Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 26 - Kalimat Merdu


__ADS_3

Arash membuka matanya. Pria itu merasa sedikit pusing saat terbangun.


"Akkkhh …" Arash meringis pelan, di saat dirinya mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur.


Arash menghela napasnya pelan, di saat mengingat apa yang terjadi malam tadi. Ya, Arash merasa jika dirinya sedang bermimpi tentang Putri. Putri datang dan memeluk tubuhnya sepanjang malam.


Arash menghela napasnya berat. Pria itu tersenyum sendu di saat berpikir jika semuanya adalah mimpi.


Tunggu, jika semua itu hanya mimpi? Tapi kenapa seakan terasa sangat nyata?


Ciuman itu! Ciuman itu juga terasa sangat nyata. Lembab dan basah rasa bibir yang Arash cium, semuanya terasa nyata. Air mata yang menempel di pipi Arash di saat mereka berciuman, juga terasa sangat nyata. Tidak hanya itu saja, bahkan pelukan hangat yang sepanjang malam Arash rasakan, juga sangat terasa nyata. Apakah mimpi bisa terasa senyata itu?


Tok … tok … tok …


Arash menoleh ke arah pintu kamarnya yang di ketuk, selang beberapa detik pintu kamar itu pun terbuka dan menampilkan Zia yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu sudah bangun, Mas?" tanya Zia sambil tersenyum.


Arash mengernyitkan keningnya. Dia memperhatikan wajah Zia dengan seksama. Melihat jika apa yang dirinya rasakan bukanlah sebuah kesalahan seperti saat itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Zia dengan wajah polosnya dan berjalan ke arah pria itu.


"Tidak ada apa-apa!" Arash pun menoleh ke arah meja nakas, pria itu masih melihat obat yang semalam di berikan oleh Zia dan tidak dia minum. Itu artinya, jika tidak ada yang masuk ke dalam kamarnya.


Atau? Sebenarnya memang ada yang masuk ke dalam kamarnya?


"Mas gak minum obatnya?" tanya Zia saat meletakkan bubur ke atas nakas.


Arash mengernyitkan keningnya, menatap lekat wajah Zia. Apakah gadis itu benar-benar tidak masuk ke dalam kamarnya malam tadi?


"Emm, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arash  kepada Zia.


"Mau tanya apa, Mas?" Zia masih berdiri di samping tempat tidur Arash.


"Apa kamu tadi malam ada masuk ke sini??" tanya Arash memastikan.


"Tadi malam?" Zia mengernyitkan keningnya. Gadis itu semaksimal mungkin mencoba untuk tetap tenang. "Ya, aku masuk ke dalam kamar kamu saat memberikan bubur dan obat," jawab Zia. "Apa kamu tidak mengingatnya??"


"Bukan itu. Tapi setelah itu. Apa kamu ada kembali masuk ke dalam kamarku?" tanya Arash memastikan kembali.

__ADS_1


"Tidak ada. Kenapa memangnya, Mas??" Zia pun berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


Arash pun menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada."


"Bagaimana dengan demam kamu, Mas? Apa sudah turun?" tanya Zia yang hendak menyentuh kening Arash.


Arash pun menepis pelan tangan Zia yang ingin menyentuh keningnya. Pria itu merasa jika Zia tidak perlu untuk memeriksa kondisi tubuhnya.


"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Arash dengan wajah dingin dan datarnya.


Zia hanya bisa menghela napasnya pelan di saat mendapatkan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dan membuat hatinya terasa sakit. Tapi, ya sudahlah. Maklumi saja. Lagi pula, Arash memang sudah mengatakan sedari awal pernikahan mereka, jika Zia tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi Arash, kecuali jika menyangkut tentang Rayyan dan Yumna.


"Oh ya, Tadi pagi Mama telepon. Katanya Mbak Sifa masuk rumah sakit. Kemungkinan Mbak Sifa akan melahirkan hari ini," ujar Zia memberi tahu.


"Alhamdulillah. Semoga semuanya di lancarkan," sahut Arash pelan.


"Emm, apa aku boleh pergi ke rumah sakit? Untuk menjenguk Mbak Sifa???" izin Zia.


Arash menaikkan alisnya sebelah, pria itu melirik ke arah Zia sambil tersenyum miring.


"Sejak kapan kamu harus pamit kepadaku?" tanya Arash dengan sinis. "Bukankah sudah aku katakan, lakukan apa yang kamu lakukan. Pergilah ke mana kamu suka. Semua itu boleh kamu lakukan asal tugasmu sebagai seorang ibu untuk Rayyan dan Yumna telah selesai kamu kerjakan," ujar Arash dengan tegas.


"Sebenarnya aku bukan berpamitan kepada kamu, Mas. Tapi, aku hanya bertanya, apa kamu mau ikut denganku?" sahut Zia.


Zia menggigit bibir bagian dalamnya, menahan emosi yang tiba-tiba membara di dalam hatinya.


"Baiklah jika kamu tidak ingin pergi. Aku bisa pergi sendiri," ujar Zia dan berbalik menjauhi Arash. "Ah ya, jika mama bertanya tentang kamu. Maka aku akan mengatakan jika kamu sedang sakit saat ini."


Setelah mengatakan hal yang membuat Arash semakin menatap Zia dengan tajam, gadis itu pun berjalan keluar dari kamar sang suami.


"Dasar menyebalkan. Egois. Keras kepala!" geram Zia dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.


Zia berjalan ke arah dapur, untuk meminta mbok Yuyun menyiapkan bubur yang akan di bawanya ke rumah sakit untuk Sifa.  Zia pun melirik ke arah tempat sampah yang ada di dapur, di mana di sana masih terlihat bungkus obat yang semalam Zia buang.


Ya, Arash berhasil meminum obatnya semalam berkata Zia. Akan tetapi, karena Zia tidak ingin ketahuan oleh Arash, jadi gadis itu meletakkan kembali obat yang baru ke atas nakas, mengganti obat yang telah Arash minum berkat bantuan Zia semalam.


"Seharusnya semalam aku biarkan saja dia kesakitan."


*

__ADS_1


Kedatangan Zia di rumah sakit langsung di sambut hangat oleh Mama Kesya dan yang lainnya. Mereka sudah tahu bagaimana hubungan Arash dan Zia, untuk itu tidak ada yang menanyakan tentang keberadaan Arash saat ini kepada Zia. Ya, hal itu sengaja di lakukan agar perasaan Zia tidak terluka dengan pertanyaan yang mereka berikan.


"Terima kasih buburnya, Zi," ujar Mama Kesya sambil membelai lembut rambut Zia.


"Sama-sama, Ma. Bagaimana rasanya?? Enak?" tanya Zia memastikan.


"Enak banget. Ini seriusan kamu yang masak?" tanya Mama Kesya balik.


Zia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Zia diam-diam belajar masak, agar Rayyan dan Yumna bisa menikmati masakan Zia," kekeh Zia.


"Waah, kamu memang ibu yang sungguh luar biasa, Zi. Tapi sayang, pria yang menikahi kamu sungguh bodoh. Benar-benar bodoh," ujar Mama Kesya yang terlihat kesal dengan sifat sang putra.


Arash sudah mengatakan kepada Mama Kesya dan keluarga yang lainnya, jika dirinya menikahi Zia hanya karena Rayyan dan Yumna. Pria itu ingin Rayyan dan Yumna bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu, dan itu berasal dari Zia yang terlihat tulus menyayangi kedua anaknya. Lagi pula, Rayyan dan Yumna terlihat tidak bisa lepas dari pelukan Zia. Itulah alasan Arash menikahi Zia, selain di balik rasa marahnya pada hari  di mana Arash menantang Zia untuk menjadi istrinya.


Zia hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja Mama Kesya katakan. Dan pada kenyataannya, memang Arash adalah pria yang bodoh yang tidak bisa melihat cinta tulus dari Zia.


"Mama berharap, jika suatu saat nanti pintu hati Arash bisa terketuk dengan ketulusan yang kamu berikan, Zi," ujar Mama Kesya sambil membelai rambut Zia.


Lagi-lagi Zia hanya bisa tersenyum, karena gadis itu tidak bisa berharap lebih seperti apa yang diinginkan oleh Mama Kesya. Sepertinya memang tidak ada ruang untuk Zia berada di dalam hati Arash.


"Ma, Sifa sepertinya harus di operasi," ujar Anggel yang baru saja menghampiri Mama Kesya dan Zia.


"Operasi?" Mama Kesya benar-benar terkejut. "Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya Sifa bisa melahirkan normal? Apa yang terjadi?" tanya Mama Kesya kepada Anggel.


"Kondisi bayi yang Sifa kandung saat ini letaknya sungsang, Ma. Mungkin karena bayi yang ada di dalam perut Sifa sedang mencari jalan keluar, maka dari itu posisinya yang semula normal, menjadi berubah. Jadi, berhubung kondisi tubuh Sifa sudah melemah dan Abash terus menangis karena tidak tega melihat Sifa kesakitan, kami putuskan untuk melakukan tindakan operasi caesar kepada Sifa. Bagaimana menurut, Mama?" tanya Anggel sambil menjelaskan kondisi Sifa saat ini.


Mama Kesya pun menghela napasnya secara perlahan. "Lakukan yang terbaik, An. Selamatkan Sifa dan juga cucu Mama."


Zia menatap lekat wajah Mama Kesya saat mengatakan hal itu. Kata-kata yang terdengar sangat indah masuk ke dalam telinganya. Akankah kata-kata itu juga bisa dia dengarkan suatu saat nanti?


Tapi, rasanya Zia tidak akan pernah mendengar kata-kata itu, karena sepertinya hubungan Arash dan dirinya tidak akan pernah berhasil.


"Zi, Mama lihat kondisi Sifa dulu, ya?" pamit Mama Kesya yang diangguki oleh Zia.


"Iya, Ma."


Zia menatap kepergian Mama Kesya dengan tatapan sendu. Gadis itu benar-benar berharap jika dirinya bisa mendengar kalimat yang begitu merdu seperti apa yang Mama Kesya ucapkan tadi.


"Hai," sapa seorang pria yang suaranya sangat Zia hafal.

__ADS_1


Zia menoleh ke arah sumber suara. Dia pun tersenyum kepada pria yang saat ini terlihat lebih matang dan tampan dari enam bulan yang lalu.


"Hai, Bra!"


__ADS_2