi, saya akan menjelaskan tentang kasus ini," ujar Pak Rio yang mana membuat Putri harus menahan rasa laparnya.


Di tempat lain.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, Arash yang baru saja ingin bersiap untuk menjemput Putri, tiba-tiba mendapatkan telepon dari atasannya, di mana pria itu harus segera datang untuk membahas rencana penangkapan Yosi. Rasanya ingin sekali pria itu menolak perintah dari atasannya, akan tetapi dia tidak ingin lagi mendapatkan sanksi seperti kemarin, di karenakan dia tidak datang saat rapat penangkapan Yosi sedang di laksanakan.


Arash meraih ponselnya, pria itu hendak menghubungi Putri dan mengatakan jika dirinya akan sedikit terlambat, akan tetapi dia mengurungkan niatnya karena berpikir jika rapat untuk merencanakan penangkapan Yosi pun pasti akan berlangsung sebentar.


"Ah, palingan cuma sebentar aja, seperti biasa," lirih Arash dan kembali menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


Arash pun melangakah kan kakinya menuju ruangan rapat yang ada di dalam kantornya itu.


"Jadi, rencana penangkapan Yosi adalah—" Atasan Arash pun mulai mengatakan apa saja rencana yang bisa anggotanya pakai untuk menangkap pria yang bernama Yosi.


Tak hanya satu rencana yanga mereka bahas, tapi ada beberapa rencana dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Setiap peserta rapat pun di wajibkan untuk menonaktifkan ponsel mereka, atau mematikan nada deringnya, agar bisa fokus kepada pembahasan yang sedang berlangsung saat ini.


Arash sudah bergerak gelisah di saat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, di mana seharunya dia saat ini pasti sedang menikmati makan siangnya dengan Putri. Ingin rasanya Arash meraih ponselnya yang ada di saku celana, akan tetapi pria itu tidak berani melakukannya, karena saat ini yang sedang berbicara adalah atasannya yang terbilang tegas dan tidak ingin ada yang menyela saat dia sedang berbicara.


"Putri, maafin aku," batin Arash sambil menutup matanya sesaat,.


Di dalam hati, Arash pun berniat akan langsung pergi dari ruang rapat, di saat rapat ini telah berakhir. Namun, rencana hanya tinggal rencana, karena jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan mereka pun langsung bergerak untuk menangkap Yosi.

__ADS_1


Arash pun berniat untuk mengembalikan paper bag milik Putri yang ada di dalam mobil pria itu malam ini, di saat dirinya sudah selesai bertugas.Tak lupa pula, Arash meminta kepada Jo untuk menjemput gadis itu, agar Putri tidak pulang kerja dengan menggunakan taksi.


__ADS_2