Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 230 - Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

"Mau apa?" tanya Putri dengan kening yang mengkerut.


"I-itu, anu .... eng, aku mau--"


"Mas, ini pesanannya," ujar pelayan sambil memberikan semangkok mie ayam jamur yang sudah di tambah bakso.


"Ah, akhirnya pesanan aku datang." Arash pun menyengir kuda ke arah Putri, sehingga membuat gadis itu semakin kesal di buatnya.


Soni sedari tadi memperhatikan pria itu, terlihat jelas sekali jika Arash tidak menyukai jamur. Buktinya, pria itu malah menepikan semua jamur yang ada di mangkoknya sebelum dia memakannya.


"Jamurnya kenapa gak di makan?" tanya Putri yang mana mengambil atensi Arash dan juga Soni.


"Ya? Oh, itu—"


"Kalau kamu gak suka jamur, seharusnya jangan pesan mie ayam jamur," ujar Putri dan menatap iba kepada jamur yang di pinggirkan oleh Arash.


"I-itu ...." Arash pun merasa bingung harus menjawab apa. "Ah ya, itu ... saat aku melihat menu kamu, aku jadi tergiur," jawab Arash setelah dirinya kembali memutar otaknya untuk berpikir cepat.


"Kamu mau jamurnya?" tawar Arash.


Baru juga Putri ingin menjawab, tapi Soni sudah duluan menyodorkan mangkok miliknya. "Aku mau," jawab Soni cepat.


Sebenarnya pria itu takut jika Putri akan menjawab mau, sehingga membuat gadis pujaan hatinya itu menerima pemberian dari orang lain. Tidak, Soni tidak ingin hal itu terjadi.


"Iya, kasih ke Soni aja kalau kamu gak mau. Tadi punyanya Soni udah di kasih semua ke aku," ujar Putri dengan harus merelakan jamur itu untuk sahabat masa kecilnya.


Tidak mungkin juga kan Putri berebut jamur milik Arash, padahal mereka mampu membeli semangkok jamur saja untuk tambahan. Dengan terpaksa, Arash pun memberikan semua jamur miliknya kepada Soni, sehingga membuat senyuman miring tercetak jelas di wajah pria itu.


"Kenapa dia? Apa dia sengaja?" batin Arash merasa kesal terhadap wajah Soni yang menyebalkan.


"Emm, enak," ujar Soni saat memasukkan sesendok penuh jamur ke dalam mulutnya.


"Enak banget, ya? Sampai belepotan begini?" kekeh Putri, gadis itu pun menarik tisu yang ada di atas meja dan membersihkan sudut bibir Soni yang berlepotan.


"Terima kasih," lirih Soni dengan tersenyum.


"Kamu itu gak berubah ya. Udah delapan tahun berlalu, tapi tetap aja makannya masih seperti anak-anak begini," ujar Putri sambil terkekeh.


"Dan kamu juga tidak berubah, tetap cantik dan perhatian seperti dulu," bisik Soni yang mana membuat Putri menjadi gugup.


"I-itu—"


"Kamu mau lagi jamurnya? Biar aku pesanin." Tanpa mendengar jawaban Putri, Soni pun langsung memanggil pelayan dan dan memesan satu mangkok jamur saja.


"Ini pesanannya, Mas," ujar pelayan sambil memberikan semangkok jamur semur ke atas meja.


"Terima kasih, Mas," jawab Putri dengan menatap binar jamur tersebut.


"Ayo, di makan," titah Soni yang langsung di angguki oleh Putri.


"Hmm, Putri suka jamur, dia juga pintar bikin kue sus seperti apa yang Abash suka. Andai saja mereka di takdirkan bersama, mungkin aku bisa bersama Sifa," batin Arash yang menatap ke arah Putri.

__ADS_1


"Apa yang aku pikirkan? Tidak, aku tiak boleh berebut satu wanita dengan kembaranku. Tidak, itu tidak boleh terjadi," sambungnya lagi di dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Putri yang melihat Arash menggelengkan kepalanya.


"Hah? Oh, tidak ada apa-apa," jawab Arash dengan tersenyum kikuk.


Pria itu pun kemudian mengaduk mie ayamnya sebelum dia masukkan ke dalam mulut.


"Emm, enak juga ya?" lirihnya dan kembali memasukkan mie ayam ke dalam mulutnya.


Putri dan Soni pun saling melirik, kemudian mereka juga ikut menikmati mie jamur milik mereka berdua.


"Alhamdulillah, kenyang banget," ujar Soni sambil mengusap perutnya yang sixpack.


Mata Putri pun tanpa sengaja ikut menoleh ke arah perut Soni yang sedang di elus oleh pria itu.


"Huaa, semenjak kurusan, punya roti sobek juga sekarang, ya?" goda Putri.


Dapat gadis itu lihat, jika di balik kemeja putih yang di kenakan oleh Soni, terdapat perut yang kotak-kotak.


"Rajin olah raga, Put," jawab Soni dengan bangga. "Lagi pula ini demi kamu," sambungnya lagi sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Hah? K-kok demi aku?" tanya Putri dengan gugup.


"Biar kamu gak panggil aku jerigen minyak lagi," kekeh Soni yang mana membuat Putri membulatkan matanya.


"Haah? Ya ampun, kamu masih ingat itu?" tanya Putri merasa takjub.


"Tentu saja aku ingat. Apa pun tentang kamu, aku pasti akan selalu mengingatnya," ujar Soni sambil menatap dalam ke mata Putri.


Hal itu pun membuat Putri menjadi gugup.


"Eng, itu--"


Suara ponsel Arash mengambil atensi Putri dan Soni, mereka berdua pun menoleh ke arah Arash yang mengabaikan panggilan tersebut.


"Kenapa gak di angkat?" tanya Putri di saat arash lebih memilih mengabaikan panggilannya.


"Gak papa. Gak terlalu penting juga," bohong Arash.


Padahal, panggilan yang baru saja masuk adalah panggilan dari kantornya. Arash tidak ingin mengangkat panggilan tersebut, karena itu akan membuatnya membiarkan Putri pulang bersama pria yang ada di hadapannya saat ini. Tidak, Arash tidak akan membiarkan Putri pulang bersama pria itu.


Tapi kenapa?


"Kita pulang, yuk," ajak Putri. "Sudah magrib juga."


"Ayo," jawab Soni dan memanggil pelayan untuk membayar semua makanan yang sudah mereka habiskan.


"Biar saya aja yang bayar," ujar Arash kepada Soni yang sudah mengeluarkan dompetnya di saat pelayan datang.


"Berapa, Mas?" tanya Arash kepada pelayan tersebut.

__ADS_1


Saat pelayan sedang menghitung-hitung  makanan yang ada di atas meja, Arash pun sibuk merogoh-rogoh kantung jaketnya dan juga celananya. Putri yang melihat Arash seperti mencari sesuatu pun menaikkan alisnya sebelah.


"Ada apa? Apa kamu kehilangan sesuatu?" tanya Putri.


"Hah? Oh, itu ... dompet aku kok gak ada di dalam kantong, ya?" lirihnya pelan sambil terus mencari di mana keberadaan dompetnya.


Tanpa menunggu lama lagi, Soni pun mengambil uang sebesar tiga ratus ribu dari dalam dompetnya, kemudian pria itu menyerahkan uang tersebut kepada si pelayan.


"Mas, ini kebanyakan. Total semuanya cuma tujuh puluh delapan ribu aja." Si pelayan tersebut sambil mengembalikan uang dua ratus ribu kepada Soni.


"Gak papa. Ambil buat si Mas-nya aja. saya ikhlas, kok," ujar Soni sambil tersenyum tipis. "Sekalian sama kembaliannya."


"Terima kasih banyak, Mas." Pelayan tersebut pun mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali, sambil mengucap syukur dengan rezeki yang di berikan oleh Soni.


"Ayo," ajak Soni dan memberikan jalan kepada Putri.


Arash pun menghela napasnya pelan. Kenapa di saat seperti ini, dia malah harus di permalukan oleh dirinya sendiri? Pria itu pun terpaksa mengikuti Soni dan Putri yang sudah duluan berdiri.


"Put, ayo," ajak Arash saat mereka sudah berada di laur warung bakso.


Putri dan Soni pun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Arash dengan bingung.


"Aku antar kamu pulang. Pak Soni, terima kasih karena sudah mentraktir tadi. Maaf, sudah merepotkan. Jadi, samapi di sini saja pertemuan kita hari ini, saya dan Putri akan pulang bersama," ujar Arash dengan tersenyum sopan kepada Soni.


Soni pun menaikkan alisnya sebelah, kemudian dia menoleh ek arah Putri yang sudah terlihat bingung.


"Kamu pulang sama dia?" tanya Soni dengan suara yang pelan, di mana dalam hati pria itu berharap jika Putri menolak untuk pulang bersama Arash.


Putri menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.


"Rash, maaf, aku gak pulang ke apartemen kamu malam ini. Aku ada urusan bersama Soni, jadi, aku akan pulang dengannya," ujar Putri yang mana membuat Arash merasa kecewa.


"O-oh, aku pikir kamu mau pulang," lirih Arash yang mulai bingung dengan perasaannya saat ini.


"Kalau begitu Pak Arash, kami duluan," pamit Soni dan menggait tangan Putri untuk ikut bersamanya.


Putri pun memandang Arash sesaat, sebelum gadis itu berbalik dan mengikuti Soni.


"Put," panggil Arash yang mana mmebut Putri dan Soni pun menghentikan langkahnya dan kembali berbalik.


"Ya?" tanya Putri.


Arash berjalan mendekat ke arah Putri, kemudian pria itu memberikan papar bag yang ada di tanagnnya.


"Ini, baju untuk kamu. Tadi aku menyuruh Toto untuk mencari baju ganti untuk kamu, karena baju kamu yang basah karena aku." Arash pun mengulurkan paper bag yang ada di tanganya ke arah Putri, hingga gadis itu pun mengambil paper bag tersbeut.


"Terima kasih,"cicitnya pelan.


"Baiklah, ayo. Kita harus sholat magrib lagi," ujar Soni mengingatkan.


Putri pun menganggukkan kepalanya, gadis itu pun kembali berpamitan kepada Arash dan berbalik.

__ADS_1


"Rash, apa yang kamu lakukan? Perasaan apa yang kamu rasakan saat ini, Rash? Kenapa rasanya lebih sakit dari melihat Abash dan Sifa berciuman?" batin Arash dan pria itu mengusap awajahnya dengan kasar.


__ADS_2