Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 153 - Ancaman Tuan Robert


__ADS_3

Hari di mana yang di nanti oleh Sifa pun tiba. Gadis itu sudah berpenampilan rapi dan terlihat menarik. Baju pemberian Quin saat ini telah melekat sempurna di tubuh Sifa.


"Woow, siapa ini?" goda Abash seolah-olah tak mengenali Sifa.


"Apaan sih, Mas," lirih Sifa dengan malu-malu.


Abash menarik pinggang Sifa agar jarak di antara mereka berdua pun terkikis.


"Cantik banget sih, kamu? Jadi gak rela jika orang-orang lihat kamu cantik begini," bisik Abash yang mana membuat Sifa memukul pelan dada sang kekasih.


"Jangan gombal, Mas. Masih pagi," ujar Sifa dengan malu-malu.


"Siapa yang gombal? Aku serius." Abash pun menghela napasnya dan memeluk erat tubuh sang kekasih.


"Aku berharap kamu lulus, itu hanya lima puluh persen saja, karena yang lima puluh persennya lagi berharap jika kamu gak lulus."


"Kok gitu? Iissh, jahat banget kamu, Mas" rengek Sifa dalam pelukan Abash.


"Karena aku gak sabar ingin mempersunting kamu jadi istri aku, Sifa," bisik Abash dan mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Sifa.


Sifa diam, sebenarnya dia juga ingin menjadi istri Abash, tetapi dirinya telah bersumpah dan bertekad jika ingin menunjukkan ke orang-orang yang telah meremehkan dirinya, jika dia mampu meraih kesuksesan tanpa bantuan siapa pun.


"Kok diam? Kenapa?" tanya Abash dan merelai pelukan mereka.


Sifa terlihat menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang sedih. "Maafin aku, Mas," lirihnya pelan.


"Maaf? Maaf kenapa? Kenapa kamu meminta maaf?"


"A-aku ..." Sifa bingung harus menjawab apa.


Awal hubungan ini terjalin, dia sudah mengatakan kepada Abash jika gak ingin ada seorang pun yang mengetahui hubungan mereka, karena Sifa ingin menunjukkan kepada orang-orang yang sudah meremehkan dirinya, bahwa dia mampu meraih kesuksesan dengan kemampuannya.


Abash yang paham dengan kegundahan Sifa pun, menangkup wajah gadis itu dan menengadahkan wajah Sifa menghadap ke arahnya.


"Maafin aku, karena selalu membahas pernikahan. Aku hanya ingin kamu tau, kalau aku serius dalam menjalin hubungan ini, bukan hanya karena mengisi waktu luang dan menghempaskan status jomblo," bisik Abash sambil mengusap lembut pipi Sifa dengan jari jempolnya.


"Aku mencintai kamu, Sifa. Karena kamu wanita yang hebat. Wanita yang mampu membuat hati ini yang beku, menjadi cair. Aku mengagumimu, dengan semua yang kamu miliki. Aku mengajak kamu menikah, karena aku takut kamu akan bosan denganku dan berpaling ke pria yang lain. Aku gak bisa menggombal, merayu, atau pun membuat lelucon yang bisa bikin kamu selalu tertawa, aku pria kaku yang tak memiliki ekspresi. Aku sangat mencintai kamu, Sifa, dan ingin menjadikan kamu milikku, sebelum kamu merasa bosan denganku dan memilih pergi."

__ADS_1


Hati Sifa merasa terenyuh, dia tak menyangka jika Abash sangat takut kehilangan dirinya. Tapi, bisakah Sifa mempercayai semua ucapan sang kekasih? Sedangkan mereka baru saja saling mengenal.


Tidak, Sifa harus percayakan dengan Abash. Karena pria itu mencintai dirinya dan juga cinta pertamanya.


"Aku gak akan meninggalkan kamu, Mas. Karena kamu cinta pertama aku."


Sifa sedikit berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Abash. Rasanya ingin mengecup bibir pria itu, tetapi malu.


Abash tersenyum di saat mendapatkan sebuah kecupan di pipi, di tambah lagi melihat wajah malu-malu sang kekasih.


"Terima kasih, Sifa. Karena telah menjadikan aku cinta pertama kamu."


Abash pun menundukkan wajahnya hingga bibirnya menempel sempurna di bibir Sifa. Tak butuh waktu lama bagi Abash untuk menunggu balasan, karena gadis itu langsung membuka mulutnya dan membalas ciuman sang kekasih.


*


"Semangat ujiannya. Ingat, kamu harus fokus dan jangan sampai ada yang tertinggal sedikit pun, oke?" Abash mengusap lembut rambut Sifa.


"Iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu aku duluan ya, Mas," pamit Sifa dan turun dari mobil.


Di luar mobil, sudah ada tukang ojek wanita yang sengaja Abash bayar untuk mengantarkan sang kekasih hingga ke kantor.


Tidak, Amel tidak mengetahui yang sebenarnya. Dia hanya melihat jika Abash dan Sifa selalu menghabiskan waktu hingga pagi, sehingga membuat gadis itu menyimpulkan jika mereka tinggal bersama.


"Dasar pelacur," desis Amel gak suka.


Gadis itu pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


*


Abash menatap tak suka kepada pria yang ada di hadapannya saat ini. Sebenarnya bisa saja dia melaporkan balik atas tindakan pria paruh baya yang sedang tersenyum lebar di hadapannya atas tuduhan mengganggu privasi seseorang.


"Saya hanya minta, jika anak saya bekerja di sini. Apa itu salah?" ujar Tuan Robert dengan tersenyum lebar.


"Apa tujuan Anda sebenarnya, Tuan Robert?" tanya Abash dengan tenang.


"Tidak ada. Saya hanya ingin menuruti permintaan putri satu-satunya yang saya miliki, yaitu dia ingin bekerja di perusahaan kamu."

__ADS_1


Bukannya Abash tak tahu maksud dan tujuan dari Tuan Robert, yang mana pria tua itu menginginkan dirinya menjadi suami dari anak simpanannya.


"Saya tidak bisa menerimanya," tolak Abash.


"Ayolaah.. ini hanya memasukkan putri saya ke perusahaan Anda. Biarkan dia belajsr banyak di sini, sebagai bekal nanti saat memimpin sendiri perusahaannya nanti."


"Tetap saja, saya tidak bisa." tolak Abash.


"Hmm, baiklah. Kalau begitu jangan salahkan saya, jika nama baik gadis ini akan tercemar," kekeh Tuan Robert.


"Jangan main-main Anda sama Sifa," heran Abash mencoba untuk tetap tenang.


"Kenapa? Apa dia simpanan Anda?" ejek Tuan Robert.


Abash mencoba berpikir cepat. Dia tak menyangka, jika kolega sang papa selama ini, bisa bermain licik seperti ini. Abash benar-benar tak menyangka akan hal itu.


"Baiklah, saya terima putri anda bekerja di sini," Ujar Abash kemudian. "Tapi ingat, jangan pernah menyebarkan foto tersebut, atau anda akan menyesal nantinya," ancam Abash.


Pria bangkit dari duduk dan membenarkan jasnya. "Silahkan pergi, urusan kita sudah selesai."


*


Sifa menggoyangkan kakinya untuk menghalau rasa gugup, gadis itu baru saja menyelesaikan sesi awal dalam ujiannya.


"Sifa, tenanglah," ujar Bimo sambil menggenggam tangan Sifa.


"Eh? Ya." Sifa pun menarik tangannya dengan cepat, karena tak ingin memberikan harapan apa pun kepada Bimo.


"Hei, Sifa. Kamu yakin jika kamu bisa lulus?" tanya Lila dengan tatapan yang meremehkan.


"Lila, kamu kenapa sih dengan Sifa? Dari awal Sifa bergabung, kamu terlihat tidak suka," tegur Bimo.


Lila hanya mencebikkan bibirnya dan menatap remeh ke arah Sifa.


"Dasar OB, gayanya tinggi banget, sok pake barang branded segala sekarang, duit dari mana dia kalau gak jadi simpanan?" cibirnya yang masih di denger oleh Sifa.


Perlahan, tatapan mata Sifa pun turun ke baju dan juga celana yang dia pakai.

__ADS_1


"Apa semahal itu harga baju ini?" tebak Sifa.


__ADS_2