
"Jauhi dia."
Sifa mengerjapkan matanya berkali-kali. Gadis itu pun perlahan menengadahkan pandangannya ke arah sang bos yang saat ini sudah berstatus menjadi kekasihnya.
Hanya dengan tatapan mata saja, Sifa langsung mendapatkan sinyal yang tak bersahabat dari sang kekasih. Gadis itu pun menelan ludahnya dengan kasar.
"Maaf," ujar Bimo yang mana menarik sesuatu dari rambut Sifa.
Sifa dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah Bimo, begitu pun dengan Abash. Pria itu sudah mengepalkan tangannya dengan erat, saat Bimo dengan berani-beraninya menyetuh rambut pujaan hatinya.
"Tahan bos," bisik Didi.
Abash pun melirik ke arah Didi, pria itu tersenyum dengan tenang dan menganggukkan kepalanya.
"Ada semut," ujar Bimo kepada Sifa sambil menunjukkan seekor semut yang dia ambil tadi dari rambut sifa.
"Ah ya," jawab Sifa langsung merasa tak nyaman. Gadis itu pun perlahan menoleh ke arah Abash, di mana pria itu sudah menatapnya dengan tajam.
"Duh, kan bukan salah saya, Pak. Kok menyeramkan gitu sih natapnya?" batin Sifa dengan takut.
Tak berapa lama, pelayan datang dan memberikan empat buku menu, yang mana tidak semua orang mendapatkannya.
Bimo pun memegang satu buku menu dan melihat makanan apa yang ingin dia pesan.
"Sifa, makanan ini sepertinya enak. Bagaimana jika kita pesan ini?" tawar Bimo.
Sifa pun melihat makanan apa yang di tawarkan oleh Bimo, gadis itu langsung bergidik saat pria itu mengajaknya memesan menu nasi liwet yang di bungkus di dalam daun.
"Emm, saya pesan yang lain aja," ujar Sifa menolak tawaran Bimo.
"Oh ya, Kamu mau pesan apa?" tanya Bimo sambil menunjukkan buku menu. "Biar kita bisa barengan," sambung pria itu lagi.
"Emm, saya pesan----." Sifa pun melihat buku menu yang ada di tangan Bimo, sehingga terlihat jika mereka saat ini seperti sepasang kekasihh.
"Waah, sepertinya bakal ada yang jadian nih bentar lagi," goda Anton, salah satu tim yang iikut makan siang bersama Abash.
Bimo langsung tahu ke mana maksud tujuan Anton, sehingga pria itu pun hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya .
"Doain aja ya, Nton," ujarr Bimo.
"Pasti, Sifa sendiri gimana?" tanya Anton kepada Sifa.
"Hah? Apanya?" tanya Sifa yang mana memang tak mengerti apa yang di maksud oleh Anton.
"Itu, perasaan kamu ke Bimo. Gimana?" tanya Anton.
__ADS_1
"Perasaan saya? Biasa aja," jawab Sifa dengan wajah polosnya, sehingga membuat Bimo sedikit kecewa.
"Masa sih kamu gak tertarik dengan Bimo? Bimo kan lumayan tampan," goda Anton lagi.
"Iya, Mas Bimo memang tampan, tapi saya tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya," jawab Sifa dengan tegas.
Abash pun tersenyum tipis dengan puas, karena sang kekasih terang-terangan menolak Bimo.
"Sifa, kamu tau gak kalau Bimo suka sama kamu?" tanya Anton.
"Enggak," jawab sifa dengan wajah polosnya.
"Duh, Sifa. Kamu ini gemesin banget ya. Masa Bimo udah terang-terangan gitu tunjukkin perasaannya, kamu gak ngnerti sih?" goda Anton.
Sifa hanya terrsenyum kecil dan memilih diam.
"Sifa, kalau Bimo ngajakin kamu pacaran gimana?" tanya Anton penasaran sekali dengan jawaban SIfa.
"Nton, apaan sih?" tegur Bimo yang tak enak dengan Abash.
"Maaf, Pak," ujar Bimo dengan tersenyum kikuk.
Abash pun hanya memasang wajah datar dan menganggukkan kepalanya pelan.
Sifa menarik napasnya pelan, dia melirik kek arah Abash sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anton.
"Maaf, saya rasa ini privasi saya yang tidak perlu di ketahui oleh orang lain. Jadi, saya tidak akan menjawab pertanyaan Mas Anton," jawab Sifa dengan tegas.
"Waah, lo sepertinya di tolak, bro," ujar Anton kepada Bimo.
Bimo hanya bisa tersneyum kecut dan merasa tak enak dengan Sifa.
"Maafin Anton ya, Sifa. Jangan di ambil pusing apa yang dia katakan. Tau sendiri kan? Kalau dia itu mulutnya sdikit lemas," bisik Bimo kepada Sfia.
"Iya, Mas," jawab Sifa dan mulai merasakan tak nyaman berada di dekat Bimo.
Sepertinya peringatan dari Abash memang harus dia laksanakan. Sifa harus menjauhi Bimo demi enjaga perassaan sang kekasih dan kenyamanan pada dirinya sendiri.
*
Putri baru saja keluar dari perusahaan Abash, tadi dia sudah mengirimkan pesan kepada Abash, jika dia akan mengambil berkas yang akan dia pelajari tentang perusahaan pria itu.
Awalnya Abash sudah menawarkan untuk mengantarkan berkas tersebut, akan tetapi Putri menolaknya, lagi pula dia juga ingin mengenal jalanan di Jakarta.
"Hmm, kayaknya udah saatnya beli mobil, deh," lirih Putri pelan saat melihat berkas-berkas yang ada di tangannya saat ini
__ADS_1
Putri pun menghubungi Luna, menanyakan apakah sahabatnya itu sibuk atau tidak.
"Jam berapa?" tanya Putri kepada sang sahabat dari seberang panggilan.
"Sekitar jam empat, gimana? Nanti aku jemput aja," ujar Luna.
"Eh, gak usah. Aku ke rumah sakit aja. Biar kamu gak mutar-mutar buat jemput aku," ujar Putri.
"Oh, ya sudah kalau begitu, aku tunggu di rumah sakit aja ya," ujar Luna.
"Oke, sampai ketemu nanti." Putri pun memutuskan panggilan teleponnya, kemudian dia memesan taksi online darri ponselnya.
Bara yang sedari tadi mengiktu Putri pun hanya menghela napasnya pelan. Kakaknya itu benar-benar keras kepala, bahkan saat Bara menawarkan mobil untuknya pun, gadis itu menolaknya dengan mentah-menath.
Sebenarnya Putri ingin menggunakan uangnya sendiri untuk membeli semua keperluan yang dia butuhkan. Uang yang di maksud adalah hasil dari gajinya selama ini menjadi seorang pengacar yang handal.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat, Putri pun memesan taksi online untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Setelah taksi onlinenya tiba, Putri langsung bergegas masuk ke dalam taksi tersebut.
"Huuff, leganya," lirih Putri saat sudah menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil. Di tambah lagi tubuhnya yang terkena dingin AC mobil.
Setelah taksi yang di tumpangi Putri tiba di rumah sakit, gadis itu pun turun dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Putri," tegur Mama Kesya.
"Tante." Putri pun menghampiri Mama Kesya dan mencium punggung tangannya.
"Kamu ngapain ke rumah sakit?" tanya Mama Kesya. "Mau jengukin Arash?"
"Hah? Oh, enggak kok, Tan. Putri ke sini udah janjian sama teman," jawab Putri.
"Oh, kirain mau jenguk Arash," goda Mama Kesya.
Putri hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Mama Kesya.
"Temannya di mana?" tanya Mama Keysa.
"Masih periksa pasien, Tante, Putri di suruh menunggu di kantin," jawab Putri.
"Ngapain tunggu di kantin? Ayo, kita ke ruangan Arash aja," ajak Mama Kesya.
"Eh, gak papa, Tan. Putri tunggu di kantin aja," tolak PUtri.
"Udah, gak usah malu-malu. Ayo," ajak Mama Kesya yang sudah menggandeng tangan Putri untuk mengikutinya.
__ADS_1