
Arash benar-benar tak bisa tidur malam ini. Pria itu pun sedari tadi hanya membolak balikkan tubuhnya dari arah yang satu ke arah nya lain, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bangun dari tidur dan menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Kenapa aku malah mikirin Putri, ya?" lirih Arash sangat pelan sekali.
Aras pun melirik ke arah sang kembaran yang saat ini sudah tertidur dengan lelapanya.
"Apa iya kalau aku sebenarnya jatuh cinta dengan Putri? Bukan denga Sifa?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Ah, gak mungkin aku jatuh cinta sama Putri," lirihnya lagi. "Kalau iya aku jatuh cinta sama Putri, pasti setiap aku berada di dekat dia, jantung aku pasti berdebar-debar." Arash pun menghela napasnya dengan sedikit keras.
"Tapi, kenapa aku malah mikirin dia, ya?"
Arash pun menoleh ke arah Abash yang tiba-tiba berdesis dalam tidurnya. Mungkin pria itu merasa sakit pada bagian tubuhnya. Arash pun berdiri dan menghampiri sang kembaran. Pria itu membenarkan selimut yang di pakai oleh Abash.
"Hmm, seharusnya aku lebih peka di saat mengetahui bahwa Sifa tinggal di apartemen kamu," batin Arash sambil menatap wajah sang kembaran.
Setelah memastikan jika infus yang ada di tangan Abash, kemudian selimut yang di pakai oleh pria itu sudah menutupi seluruh bagian tubuhnya yang kemungkinan akan merasa kedinginan, Arash pun berjalan menuju jendela, di mana pria itu dapat melihat langin di malam ini.
Arash menarik gorden penutup jendela. Cuaca malam ini terlihat sangat bagus, tidak seperti sore tadi. Dia pun menutup matanya dengan kepala yang tersandar di kaca jendela. Bayangan wajah Putri pun terlintas di dalam benaknya, sehingga membuat pria itu kembali membuka matanya.
"Putri? Kenapa aku malah memikirkan dia, sih?" lirihnya pelan.
Arash menatap langit malam yang di hiasi oleh bintang-bintang. Walaupun pria itu tidak merasakan angin yang berhembus pada malam itu, tetapi dapat dia rasakan bagaimana sejuknya cuaca di luar kamar yang sedang dia tempati itu.
"Kamu lagi apa, Put?" tanya nya tanpa sadar.
Arash pun mengernyitkan keningnya, di saat pria itu menyadari jika dia malah bertanya tentang apa yang sedang Putri lakukan saat ini.
"Kamu sudah gila, Arash," lirihnya dengan pelan.
__ADS_1
Arash mencoba menyakinkan hatinya, jika dirinya tidak menyukai Putri, akan tetapi gerak tubuh pria itu berkata lain. Bukti nya, saat ini dia sudah meraih ponsel yang ada di atas meja, kemudian mencari kontak nama Putri di sana. Dia pun mengirimkan sebuah pesan singkat di salah satu aplikasi yang hampir semua rakyat Indonesia menggunakan aplikasi tersebut.
"Put, kamu lagi apa?' send.
Arash pun menatap layar ponselnya, menunggu balasan dari orang yang baru saja dia kirimin pesan. Sudah lima belas menit berlalu, tetapi pesan singkat nya itu belum juga di balas oleh Putri. Arash pun menghela napas pelan dan meletakkan kembali ponsel milik nya ke atas meja.
Wajar saja jika Putri tidak membalas pesan singkat nya, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tentu saja Putri sudah tidur di jam segini. Lagi pula, apa yang Arash harapkan? Berbalas pesan di tengah malam layak nya anak ABG di masa lampau. Di mana hanya jam-jam segini lah, paket pesan singkat dan paket telpon di murah kan. Dan mereka pun rela bergadang demi bisa berkomunikasi dengan kekasihnya itu.
Bolehkah Arash bersyukur jika dirinya berada di masa yang serba ada dan mudah? Bahkan, hanya mengisi paket sekian giga, mau malam, mau subuh, mau pagi, mau siang, mau jam berapa pun, pasti tetap akan bisa menghubungi yang terkasih.
Baru saja Arash ingin merebahkan tubuhnya kembali, tiba-tiba saja suara pesan yang masuk ke dalam ponsel nya, mengambil alih perhatian pria itu.
Arash pun meraih ponsel nya, senyum pria itu langsung terlihat mengembang di saat melihat nama Putri tertera di sana.
"Aku baru selesai solat."
Satu kalimat yang di kirimkan oleh Putri pun membuat perasaan Arash terasa adem.
Tapi, wajar saja sih kalau Arash tidak mengetahui hal itu. Mereka memang tinggal di apartemen yang sama, akan tetapi berada di kamar yang berbeda, kan? Jadi, wajar saja jika Abash tidak mengetahui hal yang satu itu.
Arash pun menegakkan tubuhnya, pria itu kembali mengirimkan balasan pesan singkat kepada Putri.
"Alhamdulillah, kalau boleh tau, kamu minta doa apa?" send.
Arash tersenyum-senyum membaca pesan yang dia kirim kan kepada Putri. Akan tetapi, detik selanjut nya pria itu merasa jika pesan yang dia kirimkan terasa alay. Arash pun bergegas menghapus pesan tersebut sebelum Putri membaca nya.
Cling ....
"Loh, kok di hapus?" tanya Putri dari pesan singkat nya.
__ADS_1
"Gak papa, salah kirim aja tadi," send.
Menurut Arash itu adalah jawaban yang paling tepat untuk menutupi ke alay-an nya.
Cling ...
Sebuah pesan pun kembali masuk, tetapi kali ini bukan pesan singkat yang Putri ketik, melainkan sebuah stiker yang bertulis kan kata-kata yang lucu.
"Percuma di hapus, malaikat sudah mencatatnya."
Arash pun sontak tertawa membaca pesan yang di kirimkan oleh Putri, sehingga membuat Abash yang sedang tertidur pun terbangun.
"Apaan sih lo, Rash? Berisik tau gak sih? Tidur sana, jangan pula lo ketawa begitu, trus si mbah kunti datang ke sini, di kira kamu pasangan nya," ujar Abash dengan suara parau nya dan kembali melanjut kan tidur nya, di mana pria itu sedang bermimpi indah bersama Sifa.
Ya, tentu saja bermimpi indah bersama Sifa, kalau bukan bersama gadis itu, bersama siapa lagi Abash harus bermimpi indah?
Arash pun menutup mulutnya, pria itu pun kembali membalas pesan yang di kirimkan oleh Putri.
"Biarkan malaikat yang mencatat nya, karena sudah tugas nya." send.
Arash pun kembali menunggu balasan dari Putri. Pria itu semakin bersemangat di saat centang abu-abu nya telah berubah warna menjadi biru.
Lima menit terlah berlalu, tetapi Putri belum juga membalas pesan nya, padahal gadis itu sudah membaca pesan nya.
"Kok belum di balas, sih?" gumam Arash pelan agar tidak mengganggu tidur sang kembaran.
Arash terus memantau kontak Putri, di mana status gadis itu masih tertulis online di sana. Lalu, kenapa pesan juga belum di balas?
Sepuluh menit pun kembali berlalu, sehingga membuat Arash kembali mengirimkan pesan kepada Putri.
__ADS_1
"Kok gak di balas?"