
Keadaan Putri sudah kembali stabil, Mama Nayna bisa bernapas lega saat ini. Untungnya Papa Satria datang di saat waktu yang tepat.
"Ma, jangan terlalu menyalahkan Zia dengan apa yang terjadi terhadap Putri," bisik Papa Satria.
"Pa, apa menurut Papa Zia tidak keterlaluan? Bagaimana bisa dia enggan untuk mendonorkan darahnya untuk Putri?" lirih Mama Nayna penuh dengan kekecewaan.
"Ma, apa Mama tidak sadar? Jika sifat Zia berubah seperti ini juga karena kita?" tanya Papa Satria.
"Apa maksud apa?"
"Ma, Zia sebelumnya sudah merasa kecewa dengan kita. Selama hampir dua tahun ini, Mama diam-diam hanya memikirkan Putri dan mencari keberadaannya."
"Ya itu karena filling Mama mengatakan jika Putri masih hidup, Pa," sahut Mama Nayna.
"Apa Mama bisa merasakan bagaimana menjadi Zia saat itu?" tanya Papa Satria.
Mama Nayna mengernyitkan keningnya, masih meraba-raba dengan apa yang di katakan oleh Papa Satria.
"Ma, Zia sedang kecewa dengan ketidakadilan yang telah kita perbuat. Tanpa sengaja, kita telah melukai perasaannya, Ma. Mama adalah ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan, tapi fokus Mama hanya ke Putri saja yang saat itu kita pikir telah tiada," ujar Papa Satria.
"Zia merasa jika kehilangan mama-nya yang dulu, yang memberikan perhatian dengan penuh kasih sayang. Mama tau, saat kita baru tiba di London, Zia ternyata sedang kedatangan tamu bulanannya. Perut Zia keram dan sakit tidak seperti biasanya. Zia sampai harus di rawat, Ma. Tapi kita tidak tahu akan hal itu, kita terlalu sibuk dengan Putri. Dan saat Bara mengatakan jika Zia sedang di rawat, Mama mengabaikannya dan sekalipun tidak melihat keadaan Zia. Apa Mama menyadari akan hal itu?" tanya Papa Satria.
__ADS_1
Mama Nayna terdiam, wanita paruh baya itu pun seolah baru mendapatkan ingatannya kembali. Mama Nayna kembali teringat di saat Bara menghampirinya dan mengatakan jika saat itu Zia sedang di rawat di IGD, tapi Mama Nayna malah diam dan memilih duduk di samping Putri yang sedang tidak sadarkan diri. Padahal, bisa saja Mama Nayna pergi dari kamar Putri untuk melihat keadaan Zia. Lagi pula yang menjaga Putri bukan hanya Mama Nayna saja, ada Arash, Mama Kesya, dan juga Sifa. Bahkan, para pria lainnya juga stand by menunggu di luar ruangan Putri.
Tapi, apa yang telah Mama Nayna lakukan? Mama Nayna malah mengabaikan putri bungsunya.
"Saat Papa mengajak Mama untuk tidur di hotel menemani Zia. Mama menolaknya dan memilih untuk menemani Putri. Apa Mama mengingatnya dan menyadari akan kesalahan Mama yang telah menorehkan luka di hati Zia?" tanya Papa Satria. "Saat itu Zia masih sakit, Ma. Perutnya masih keram sehingga membuat suhu tubuhnya demam. Papa dan Bara sampai berjaga untuk mengompres perut Zia, tapi tetap saja, yang diharapkan oleh Zia adalah kehadiran mamanya. Tapi Mama tidak berada di saat Zia membutuhkan Mama. Apa Mama masih mau menyalahkan Zia atas rasa kecewa yang putri bungsu kita rasakan, Ma?" tanya Papa Satria.
Mama Nayna terdiam, apa yang di katakan oleh Papa Satria ada benarnya. Seharusnya Mama Nayna tetap bisa bersikap adil, walaupun saat ini keadaan tidak terlalu mendukungnya. Tapi, memang apa yang di katakan oleh Papa Satria ada benarnya, jika rasa kecewa dan kebencian Zia terhadap Putri, muncul karena sifat keegoisan Mama Nayna.
"Pa, Mama salah, hiks ..." tangis Mama Nayna yang tidak bisa terbendung lagi.
Papa Satria pun langsung memeluk tubuh istrinya itu. "Mama tenangkan diri Mama dulu, nanti kalau sudah tenang, baru Mama temui Zia dan berbicara dengannya.
Di tempat lain.
"Iya, Dek. Mas akan memesankan tiket untuk kamu kembali pulang. Tapi, Mas tidak akan membiarkan kamu pulang dalam keadaan seperti ini, Dek. Tidak akan. Kamu harus tenang dulu, baru Mas akan memesankan tiket untuk kamu. Mas akan ikut pulang bersama kamu, Dek," bisik Bara menenangkan Zia.
"Aku mau pulang, Mas, hiks .. aku mau pulang."
Zia tidak bisa melupakan apa yang telah Mama Nayna lakukan terhadapnya. Di mana wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia dan membesarkan dirinya penuh dengan cinta, untuk pertama kalinya memukul dirinya. Selama ini, Mama Nayna tidak pernah bermain tangan atau memukul anak-anaknya. Bahkan, mencubit saja Mama Nayna tidak pernah melakukannya. Tapi kali ini?
"Sstt ... jangan menangis lagi, Dek. Mas ada di sini," bisik Bara dan mengecup pucuk kepala Zia dengan penuh kasih sayang seorang abang untuk adiknya.
__ADS_1
*
Dokterr telah mengatakan jika kondisi Putri telah kembali stabil, tak lupa dokter juga meminta kepada para keluarga untuk berdoa, agar ada keajaiban untuk kesembuhan Putri.
"Pa," tegur Bara, sehingga mengambil atensi semua orang yang ada di sana.
"Bar, mana Zia?" tanya Mama Nayna langsung.
"Zia ada di hotel, tapi Zia menolak untuk bertemu dengan Mama," ujar Bara dengan berat hati harus mengatakan hal tersebut.
Arash yang mendengar apa yang di katakan oleh Bara pun, merasa semakin geram terhadap calon adik iparnya itu. Bagi Arash, keselamatan Putri adalah yang terpenting saat ini. Tapi, sebagai seorang adik, bagaimana bisa Zia mengatakan untuk Putri, agar wanita itu lebih baik mati?
Pria yang mana yang bisa menerima perkataan seperti itu untuk kekasihnya. Walaupun perkataan itu keluar dari mulut saudara sedarah calon istrinya sekalipun. Bagi Arash, hal itu tidak seharusnya tidak pantas di katakan oleh Zia untuk kakak yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Tanpa Arash menilai, bagaimana perasaan Zia saat ini. Arash pun mulai menyalahkan adik dari calon istrinya itu, jika terjadi sesuatu kepada Putri.
Arash bangkit dari duduknya, dada pria itu merasa sesak di saat mendengar nama Zia. Arash membutuhkan udara segar saat ini. Pria itu pun melangkahkan kakinya menuju taman rumah sakit.
"Haaahh ..."
Arash menoleh saat mendengar helaan napas dari seorang wanita. Pria itu mengernyitkan keningnya di saat melihat Zia menutup mata dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman.
"Apa yang dia lakukan di sini? Bukannya dia berada di hotel?" gumam Arash yang merasa kesal saat melihat Zia.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki pria itu, sehingga membuat Arash melangkahkan kakinya untuk menghampiri Zia.
"Apa kamu merasa kecewa? Karena Putri kembali terselamatkan?" ujar Arash sehingga membuat Zia menoleh ke arahnya.