
Di dalam mobil, Arash dan Sifa terus saja mengobrol dengan seru selama perjalanan menuju kantor polisi. Pembawaan Arash yang ramah dan humoris, membuat Sifa tak merasa setengah dirinya bersama Abash.
"Jadi gimana? Kapan ujian yang kamu bilang itu?" tanya Arash.
"Kemungkinan sebulan lagi, Pak." jawab Sifa.
"Kamu sudah pelajari buku-buku yang kemarin di pinjam?"
"Sudah, Terima kasih banyak, karena Bapak sudah mau meminjam buku-buku tersebut. Semua yang saya perlukan ada di buku-buku itu," ujar Sifa dengan jujur.
"Kalau ada yang perlu kamu pinjam lagi, Tinggal bilang saja. Lagi pula buku-buku di perpustakaan cukup banyak. Sayang saja jika tak di gunakan," ujar Arash dan memarkirkan mobilnya di parkiran kantor polisi khusus untuknya.
"Ayo turun, kita sudah sampai," titah Arash yang di angguki oleh Sifa.
Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor polisi.
"Siap, Pak," sapa anak buah Arash, pria itu langsung berdiri saat melihat Arash dan memberikan hormat.
"Nona ini salah satu saksi kekerasan yang di lakukan oleh pria ini. Jadi silahkan kamu catat laporannya ya," ujar Arash kepada anak buahnya.
"Siap, baik Pak."
"Sifa, kamu bisa duduk di situ dan memberikan laporan kepada polis. Jangan takut, katakan semua apa yang kamu lihat dan terjadi tadi," ujar Arash.
"Baik, Pak."
"Kalau begitu, saya masuk ke ruangan dulu ya," pamit Arash.
"Iya, Pak. silahkan."
Saat Arash berlalu masuk ke ruangannya, Sifa pun mulai di interogasi oleh polisi.
Sudah satu jam berlalu, gadis itu pun telah selesai memberikan laporan kesaksiannya.
"Terima kasih banyak, Nona Sifa," ujar Pak polisi yang mengintrogasi Sifa.
"Sama-sama, Pak. Semoga laporan saya bisa membantu Mbak itu," ujar Sifa.
"Laporan Nona memang sangat membantu sekali. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Setelah berjabat tangan dengan Pak Polisi, Sifa pun berlalu keluar dari kantor polisi tersebut.
"Yah, hujan," lirih Sifa dan menatap sepedanya yang kebasahan.
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun memilih duduk di kursi yang tersedia di luar kantor polisi.
Sudah sepuluh menit berlalu, Sifa merasakan perutnya yang terasa perih.
"Gimana nih? Hujannya masih lebat. Apa trobos aja yaa?" gumamnya sambil memeluk perutnya.
"Kalau terobos, sama aja gak nampak jalan, Yang ada ntar jatuh ke lobang lagi," lirih Sifa sambil menghela napasnya pelan.
Di dalam kantor polisi, Arash baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu pun keluar dari ruangannya.
"Nona Sifa sudah selesai di interogasi?" tanya Arash kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Siap, sudah Pak, Nona Sifa juga sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu," ujar Polisi tersebut.
"Pulang? Hujan-hujam gini?" gumam Arash.
Arash pun pamit pulang kepada anak buahnya yang memang sedang bertugas malam. Pria itu langsung menoleh ke arah kursi yang berada di luar kantor.
Arash menghela napasnya pelan saat menemukan keberadaan Sifa.
"Sifa," tegur Arash yang mana membuat Sifa sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Arash.
"Pak Arash."
"Hujannya lebat, gimana kalau saya antar kamu pulang?"
Sifa membelalakkan matanya. Di antar oleh Arash pulang? Oh tidak, itu bukanlah ide yang bagus.
"Sifa," panggil Arash sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sifa.
"Hah? Oh, ya?"
"Saya antar kamu pulang, ayo!" ajak Arash.
"Eh, gak usah Pak. Saya tunggu reda aja. Sebentar lagi pasti reda hujannya," ujar Sifa sambil melirik ke arah hujan yang semakin lebat.
Jika lebat seperti ini, bisa di pastikan jika akan sangat lama sekali akan menunggu redanya.
Arash tersenyum. "Hujannya lebat, kamu mau tunggu sampai jam brapa? Apa kamu gak lapar? ujar Arash sambil terkekeh pelan.
"Hah? Oh, saya masih keny___"
Sifa memeluk perutnya, Gadis itu pun menggerutu dengan kesal dalam hati.
'Kenapa harus bunyi sih?'
Arash tersenyum. "Udah, ayo bareng saya aja. Sekalian kita cari makan. Saya gak suka makan sendiri."
"Hah?"
Sifa masih bengong di tempat. Sedangkan Arash sudah mengembangkan payung yang di pegangnya tadi.
"Ayo!"
"Ta-tapi__"
"Gak terima penolakan, Ayo," ajak Arash lagi tanpa mau di bantah.
Saat Arash mengatakan hal tersebut, Gadis itu tersenyum tipis karena mengingat akan Ratu Moza, Mama Kesya dan Quin. Ya, saat Arash tersenyum sambil memaksa, wajah pria itu terlihat sangat manis dan Miri sekali dengan Nama Kesya dan Quin.
"Ayo," ajak Arash lagi yang mana membuat Sifa akhirnya menurut.
Arash pun memegangi dan melindungi mereka berdua, agar tak terkena basah hujan.
Pria itu membukakan pintu untuk Sifa dengan masih memayungi gadis itu hingga masuk ke dalam mobil.
Setelah Sifa duduk dengan tenang, Arash berlari kecil mengitari mobil untuk masuk ke dalam mobil melalui pintu yang lain.
__ADS_1
"Huuff, lebat banget hujannya," ujar Arash sambil menepuk bajunya yang sedikit terkena hujan.
Sifa mengambil sapu tangannya yang ada di dalam tas.
"Ini, Pak," ujar Sifa sambil mengulurkan sapu tangan tersebut.
"Untuk?" tanya Arash.
"Lap baju Bapak yang Basah."
"Ooh," Arash pun mengambil sapu tangan Sifa dan mengusap bajunya yang basah.
"Enaknya makan di mana ya?" tanya Arash sambil membersihkan bajunya.
"Hah?" Sifa bingung harus menjawab apa, sehingga gadis itu hanya mengerjapkan matanya saja.
"Hujan-hujan gini enaknya makan apa?" tanya Arash.
"Oh, saya terserah Bapak aja. Langsung antar saya pulang juga boleh," ujar Sifa sambil memamerkan giginya.
"Hmm, gigi siung kamu cantik ya," puji Arash.
"Hah?" Sifa kembali mengerjapkan matanya.
"Gigi siung kamu. Itu, gigi taring kamu yang berlapis. Saya suka lihat senyum kamu yang manis," puji Arash lagi.
"Hah? Oh, I-iya Pak, terima kasih," ujar Sifa dengan wajah yang merona.
"Jadi, kita mau makan di mana?" tanya Arash lagi.
"Te-terserah Bapak aja. Saya ngikut."
"Hhm, oke ... Gimana kalau makan soup iga? Cocok banget kan dengan suasana yang dingin?"
"Iya, saya terserah Bapak aja."
Arash pun mengangguk dan mulai melajukan mobilnya menuju restoran yang biasa menjadi tempat favorit pria itu dan seluruh keluarga Moza, terutama Mama Kesya dan Papa Arka.
Sepanjang perjalanan, Arash menceritakan tentang Empus yang memang sangat menggemaskan.
"Mbak Quin sungguh luar biasa ya, Pak. Saya salut, beliau suka koleksi hewan buas,"
"Saya juga salut dengan kamu. Selama ini semua orang yang datang ke rumah, selalu takut, bahkan sampai pingsan," kekeh Arash.
"Saya tuh suka kucing, suka penasaran aja sama singa, dan Akhirnya keinginan saya untuk menyentuh hewan tersebut kesampaian. Senang banget rasanya pingin lagi," cicit Sifa.
"Boleh, lain kali saya ajak main ke rumah."
"Hah? Bapak Serius?"
"Iya."
Arash pun memarkirkan mobilnya di parkiran restoran yang terbilang biasa namun rasanya sangat luar biasa. Mereka pun turun dari mobil dengan berlindung menggunakan payung.
Saat di depan pintu, mereka bertemu dengan seseorang yang tak di duga-duga.
__ADS_1
"Kalian?"