Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 21 - Terkilir


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang yang Sifa dan Abash lakukan tadi saat di rumah tak layak huni milik Sifa, akhirnya Sifa mengalah dan mengikuti perintah Abash. Eits, Sifa mengalah bukan karena dia putus asa, melainkan karena Abash mengancamnya.


Ya, Abash mengancamnya dengan membatalkan kontrak magang yang sudah ada di depan mata. Sungguh luar biasa bosnya itu.


Kaki Sifa yang masih terasa sakit pun akhirnya membuat Abash harus membopong Sifa menuju mobilnya. Abash menggendong Sifa di punggungnya sedangkan Sifa memegang payung agar mereka tak terkena hujan.


"Maaf," ujar Sifa tanpa berani memandang wajah Abash, saat dirinya melingkarkan tangan ke leher Abash.


Abash berjalan secara perlahan karena tanah yang licin, dia tak ingin mengambol resiko terjatuh dalam becek dan kehujanan.


Ah ya, tak lupa dengan boneka beruang kecil yang Sifa selamatkan di atas tempat tidur, dari terkenanya tetesan hujan.


Abash menghela napasnya pelan saat mereka telah masuk kedalam mobil. Dengan kecepatan sedang, Abash melajukan mobilnya membelah hujan yang sangat lebat.


kriiuuk ...


"Kamu lapar?" tanya Abash saat mendengar suara perut yang berasal dari Sifa dan menoleh kearah gadis yang sedari tadi terdiam sambil memeluk boneka beruang yang terlihat sangat lusuh.


"Tidak," bohong Sifa, namun, mulut dan perutnya tak sejalan. Detik selanjutnya perut Sifa kembali berbunyi, yang mana membuat Sifa merasa kesal saat mendengar kekehan dari sang bos.


"Kita cari makan, semoga aja masih ada yang jualan jam segini," ujar Abash pelan yang masih di dengar oleh Sifa.


Abash melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah di derasnya hujan yang turun, di tambah jarak pandang yang terganggu.


"Di sana ada yang jualan, Pak, tapi jajanan di pinggir jalan, takutnya Bapak gak suka," ujar Sifa menunjuk kearah sebuah warung tenda yang tak jauh dari mereka.


"Oke, kita kesana sekarang."


Sifa menoleh kearah Abash dengan tatapan tak percaya. Benarkah Abash ingin membeli makanan dari sebuah jajanan pinggir jalan? Wow, ini sungguh luar biasa jika hal tersebut benar. Tapi, bisa saja kan jika Abash hanya membelikan makanan untuk Sifa? Begitulah kira-kira pemikiran Sifa terhadap Abash.


Abash menghentikan mobilnya tak jauh dari warung tenda tersebut. "Kamu mau pesan apa?" tanya Abash.


"Apa aja boleh, Pak. Asal jangan nasi."


"Oke, tunggu sebentar." Abash pun turun dari mobil dengan menggunakan payung yang tersedia di dalam mobil.


Sifa hanya memperhatikan dari jauh apa yang sedang Abash lakukan. Tak terlalu jelas memang, hingga rasa kantuk menyerang Sifa.


Abash kembali ke dalam mobil dengan menenteng kantung plastik. Abash menggelengkan kepalanya saat mendengar dengkuran halus dari Sifa.


"Capek banget kayaknya," lirih Abash dan mulai melajukan kembali mobilnya menuju apartemennya.


Tadinya Abash ingin membawa Sifa ke rumah sakit, namun, Sifa memohon kepada Abash untuk tak membawanya ke sana. Sifa seolah memiliki trauma dengan rumah sakit, karena Sifa memohon hingga hampir menangis kepada Abash.


Abash memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir mobil. Abash menoleh kearah Sifa yang masih tertidur dengan lelap.

__ADS_1


"Fa," panggil Abash, namun tak ada pergerakan dari Sifa.


"Sifa," panggil Abash lagi, namun, masih tak ada pergerakan dari Sifa.


Abash pun berinisiatif untuk menyentuh bahu Sifa.


"Fa, Hei.. Sifaa, bangun.. udah sampai," ujar Abash sambil menggoyangkan bahu Sifa.


Sifa menolehkan kepalanya dengan masih mata tertutup, hingga kulit wajah gadis itu menyentuh punggung tangan Abash.


"Kok hangat?" gumam Abash dan mencoba memerika kening Sifa.


Benar saja, Sifa terserang demam.


Abash pun berinisiatif untuk menggendong Sifa, untungnya mereka berada di dalam baseman, jadi tak akan membuat Abash bermain hujan-hujanan lagi.


Abash menggendong Sifa di punggungnya, hembusan nafas Sifa terasa panas di leher Abash. Untungnya dari baseman bisa langsung menuju lift yang berada di sana.


"Eeungggh..." Sifa melenguh sambil mempererat pegangannya di leher Abash.


Abash terbatuk, karena Sifa mengeratkan tangannya di leher sang bos dengan kuat.


"FA, uhuk... kendorin," cicit Abash sambil menepuk lengan Sifa dengan pelan.


"Aaaa....." Sifa memekik menjerit sehingga memaksa untuk turun.


Abash yang merasa pertahanannya runtuh pun, melepaskan pegangannya pada kaki Sifa, Karena Sifa mencekik kembali leher Abash.


"Aww, Sifa kembali meringis saat kaki nya menyentuh lantai, sedangkan Abash sudah terbatuk-batuk akibat ulah Sifa yang mencekiknya tadi.


"Kaki kamu gak papa kan?" tanya Abash saat setelah meredakan batuknya.


"Gak papa Pak, Maaf." cicit Sifa merasa tak enak hati.


"Emm, Bapak kenapa gak bangunin saya?" ujar Sifa dengan ragu.


"Saya udah bangunin kamu, tapi kamunya malah tidur gak bangun-bangun!"


"Masa sih? aww," Sifa kembali meringis saat menggerakkan kakinya.


"Sepertinya kaki kamu kembali terkilir," ujar Abash sambil menatap kearah pergelangan kaki Sifa.


Sifa kembali meringis saat menggerakkan kakinya. Sungguh, saat ini Sifa kembali merasakan trauma itu. Sifa sungguh takut jika terjadi sesuatu kepada kakinya.


"Ayo naik."

__ADS_1


Sifa terkejut saat Abash sudah berjongkok di hadapannya.


"Eeh, eengg... gak papa, Pak. saya bisa jalan sendiri." lirih Sifa sambil menahan rasa sakitnya.


"Udah, cepetan naik, sebentar lagi kita sampai," ujar Abash sambil melirik kearah angka yang ada di dalam lift.


"Tap-tapi___"


"Cepetan," titah Abash dengan kesal.


Sifa yang merasa tak enak dan juga ketakutan pun, akhirnya mengulurkan tangannya dan melingkarkan tangannya di leher Abash.


"Maaf, Pak." cicit Sifa yang di dengar jelas oleh Abash.


Bagaimana tidak di dengar jelas, Sifa berbicara tepat di telinga Abash.


"Hmm, bukan salah kamu, lagian ini hanya sebuah kecelakaan. Kamu bisa pegang ini?" ujar Abash sambil mengulurkan kantong plastik berisi makanan.


"Bisa, Pak."


Dentingan Lift mengambil atensi Abash, pria tampan yang memiliki saudara kembar itu pun keluar dari lift sambil menggendong Sifa di punggungnya.


Abash berjalan beberapa langkah dari lift menuju pintu apartemennya. Menekan password pada pintu, hingga pintu tersebut terbuka.


"Duduk sini dulu," ujar Abash sambil menurunkan Sifa di sofa.


Sifa meneliti apartemen Abash dengan menggunakan penglihatannya yang tajam.


"Luas, rapi, tapi masa iya ada keluarga tinggal sendiri di apartemen? Sayang banget? Hanya alasan clasik dan menginginkan kebebasan saja yang ingin tinggal jauh dari orang tua. Mereka gak tau, bagaimana rasanya merindukan orang yang telah tiada," lirih Sifa yang untungnya tak di dengar oleh Abash.


"Sebentar lagi sepupu saya akan ke sini untuk periksa kaki kamu," ujar Abash sambil membawa baskom yang berisikan air hangat.


Abash berjongkok dan menyentuh kaki Sifa.


"Bapak mau apa?"


Tukk ...


"Akkhh ...."


Sifa dan Abash sama-sama meringis, karena kepala mereka terbentur. Saat Abash berjongkok di hadapan Sifa, gadis itu terkejut dan ikut menunduk, sehingga kepalanya membentur kepala Abash.


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH

__ADS_1


__ADS_2