
Putri merasa mual di saat perutnya seakan terasa di obok-obok hingga rasanya ingin muntah.
"Mas, aku mau muntah!" ujar Putri dan langsung mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Untungnya perawat yang berasa di dekat Putri sudah sigap memegangi baskom, sehingga membuat Putri muntah di dalam baskom tersebut. Arash mengusap pelan leher sang istri, kemudian mengambil kain kasa yang diberikan oleh perawat untuk mengelap sudut bibir Putri yang basah.
Putri memang tidak memuntahkan makanan, hanya air, ludah yang kental dan angin saja yang keluar dari mulut wanita itu.
"Sudah enakan?" tanya Arash yang diangguki oleh Putri.
"Lumayan, Mas."
Arash melirik ke arah lampu besar yang ada di atas tubuh Putri, di mana di bagian samping-samping lampu tersebut terdapat bayangan samar bagaimana Mbak Anggel melakukan tugasnya sebagai seorang dokter kandungan. Arash melihatnya, walaupun bayangannya terlihat samar, tetap saja Arash dapat mengetahui bagaiman proses melahirkan secara caesar.
Ternyata apa yang ikatakan oleh banyak orang, jika melahirkan caesar itu adalah hal yang tidak menyakitkan dan perjuangannya tidak seperti seorang ibu yang melahirkan secara normal. Semua perkataan yang dia dengar ternyata salah. Mau itu melahirkan secara caesar dan normal, kedua memiliki resiko tinggi yang sama. Andai saja obat bius yang ada pada tubuh pasien tiba-tiba saja menghilang, pastinya merasakan rasa sakit saat di daging di potong dan buka dengan lebar sangatlah menyakitkan. Arash tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit itu, andai saja tidak ada obat bius yang bisa menghilangkan rasa sakit tersebut.
Arash berjanji kepada dirinya sendiri, jika dia tidak akan pernah menyakiti perasaan Putri. Perjuangan wanita itu untuk memberikan gelar ayah kepada sungguh sangat luar biasa. Bahkan, andai saja dirinya menggantikan posisi Putri saat ini, mungkin dia tidak akan mampu menahan rasa sakit, pegal, mual, dan kesusahan bergerak selama sembilan bulan, kemudian menghadapi proses melahirkan lagi. Tidak, Arash mungkin tidak akan sanggup menghadapi semua itu.
Arash pun teringat akan dosa-dosanya kepada sang mama. Dia berjanji, jika dirinya akan menuruti semua perkataan sang mama. Ya, akan menuruti semua perkataan dan permintaan sang mama, karena akhirnya dia tahu bagaimana besarnya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya ke dunia.
"Mas, kamu lihat apa?" tanya Putri yang mengambil atensi Arash.
Putri sudah melihat ke arah pandang Arash, dia penasaran dengan apa yang diperhatikan oleh suaminya itu.
"Tidak ada, sayang. Tidak ada apa-apa. Aku tidak melihat apa-apa," ujar Arash cepat dan mengambil atensi Putri kembali, agar sang istri tidak melihat apa yang baru saja dia lihat dengan samar.
Beberapa detik kemudian, Putri kembali merasakan hal yang sama di saat perutnya terasa di obok-obok kembali. Tapi kali ini perasaan itu sedikit berbeda dari sebelumnya, mana kali ini di saat sesuatu dari perutnya terasa keluar, saat itu juga Putri merasa lega. Rasa ingin muntah dan mual pun seketika juga melenyap begitu saja.
Dan, bersamaan dengan rasa lega yang Putri rasakan tadi, saat itulah dia mendengar sebuah tangisan dari bayi mungil. Tangisan yang begitu sangat kencangnya sehingga memenuhi ruangan operasi tersebut.
"Selamat ya, Rash, putra kalian telah lahir dengan kondisi sempurna," ujar Mbak Anggel memberitahu.
__ADS_1
"I-itu benaran suara anak kita, Rash?" tanya Putri yang dijawab anggukan oleh Arash.
"Iya, sang. Itu suara anak kita. Suaranya begitu lantang dan terdengar sangat merdu," jawab Arash dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, ya Allah," ujar Putri lirih dengan air mata yang berlinang deras.
"Iya sayang, alhamdulillah."
Arash dan Putri pun serentak mengucap rasa syukur, karena akhirnya buah cinta mereka telah lahir ke dunia.
Arash menggenggam tangan Putri dengan kuat dan hangat, pria itu tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Terima kasih, sayang, terima kasih karena sudah berjuang sebesar ini untuk melahirkan anak kita," ujar Arash dan mencium punggung tangan Putri dengan penuh cinta.
"Iya, Rash, terima kasih juga karena kamu telah menemani aku di sini."
Arash pun menghujani Putri dengan ciuman yang bertubi-tubi di wajah wanita itu.
"Terima kasih, sayang, terima kasih banyak. Karena kamu telah berjuang sampai sejauh ini. Terima kasih banyak, sayang," ujar Arash dengan mata yang basah.
"Ya, Mbak?"
"Sebaiknya kamu ambil air wudhu dulu, ya, biar bisa azanin bayinya," titah Mbak Anggel yang diangguki oleh Arash.
"Iya, Mbak."
Arash pun berlalu dan meninggal Putri bersama tim medis serta Mbak Anggel.
"Put, ini bayi kamu. Tampan dan sehaat," ujar Mbak Anggel dan meletakkan bayi mungil itu di atas dada Putri.
"Hiks … terima kasih banyak, Mbak." Putri pun menatap wajah sang bayi yang terlihat sedang mencari sesuatu di sana. Ya, mencari sumber air yang akan membuatnya tumbuh semakin sehat.
__ADS_1
"Asi yang pertama kali keluar adalah air yang paling baik, Put. Dan juga, dia harus tahu aroma khas dari sang ibu. Tapi sebenarnya, setiap bayi yang lahir sudah mengenali detak jantung ibunya. Karena saat di dalam perut, pastinya dia selalu mendengar detak jantung kamu yang berdetak."
"Iya, Mbak."
Tak berapa lama Araash kembali, pria itu sudah mengambil air wudhu dan siap untuk mengazani sang putra. Mbak Anggel pun mengambil kembali bayi mungil tersebut yang ada di atas dada Putri, kemudian memberikannya kepada Arash.
"Pelan-pelan, Rash," ujar Mbak Anggel sambil memberikan bayi mungil itu ke dalam gendongan Arash.
"Iya, Mbak."
Saat bayi mungil itu sudah berada di dalam gendongan Arash, pria itu pun mulai melantunkan suara azan do telinga kanan bayinya, sehingga membuat suasana di ruangan operasi itu pun menjadi hening.
Di luar kamar operasi.
Seluruh keluarga langsung mengucap rasa syukur di saat mendengar kabar jika Putri telah melahirkan bayi yang sehat dan selamat. Keduanya juga memiliki kondisi yang baik-baik saja.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allha," ujar Mama Nayna dengan lirih.
"Selamat ya, Mbak, sekarang sudah menjadi nenek," Mama kesya pun menghampiri besannya itu.
"Iya, Mbak, selamat juga buat Mbak Kesya, karena sudah bertambah cucu lagi," sahut Mama Nayna.
"Selamat untuk kita semua, Mbak." Mama Kesya dan Mama Nayna pun saling berpelukan, meluapkan rasa bahagia ini secara bersamaan.
"Selamat, Mas, sudah jadi kakek," ujar Papa Arka kepada Papa Satria.
"Iya, selamat juga untuk kamu, Ka, karena sudah semakin tua," sahut Papa Satria yang di sambut gelak tawa oleh Papa Arka.
Semua orang yang berada di sana pun saling berpelukan dan mengucapkan selamat atas julukan baru yang mereka dapatkan.
Sifa mengusap sudut matanya yang terasa basah, wanita itu merasa ada sesuatu yang mencubit relung hatinya di saat melihat tawa dan senyuman bahagia yang di pancarkan oleh Mama Kesya dan Papa Arka.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, insya Allah giliran kita yang akan memberikan tawa bahagia itu di wajah mama dan papa," bisik Abash yang sangat memahami apa yang dirasakan oleh sang istri.
"Iya, Mas, semoga saja saat itu segera datang."