Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 335


__ADS_3

Keberangkatan Sifa ke London selama tiga tahun, membuat Abash merasa uring-uringan dari tadi malam. Tetapi, pria itu tidak menunjukkan kesedihan dan kegalauannya itu. Abash berusaha untuk tegar, agar Sifa tidak merasa bersalah atas kesedihannya.


"Sifa, Mama bakal kangen banget sama kamu," ujar Mama Kesya sambil memeluk calon menantunya itu.


"Iya, Ma. Sifa juga bakal kangen juga sama Mama."


Kedua wanita berbeda generasi itu pun masih berpelukan, melepaskan rasa rindunya yang mulai terasa.


"Ma, Quin mau peluk juga," ujar Quin sambil memeluk tubuh Mama Kesya dan juga Sifa.


Ketiga wanita itu pun terkekeh pelan.


"Gantian dong," tegur Mami Vina yang tidak mau kalah.


Quin, Mama Kesya, dan Sifa pun merelai pelukannya. Gantian Mami Vina yang saat ini memeluk Sifa.


"Cepat selesain kuliahnya, jangan buat Abash menunggu lama, ya?" bisik Mami Vina yang di jawab anggukan oleh Sifa.


Setelah Mami Vina merelai pelukannya, Naya pun merentangkan tangan dan memeluk tubuh Sifa.


"Aku bakal kehilangan teman shopping dan gosip kalau kamu pergi," lirih Naya.


"Kita bisa berbincang melalui video call," sahut Sifa.

__ADS_1


"Hmm, hanya bisa video call. Gak bisa shopping," lirih Naya lagi.


Bagaimana dia tidak merasa sedih, dulu ada Putri yang akan mengisi waktu luangnya, jika Sifa dan Luna tidak bisa menemani. Tapi saat ini? Luna sibuk dengan kerjaannya, di mana saat ini pasien kanker anak semakin bertambah banyak. Sedangkan Putri? Gadis itu sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dan saat ini, Sifa juga akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Naya berharap, agar Sifa bisa cepat kembali.


Setelah semua orang berpamitan, kini waktunya Sifa untuk berangkat.


"Sifa ..."


Suara bariton yang akhir-akhir ini jarang terdengar pun, membuat semua orang yang ada di bandara, menoleh ke arahnya.


"Arash?" lirih Mama Kesya dengan mata yang semakin basah.


Arash tersenyum, pria itu berjalan mendekat ke arah Sifa dan memberikan sebuket cemilan kesukaan gadis itu.


Sifa pun mengambil buket cemilan yang ada di tangan Arash. "Terima kasih banyak, Mas."


"Hati-hati ya, cepat selesaikan kuliah kamu, biar kembaran aku gak nangis setiap malam karena rindu," canda Arash dengan tersenyum lebar.


Melihat senyuman Arash, membuat ada rasa sesak di dalam hati Mama Kesya, di mana wanita paruh baya itu tau, jika Arash sedang mencoba baik-baik saja saat ini.


"Iya, Mas. Aku akan berusaha cepat menyelesaikan studi ku," sahut Sifa sambil melirik ke arah Abash.


"Harus itu, sayang," jawab Abash sambil mengelus kepala Sifa dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit dulu, Mas," izin Sifa kepada Abash yang di angguki oleh pria itu.


"Mas, Ma, Pa, Mi, semuanya. Sifa pamit, ya. Doain Sifa agar selamat sampai tujuan dan bisa kembali dengan membawa gelar dan dapat membanggakan semuanya," ujar Sifa menahan air matanya.


Sifa pun berbalik dan masuk ke dalam bandara, karena pesawat yang akan dia naiki sudah di umumkan keberangkatannya.


"Sifa, aku harap kamu tidak pergi seperti Putri," batin Arash saat pria itu terus menatap punggung Sifa yang semakin menjauh.


Di Negara lain.


"Hatchiim ..."


"Miska, are you oke?" tanya manager restoran cepat saji itu.


"Yah, I'm oke. Hatchiim ..."


"Miska, you should go home and rest now," titah manager.


"But---"


"No objection," potong manager sambil mengangkat tangannya, menyuruh Putri untuk diam.


Putri menghela napasnya pelan dan terpaksa mengikuti perintah managernya itu. Padahal, dia benar-benar merasa baik-baik saja. bahkan dia tidak merasa sedang dulu saat ini. Hanya saja, kenapa tiba-tiba Putri terus bersin-bersin?

__ADS_1


__ADS_2