
Sifa sedang berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Dia memegangnya wajahnya yang terasa panas tempat memerah akibat godaan dari suaminya tadi.
"Apa yang harus aku lakukan?" Sifa menjadi bingung sendiri. Seharusnya dia lebih banyak lagi melihat video-video dewasa agar dia tidak tersesat.
Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menonton video porno tentu saja tidak akan baik untuknya. Bisa-bisa jika dia sedang on fire dia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Abash.
"Aku pasti bisa."
Sifa berlatih pernapasan di dalam kamar mandi. Wanita itu mencoba mengikuti apa yang disarankan oleh para tetua dan senior pasutri. Masih mencoba mengingat-ingat dengan detil apa saja yang pernah mereka ceritakan dan mereka perintahkan.
"Huuf, baiklah. Aku rasa kamu bisa, Sifa," ujar Sifa kepada dirinya sendiri. Sifa masih menatap dirinya di cermin dan dia mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.
Ditatapnya tubuhnya yang indah, meskipun masih kurang indah-indah seperti gitar Spanyol. Akan tetapi, dia cukup percaya diri dengan bentuk tubuhnya ini.
"Aku harus cepat mandi. Mas Abash pasti sudah menunggu," gumam wanita itu kemudian menyalakan kran air.
Sebenarnya Sifa ingin berendam, tapi dia merasa jika mandi dengan berendam dia akan menghabiskan waktu yang lama dan bisa saja suaminya itu marah jika menunggu lama.
Sifa pun masuk ke dalam bilik kaca dan menyalakan shower. Dia mengenakan banyak sabun karena takut jika Abash akan mencium wangi yang aneh dari tubuhnya.
Dia menyelesaikan mandinya dengan cepat, karena pastinya sang suami juga sudah merasa tidak nyaman dengan tubuh yang terasa lengket. Ya, tau sendiri kan bagaimana Abash yang seorang pembersih?
Sifa keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Perlahan wanita itu mendekat ke arah ranjang di mana suaminya berada. Di saat Sifa keluar dari kamar mandi, Abash menoleh ke arah sang istri dengan tatapan nakal. Senyumnya tersungging menyeringai membuat Sifa sedikit takut.
"Apa di dalam itu polos?" tanya Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya saat suami menunjuk ke arah dirinya. Sontak dia menyilangkan tangannya untuk menutupi tubuhnya itu.
"Jangan melotot begitu, sayang. Lagi pula aku sudah pernah melihat dan mencicipinya, hingga membuat kamu mendesah. Kamu juga masih ingat kan?" goda Abash sambil tertawa dan lagi-lagi menggerakkan alisnya naik turun dengan cepat.
"Maass …" pekik Sifa dan lagi-lagi membuat Abash tertawa karena merasa gemas. Sifa merasa geli dengan ucapan suaminya itu. Rasanya memalukan membahas hal yang seperti ini meski mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Kamu lucu sekali, sayang. Kita sudah sebulan menikah, tapi kamu masih aja malu-malu," kekeh Abash sambil mendekat ke arah Sifa dan mencubit hidungnya dengan gemas.
"Biarin," cibir Sifa kesal dengan bibir yang manyun.
"Tapi malam ini aku tidak akan membiarkan kamu malu-malu, sayang," bisik Abash dan meremas salah satu gundukan yang tertutup oleh handuk kimono. Sifa terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Meskipun dia tahu jika sang suaminya adalah pria yang mesum saat dekat dengan dirinya, tapi tetap saja dia masih merasa kaget jika Abash tiba-tiba saja melakukan hal tersebut.
"Maasss …" pekik Sifa yang mana membuat Abash berlari ke dalam kamar mandi sebelum sang istri menunduk dan melemparkan sandal hotel ke arahnya.
Sifa masih tetap menyilangkan tangannya di depan dada, seolah takut jika Abash akan melakukannya lagi. Padahal, sah-sah saja kan jika sang suami melakukannya? Sudah sah juga kan? Lirikan mata laki-laki itu sebelum masuk ke dalam kamar mandi benar-benar membuatnya ingin marah saja.
Saat Abash sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Sifa menundukkan pandangannya menatap ke arah dadanya. Perlahan, sudut bibir Sifa bergerak membentuk sebuah senyuman.
"Kenapa senyum-senyum, sayang?" tanya Abash yang ternyata kembali mengintip sang istri dari kamar mandi. Sifa terkejut karena Abash sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Maas, kamu belum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi?" tanya Sifa dengan mata yang melotot dan dengan suara yang melengking tinggi.
"Tidak, aku hanya penasaran apa yang akan kamu lakukan jika aku di dalam kamar mandi," jawab Abash menahan tawanya. "Dan ternyata, kamu sangat menyukai sentuhanku, kan?" godanya sekali lagi dengan senyum menyaringai.
"Maass …" pekik Sifa dengan kesal. "Cepat mandi sana, ntar keburu telat buat sholat asharnya," tegur Sifa yang langsung diangguki oleh Abash.
"Baiklah sayang. Aku mandi dulu, ya."
Dan kali ini, Abash benar-benar masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lagi mengintip sang istri. Tentu saja dia akan mandi dengan cepat agar mereka bisa lebih cepat lagi melakukannya. Tidak ada lagi kata tunda menunda. Abash akan mereguk indahnya bulan madu.
__ADS_1
"Dasar mesum," cibir Sifa sambil menyentuh dadanya yang dipegang oleh Abash tadi.
Abash berada di dalam kamar mandi dan tersenyum geli saat mengingat wajah istrinya tadi. Di mana tadi sang istri tengah menunduk seakan menatap buah dadanya yang tadi dia sentuh.
"Aku yakin kalau kamu juga menyukai sentuhanku, sayang."
Dia menatap tangannya yang tadi menyentuh bagian tubuh sang istri. Rasa-rasanya tidak ingin mencucinya, tapi sayangnya dia harus melakukan itu.
"Apa yang aku pikirkan?" Pria itu tersenyum dan mengusap wajahnya, kemudian usapan itu terhenti saat dia menyadari jika tangan tersebut yang dia pakai untuk menyentuh istrinya. Saya kan masih ada aroma sabun yang tertinggal di sana, Abash menghirup wangi aroma tangan tersebut.
"Kenapa aku jadi mesum seperti ini?" Abash merasa aneh sendiri. Dia jadi memiliki pemikiran kotor setelah dekat dengan istrinya. Wajar saja karena mereka kini sudah sah. Dan mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau.
Sifa baru saja selesai sholat ashar, di saat Abash keluar dari dalam kamar mandi. Tubuh laki-laki itu sudah segar dan masih meninggalkan air yang membuat tubuhnya bersinar ketika terkena cahaya lampu. Sifa terpanas menatap suaminya yang semakin tampan saja, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum suaminya menyadari jika dia tengah mengaguminya.
"Sholat, Mas?" tawar Sifa yang diangguki oleh Abash.
Sebelumnya Sifa sudah menyiapkan pakaian Abash dan meletakkannya di atas tempat tidur. Jadi, pria itu tinggal memakai pakaiannya saja tanpa harus repot-repot membuka koper. Dan saat itu juga, Sifa baru tahu, ternyata Abash benar-benar mempersiapkan segalanya. Dari mulai pakaian hingga kebutuhan Sifa yang lainnya, termasuk pakaian dalam. Abash benar-benar memperhatikan semua keperluan Sifa. Dan Sifa benar-benar merasa terharu dan tersanjung dengan apa yang Abash lakukan untuknya. Dia beruntung memiliki suami seperti Abash.
Abash berjalan mendekat ke arah sajadah yang masih terbentang di lantai, kemudian pria itu menghentikan langkahnya di saat Sifa malah berjalan mendekat ke arahnya.
"Mau apa kamu, sayang?" tanya Abash mencoba menghindar dari Sifa. Tangannya reflek terangkat seakan hendak memberikan jarak dirinya dengan sang istri.
"Mau kamu, Mas," ujar Sifa dengan menahan tawanya. Dia tersenyum dan ingin menggoda suaminya.
"Jangan macam-macam, sayang. Aku sudah mengambil air wudhu." Abash pun memperingati sang istri.
"Aku gak macam-macam kok, Mas, hanya satu macam saja." Sifa pun meletakkan telapak tangannya di atas dada Abash, sehingga membuat pria itu terkejut dan menahan napasnya sejenak. Kesal tentu saja. Abash harus mengulang mengambil air wudhunya kembali.
"Takut, ya? hahahha…" tawa Sifa dan berlari menjauhi Abash. Sifa sangat senang sekali menggoda suaminya seperti itu.
Sifa berhenti dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang suami. Berhubung Abash tidak mengejarnya, Sifa pun kembali melanjutkan aktifitasnya menyusun pakaian yang ada di koper untuk di masukkan ke dalam lemari.
"Aaaa …." pekik Sifa terkejut, karena tiba-tiba saja Abash memeluknya dari belakang dengan erat. Kedua tangannya menyentuh dada Syifa yang sempat menggodanya tadi.
Ya, Abash berjalan secara perlahan mendekati sang istri untuk membalaskan dendamnya. Dia akan melakukan apapun sampai Sifa berteriak memohon ampun kepadanya.
"Emm, kenyal, enak," bisik Abash dengan suaranya yang berat. Apa yang dipegang saat ini adalah bagian tubuh favoritnya mulai dari sekarang. Hangat, nikmat, dan menyenangkan. Bak memainkan squishy tangannya tidak mau diam.
"Hhmm, Mas, sho-sholat sana," ujar Sifa sambil menahan pekikan pelan akan kenikmatan yang suaminya berikan di dada. Sifa tidak bisa menahan suara yang keluar dari bibirnya.
"Baiklah, aku akan sholat, tapi setelah menghukum kamu, karena telah membuat aku membatalkan wudhu," ujar Abash tidak mau menyerah dan membalikkan tubuh Sifa menghadap ke arahnya. Ditatapnya sang istri dan tersenyum dengan lebar sehingga Sifa menggelengkan kepalanya menatap takut akan suaminya.
"Aku tidak membatalkan wudhu kamu, Mas, kamu aja yang membatalkannya sendiri." Sifa tidak terima di tuduh membatalkan wudhu sang suami, karena memang nyatanya dia tidak membatalkan wudhu Abash. Sifa menyentuh dada Abash yang terlapisi oleh baju yang pria itu kenakan. Apakah hal itu membuat kesucian diri wudhu suaminya hilang?
Abash menggelengkan kepalanya. "Pokoknya aku tidak mau tau, kamu yang telah membatalkan wudhu aku, sayang," bisik Abash dan membuka semua kancing baju piyama yang Sifa kenakan, sehingga menampilkan dua gundukan kembar yang terlihat kenyal. Tempat favorit Abash di waktu senggangnya.
Abash melahap dua gundukan itu dengan rakus, sehingga membuat sang empu mendesah dan menjambak-jambak rambut Abash dengan sensual. Tangan wanita itu tidak bisa dia kendalikan begitu juga dengan bibirnya yang mengeluarkan suara yang manis di telinga Abash. Sifa tidak tahan dengan apa yang suaminya lakukan.
"Mass. Aahhh."
Setelah puas, Abash pun tersenyum lebar kepada sang istri.
"Kalau begini kan aku bisa semangat buat sholatnya, sayang," ujar Abash dan kemudian berdiri meninggalkan sifat dan kembali mengambil air wudhu di dalam kamar mandi. Tentu saja hal itu membuat Sifa merasa geram. Apa yang telah dilakukan oleh suaminya begitu tanggung menurutnya.
__ADS_1
"Dasar mesum," cibir Sifa menatap kepergian sang suami sambil membenarkan kancing bajunya. Tiba-tiba saja Sifa menyesal karena Abash tidak menuntaskan apa yang tadi ia lakukan.
Abash keluar dari kamar mandi masih dengan senyuman yang lebar menghiasi wajah tampannya itu. Dia begitu puas melihat wajah istrinya yang tadi memerah dan mendesis keenakan.
"Masih mau goda aku, sayang?" tanya Abash dengan tersenyum miring sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Sifa mencebikkan bibirnya dan membuang wajahnya ke arah lain. Dia kembali melanjutkan memasukkan semua pakaian ke dalam lemari. Ya, untuk kali ini Sifa tidak akan menggoda sang suami karena laki-laki itu harus melaksanakan ibadahnya. Jangan sampai dia membuat sang suami menunda salatnya. Untuk kali ini, ya. Tapi gak tau kalau nanti-nanti.
Abash pun melaksanakan sholat ashar, setelahnya pria itu bertadarus sebentar.
"Sayang, mau makan malam di luar apa di kamar aja?" tawar Abash sambil melipat kain sarung yang tadi dia pakai.
"Emm, dimana aja boleh, Mas," jawab Sifa yang sudah duduk di samping sang suami.
"Kita makan di luar aja, ya. Sekalian menikmati suasana malam di pinggir pantai," usul Abash. Dia memikirkan makan malam romantis bersama dengan istrinya.
"Baiklah, Mas. Aku gimana baiknya sama kamu aja. Aku nurut aja sama kamu, Mas," sahut Sifa yang sudah bergelayut manja di lengan sang suami.
"Tapi kamu jangan lupa dengan hukuman kamu loh, sayang. Pakai lingeri yang aku kasih, ya?" bisik Abash di akhir kalimatnya dengan mesra. Sifa mencebikkan bibirnya. Andai Abash lupa dengan hukuman itu.
"Dasar mesum," cibir Sifa pelan yang mana membuat Abash tertawa.
"Mesum-mesum gini suami kamu loh, sayang."
"Dan pokoknya kamu hanya boleh mesum sama aku aja ya, Mas, janji?" Sifa pun menjulurkan kelingkingnya kepada Abash.
"Janji. Aku akan menjadikan kamu satu-satunya hingga kita tua nanti, sayang," jawab Abash sambil menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Sifa.
"Aamiiin. Semoga kita terus bersama hingga tua nanti ya, Mas."
"Aamiin, sayang," jawab Abash. "Oh ya, tadi saat kamu mandi, Mama telpon. Beliau tanyain kamu, sayang."
"Oh ya, kok Mas baru bilang sekarang, sih?"
"Baru ingat, sayang."
"Telpon balik Mama-nya sekarang, Mas," pinta Sifa dengan cepat.
"Kata mama tadi jangan telpon balik. Mama cuma mau tau kabar kamu aja," ujar Abash lagi.
"Ih, gitu banget sih kamu, Mas?" rengek Sifa. "Kenapa tadi kamu nggak manggil aku? Aku kan juga pengen bicara sama mama."
"Aku nggak mau ganggu mandi kamu. Tapi mama tadi ada titip pesan sih sama aku."
"Oh ya? Pesan apa, Mas?" tanya Sifa penasaran.
"Pesan Mama, katanya kamu jangan lupa menerapkan apa yang sudah di ajarkan, ya. Kamu harus dan pasti bisa," ujar Abash memberitahu apa yang sang mama pesankan kepada Abash untuk Sifa.
Sifa terdiam sambil mengerjapkan matanya. Menelan salivanya dengan susah payah.
"Memangnya Mama mengajari kamu apa, sayang?" tanya Abash merasa penasaran. Sifa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mau tau aja kamu, Mas. Ini rahasia perempuan, ya!" tolak Sifa yang enggan untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh sang mama.
__ADS_1
"Sayang!"
"Nggak! No!" tolak Sifa.