Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 18 - Tim Elang


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu sejak wawancara tersebut. Sifa memang belum mulai masuk sebagai kryawan magang. Karena akan dimulai diawal bulan nati. Lagi pula, Abash sedangada proyek dan belum memutuskan SIfa harus ditempatkan dibagian mana.


Tok ... tok ..


"Masuk."


Sifa membuka pintu ruangan Abash. "Permisi, Pak. Ini pesanan makanannya."


Ya, tadi Sifa mendapat mandat dari Didi untuk membelikan makanan dan juga cemilan. Didi tak bisa pergi membeli karena harus tetap menemani Abash yang tengah mengerjakan proyek penying. Abash akan berangkat ke Swiss dalam tiga hari lagi, jadi pekerjaan itu harus segera selesai.


Sifa meletakkan pesanann keatas meja tamu, dengan dibantu oleh Didi.


"Didi, kamu panggil Dika kesini, suruh dia menyelesaikan bagian 8." titah Abash tanpa menoleh sedikit pun kepada Didi.


"Siap Bos." Didi memerintahkan Sifa untuk melanjutkan menghidang makanan tersebut.


"Pak, sudah selesai, saya permisi." ujr Sifa pamit dari ruangan Abash.


"Hmm,"


Namun, baru saja Sifa memegang gagang pintu, Abash kembali bersuara memanggil Sifa.


"Apa kamu mengerti SQL?" tanya Abash sambil menatap kearah Sifa.


"Insya Allah bisa, Pak."


"Bagus, coba Kamu kerjakan yang ada dilaptop itu. Semua laporannya ada disana."


"Bapak yakin?" tanya Sifa ragu.


"Jika kamu tak mampu, silahkan keluar." uajr Abash tanpa menoleh kearah Sifa. Abash sudah kembali fokus komputernya dan bermain di layar hitamnya.


Sifa merasa ragu, haruskah ia ikut membantu? Tapi Sifa takut melakukan kesalahan, Sifa tau ini proyek penting, karena tadi Didi sempat menagtakan hal tersebut. Namun, Sifa kembali berfikir, jika dirinya tak mampu melakukan hal tersebut, Sifa takut izin magangnya akan dicabut kembali oleh Abash.


Tidak, Sifa tak ingin hal itu terjadi.


Terlalu banyak resiko yang harus Sifa ambil. Tapi, ini titah dari bos-nya sendiri kan? Bukan atas keinginannya.


Sibuk dengan pikirannya, Sifa tak menyadari jika Abash sempat melirik kearahnya dan tersneyum miring. Entah apa arti dari senyuman tersebut.


Dengan mengucapkan Bismillah, Sifa melangkahkan kakinya dan duduk didepan Abash. lebih tepatnya dibangku yang seharusnya Didi duduki.


Sif amulai melihat layar hitam yang ada dihadapannya. banyak tulisan putih yang menurut Sifa masih ada yang kurang.


Sifa meraih lapiran yang ada disebelah laptp tersebut, ia mulai membaca dan memahami apa yang ahrus dikerjakana.


"Jika ada yang tak mengerti kamu bisa bertanya." Suara Abash menyentak fokus SIfa.


"i-iya, Pak."

__ADS_1


Sifa mulai mengankat tangannya dan meletakkan jari-jari nya diatas keyboard. terdnegar suara ketikan yang berasal dari keyboard laptop yang Sifa pegang.


Abash sempat melirik saat mendengar betapa cepatnya sudara ketikan tersebut, menandakan jika Sifa mengetiknya dengan cepat. Abash menaikkan alisnya sebelah saat melihat bagaimana serius dan gampangnya Sifa mengerjakan hal tersebut. Abash memandang kelayar komputernya yang terhubung dengan laptop Sifa. Jadi Abash dapat mengetahui apa saja yang sedang Sifa kerjakan tanpa mengangkat pantatnya dari tempat duduknya yang terasa nyaman.


Sudut bibir Abash terangkat sedikit saat melihat pekerjaan Sifa. Baru 5 menit, Sifa sudah memasukkan rumus baru dengan mudah. Bahkan, Didi saja harus bertanya apa yangahrus ia masukkan kedalam itu.


Bukan Didi tak pintar, Didi pintar, namun ia lebih menguasai laporan perusahaan yang nantinya akan diserahkan oleh Abash. Didi hanya membantu seperlunya saja dan disaat genting seperti ini.


Pintu terbuka, Didi dan DIka masuk kedalam ruangan Abash. Tak dapat menyembunykan rasa terkkejutnya, saat melihat Sifa menyenyuh laptop Didi. Dika dan Didi pun hanya terpana melihat bagaimana seriusnya dan lincahnya Sifa dalam memasukkan rumus-rumus tersebut. Bahkan SIfa tak menyadari kehadiran Dika dan Didi sakin fokusnya terhadap layar yang ada dihadapannya.


Luar biasa, terpecahkan sudah kenapa alasan Abash menerima Sifa sebagai mahasiswa magang.


"Apa kalian akan terus menonton?" SUara Abash mengambil atensi ketiga orang yang ada dihadapannya.


Sifa menoleh kearah belakang dan mendapati senyum Didi yang disertai oleh dua jempolnya. Sifa ingin berdiri namun ditahan oleh Didi. Didi sudah paham apa pekerjaan yang harus ia lakukan saat ini. Ada laporan yang harus ia kerjakan dan ini termasuk dalam proyek yang sedang berlangsung saat ini.


Dika pun langsung mengambil posisi duduk di sebelah SIfa. Laptop Dika sudah terhubung dengan komputer Abash.


"Kerjakan apa yang sudah saya tandai." ujar Abash kepada Dika.


"Baik, Pak."


Tiba-tiba saja Sifa merasa grogi dan tak se-pede tadi. Sifa pun melirik kearah Abash yang masih fokus kepada laptopnya.


"Kenapa? kok berhenti bekerja?" tanya Abash yang menyadari jika SIfa memperhatikannya.


"Bapak gak pingin lihat hasil kerja saya?" mana tau ada yang salah?" ujar SIfa takut-takut yang lebih terdengar sepeti cicitan.


Sifa merasa terkejut, ia pun mengerutkan keningnya. Kapan Abash melihat hasilnya? sedangkan Abash hanya tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sama sekali.


"Kapan pak?" tanya Sifa akhirnya.


Abash mengangkat pandangannya kearah Sifa.Hany dengan grakan mata saja, Sifa sudah paham kemana harus ia lihat, SIfa menoleh kearah komputer berlayar besar disebelah kiri Abash.


Ahh, pantas saja Abash tak perlu angkat pantatnya dari kursi. Ternyata sudah terhubung kesana. Sifa menganggukkan kepalanya, dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Dika, Kamu sduah makan?" tanya Abash.


"Sudah, Pak."


"Baiklah, lanjutkan pekerjaan kamu. Didi, kita makan dulu."


"Baik, Bos." Didi pun ikut berdiri dan menyusl Abash duduk di sofa.


"Sifa, Kamu sudah makan?" tanya Abash.


"Sudah, Pak." bohong Sifa.


Tentu saja Sifa berbohong, karena tak mugnkin ia dengan berani makan bersama dengan sang didepan karyawan lainnya. Sifa pun melanjutkan pekerjaannya dengan menahan rasa laparnya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak satu pun dari mereka sadar akan waktu yang sudah menunjukkan larut malam.


Ponsel Abash berdering, sehingga mengambil atensi dari semua orang.


"Halo, Ma."


Kemudian, tak terdengar appaun lagi. Abash hanya menempelkan ponselnya ditelinga sambil mednengar apa yang dibicarakan oleh orang yang ada diseberang panggilan.


"Baik, Ma. Walaikumsalam."


Abash melirik kerah jam tangannya. kemudian Abash menoleh kelayar komputernya, melihat satu persatu pekerjaan timnya. Bahkan tim yang ada diluar ruangan Abash.


"Baiklah, sampai disini dulu." titah Abash kepada Dika, Sifa, dan Didi.


"Baik, Bos."


"Baik, Pak."


Sifa, Didi, dan Dika merapikan peralatan kerja mereka.


"Sifa, besok kamu ada kuliah pagi?" tanya Abash.


"Hanya satu mata kuliah saja, Pak." jawab Sifa.


"Jam brapa?"


"Jam 8."


"Selesai?"


"Jam 10."


Bagus, kamu langsung mulai magang besok. Masuk kedalam tim."


Sifa masih tak emngerti dengan apa yang Abash katakan. Maksudnya masuk kedalam tim?


"Ada pertanyaan?" tanya Abash yang mengrti dengan raut kebingungan SIfa.


"Masuk ekdalam Tim, maksudnya, Pak?" tanya SIfa ragu-ragu.


"Kamu bergabung dengan tim Elang"


Sifa membelalakkan matanya. Tim Elang adalah tim cepat dalam pemantauan dan berburu. Benarkah Sifa masuk kedalam tim tersebut?


Sifa tak bisa menutupi rasa terkejutnya, Sifa merasa senang sekaligus merasakan takut. Bearkah? Apa ini mimpi?


Tim Elang, tim hebat dan yang memiliki gaji terbesar di perusahaan tersebut.


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..

__ADS_1


Salam sayang dari ABASH dan ARASH


__ADS_2