
Melihat Sifa mengusap keningnya dengan bibir yang di manyunkan, membuat Abash merasa bersalah karena telah menyentil kening gadis itu.
"Apa itu sakit?" tanya Abash yang mana tangan pria itu sudah terulur menyentuh kening Sifa.
"Hah?"
Sifa terkesiap dan terdiam membeku, di saat merasakan tangan besar dan hangat mengusap keningnya. Hembusan napas Abash yang meniup kening gadis itu pun, membuat seluruh tubuh Sifa meremang, bahkan jantungnya sudah berdisco ria di dalam sana.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Abash dan menatap ke dalam mata Sifa, di mana gadis itu saat ini sedang memandang ke arahanya.
"I-iya," lirih Sifa dengan suara yang halus.
Sifa menahan napasnya, di saat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Abash, gadis itu pun juga ikut menelan ludahnya dengan kasar, karena merasakan gugup yang sangat luar biasa.
Tangan Abash yang berada di kening Sifa, perlahan turun dan mengusap lembut pipi gadis itu, sehingga mebuat Sifa perlahan menutup matanya di saat wajah Abash semakin mendekat ke arah wajahnya.
Cling ... Cling ... Cling ...
Mednegar suara ponselnya berbunyi, Sifa membuka matanya dan mendorong pelan tubuh Abash. Gadis itu merogoh tasnya mencari di mana keberadaan ponsel jadulnya itu.
Sifa menarik napasnya di saat membaca nama Amel tertera di layar ponselnya. Dengan cepat, gadis itu pun menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Mel!"
"Hei, Sifa. Kamu di mana sekarang?" tanya Amel dari seberang panggilan.
"Aku ... Aku lagi di perjalanan menuju kantor. Kenapa?" tanya Sifa sambil melirik ke arah Abash yang sudah menatap lurus ke depan.
"Tidak, siang ini kamu jadi konsul kan?" tanya Amel.
"Iya, siang ini jadwal aku konsul ke dosen. Makasih ya udah ingatin, sebenarnya aku udah lupa dengan jadwal konsul aku," kekeh Sifa dengan pelan.
"Hmm, itu karena kamu terlalu sibuk bekerja. Ayo, terima kasih kepada sahabatmu ini."
"Iya, terima kasih ya, Mel, udah ingatin aku buat konsul siang ini. Kamu memang sahabat aku yang paling terbaik."
__ADS_1
"Iya. Ya udah kalau gitu, sampai ketemu siang nanti ya," ujar Amel.
"Iya, sampai ketemu siang nanti."
"Bye, Sifa." Amel pun memutuskan panggilannya setelah mendengar balasan dari Sifa.
"Siapa?" tanya Abash yang mana membuat Sifa terkejut dan kembali menyadari keberadaan Abash di sebelahnya.
"Oh, teman kampus saya. Bapak pernah bertemu dengannya saat itu," ujar Sifa.
"Kapan? Saya gak ingat."
"Itu, saat saya pingsan di kampus," Sifa pun mengingatkan di mana Abash pernah bertemu dengan Sifa.
"Oh,"
"Terus, saat kita makan siang di cafe, setelah kami selesai dari kuliner makanan," ujar Sifa kembalia mengingatkan.
"Oh, itu. Hmm, saya gak terlalu ingat," cicit ABash.
Sifa pun menghela napasnya dengan pelan, gadis itu pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Hmm," jawab Abash dengan gumaman.
Sifa pun membuka pintu mobil dan turun dari sana, gadis itu menutup mobil secara perlahan dan tak lupa menundukkan sedikit kepalanya kemudian melambaikan tangan kepada Abash, sebelum pria itu melajukan kembali mobilnya.
Sifa menghela napasnya pelan, matanya masih menatap ke arah mobil Abash yang perlahan semakin menjauh darinya.
"Hmm, apa itu tadi? Apa Pak Abash mau cium aku lagi?" lirlih Sifa dengan gerakan tangan yang reflek menyentuh bibirnya.
Tak jauh dari tempat Sifa berdiri, Amel mengepalkan tangannya dengan erat, di saat melihat jika Sifa turun dari mobil Abash.
"Bagaimana bisa?" lirih Amel dengan menatap kesal ke arah Sifa.
Beberapa menit yang lalu, Amel yanga ingin melihat Abash dari kejauhan sebelum pergi ke kantor sang ayah, gadis itu melihat mobil Abash yang berhenti di tengaha jalan. Amel pun menyuruh sang supir untuk menghentikan mobil dengan jarak yanga tak terlalu jauh, akan tetapi tidak juga di curigai oleh Abash.
__ADS_1
Sambil menunggu mobil Abash kembali berjalan, Amel pun teringat akan Sifa yang siang ini memiliki jadwal konsul dengan dosen untuk skripsinya, maka dari itu, sebagai sahabat yang baik, Amel pun menghubungi Sifa dan mengingatkan gadis itu untuk tak lupa dengan jadwal konsulnya dengan dosen killer.
Setelah menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, Amel pun melihat ada seseorang yang turun dari mobil, membuat gadis itu mengernyitkan keningnya dan penasaran dengan orang yang baru saja turun dari mbil Abash.
"Siapa dia?" lirih Amel.
Saat mobil Abash telah melaju pergi, Amel pun dapaty melihat siapa yang baru saja turun dari mobil pria yang dia cintai dalam diam itu.
"Sifa? Itu beneran kamu?" lirih Amel.
Amel menajamkan matanya untuk memastikan jika itu benar-benar Sifa, walaupun pakaian yang di kenakan oleh gadis itu sangat berbeda, akan tetapi Amel masih mengenali sahabatnya itu.
Melihata tangan Sifa yang terulur ke bibir, membuat Amel semakin mengepalkan tangannya, hingga kuku gadis itu melukai telapak tangannya sendiri.
"Apa ini? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" lirih Amel dengan mata yang berkaca-kaca.
*
Putri melirik ke arah jam tangannya, gadis itu baru tiba di perusahaan yang akan menggunakan jasanya sebagai pengacara perusahaan.
"Nona Putri,silahkan menuju ke sini," titah Didi sambil menunjukkan jalan menuju ruangan pertemuan.
Putri mengangguk dan mengikuti pria yang saat ini sudah berjalan duluan di depannya.
"Silahkan tunggu sebentar di sini, Pak Abash sebentar lagi akan tiba," ujar Didi memberitahu.
"Baiklah."
Putri pun duduk di kursi dan mengeluarkan berkas yang akan menjadi bahan pertemuan dirinya dengan pria yang bernama Abash tersebut.
Clling ..
Sebuah pesan pun kembali masuk ke dalam ponselnya, gadis itu tersenyum di saat mendapatkan pesan penyemangat dari adik-adiknya, Luna, Mama Nayna dan juga Papa Satria.
"Maaf, sudah menunggu lama," ujar suara bariton yang mana membuat Putri dengan cepat menyimpan ponselnya dan berdiri untuk menyambut kedatangan kliennya itu.
__ADS_1
Putri membelalakkan matanya di saat melihat wajah pria yang saat ini ada di hadapannya sama dengan pria yang dia pukul kemarin.
"Anda?"