
"Seribu tangkai bunga mawar?"
Quin menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Iya, seribu tangkai."
Arash pun menghela napasnya dengan pelan. Seribu tangkai bunga mawar merah harus dia berikan kepada Putri. Tapi, apakah dengan seribu tangkai bunga merah bisa membuat pujaan hatinya itu bisa memaafkannya?
"Mbak yakin? Kalau Putri bakal maafin aku?" tanya Arash memastikan.
"Iya, Mbak yakin seratus persen. Putri pasti bakal memaafkan kamu, kok."
Lagi, Arash menghela napasnya dengan pelan. "Seribu tangkai bunga mawar? Hmm, aku rasa itu bukan ide yang buruk."
Arash pun menyuruh Toto untuk memesan setangkai bunga mawar mewar.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Quin yang melihat sang adik sudah bangkit dari duduknya.
"Iya, aku akan meminta maaf kepada Putri secepatnya."
"Oke, semoga sukses ya."
Arash pun berlalu, pria itu melangkah dengan besar untuk bergegas sampai ke dalam mobil. Suara ponsel Arash pun berbunyi, pria itu segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari sang asisten.
"Ya, To?"
__ADS_1
"Pak, bunganya sudah saya pesan. Ini Bapak bunganya mau saya antar ke mana?" tanya Toto.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Arash yang sudah berada di dalam mobil.
"Saya sedang menuju ke tempat penjual bunganya, Pak."
"Kamu kirim saja alamatnya di mana, nanti biar saya yang datang ke sana," titah Arash.
"Baik, Pak."
Panggilan pun berakhir. Tak butuh waktu lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Arash, tidak usah di tanya lagi siapa si pengirim pesan, karena pastinya adalah Toto.
Arash membaca alamat di mana Toto memesan bunga, pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke tujuan.
Di tempat lain.
"Ternyata usaha kamu untuk meminta maaf, hanya sebatas sebuah pesan singkat?" kesal Putri dan melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
"Seharusnya kamu berkali-kali mengirim pesan dan mencoba menghubungi aku. Walaupun aku menolak dan mencekik kamu, tetapi kamu harus tetap berusaha untuk meminta maaf," kesal Putri sambil menunjuk-nunjuk ke arah ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Masa cuma sebuah pesan singkat aja, sih? Dasar pria nyebelin," pekik Putri dan melempar ponselnya dengan bantal.
Putri kembali berdecak kesal. Untungnya hari ini adalah hari liburnya, jadi dia tidak perlu ke kantor dengan perasaan yang sedang tidak baik.
__ADS_1
Putri menatap cincin yang ada di tangannya. Di mana cincin itu adalah cincin pertunangannya dengan Arash.
"Arash nyebelin," kesal Putri dan berusaha melepaskan cincin tersebut. Sayangnya, usaha Putri seakan sia-sia. Gadis itu tidak bisa melepaskan cincin yang sudah melingkar dan menghiasi jari manisnya.
"Seharusnya kamu berusaha untuk membujuk aku, Arash," lirih Putri dengan perasaan kesal, sedih, dan marah.
"Lihat saja, aku akan benar-benar tidak memperdulikan kamu. Aku akan mengabaikan kamu berhari-hari, hingga kamu benar-benar merasa bersalah."
Ya, itulah janji Putri kepada dirinya sendiri. Namun, jika dia melihat Arash datang dengan membawa seribu tangkai bunga mawar, apakah dia akan luluh dan tetap mendiamkan Arash?
Kembali ke toko bunga.
"Bapak yakin?" tanya penjual bunga tersebut.
"Ya, saya yakin."
Penjual bunga pun terpaksa membuka kembali rangkaian seribu bunga mawarnya, dan memberikan setangkai bunga mawar kepada Arash, seperti apa yang pria itu minta.
"Terima kasih," ujar Arash dan membayar bunga yang telah dia pesan.
"Sama-sama, Pak."
Arash pun mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel, pria itu pun melirik sekilas kearah setangkai bunga mawar yang akan dia berikan kepada Putri.
__ADS_1
"Semoga kamu suka dengan kejutan yang aku berikan, Put."
Akankah Putri menyukai kejutan yang Arash berikan? Dari seribu tangkai bunga mawar, menjadi satu tangkai bunga mawar.