Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 82 – Interogasi


__ADS_3

“Bapak gak papa?”


Abash menoleh ke arah Sifa yang saat ini sudah sesenggukan menangis entah karena apa. Mungkin karena


rasa sakit yang gadis itu rasakan pada lengannya.


“Kenapa kamu menangis? Apa ada yang terluka? Mana yang sakit?” tanya Abash dengan panik dan melihat


kondisi tubuh Sifa.


“Hiks .. saya gak papa. Saya nangis karena takut Bapak terluka,” lirih Sifa di sela tangisannya.


“Ka-kamu bilang apa?” Seperti ada letusan kembang api di atas kepala Abash, di saat mendengar rasa  kekhawatiran Sifa untuknya.


“Sa---,”


“Ada apa ini?” tanya Arash yang baru saja datang dengan timnya.


Arash menghela napasnya dengan sedikit kasar, di saat melihat wajah sang kembaran yang sudah babak belur seperti ini.


Dan, di sinilah mereka saat ini. Di ruangan keamanan gedung apartemen, di mana Abash, Sifa, satpam, dan pria bertato itu pun akan di interogasi.


Cerita pun di mulai dari satpam, yang mana menerimakomplain dari salah satu penghuni apartemen. Di mana pria bertato itu komplain dengan sepeda yang menghalangi jalannya dan membuat mobil pria itu tergores. CCTV pun di tunjukkan oleh pihak keamanan, di mana memang sepeda Sifa tergeletak begitu saja di atas lantai, hingga tiba-tiba


mobil yang di kendarai oleh pria bertato itu pun melintas dengan kencang dan menggiling sepeda Sifa hingga berbentuk angka delapan.


Kemudian cctv kembali menunjukkan di mana pria bertato berbicara dengan sifa, hingga tiba-tiba Abash  mendaratkan pukulannya hingga pria bertato itu pun terjatuh.

__ADS_1


“Lihat, bukan saya yang memulainya. Tapi pria brengsek ini,” tunjuk pria bertato itu.


Braak ..


Arash menggeprak meja, yang mana membuat semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut dan terdiam.


“Jaga omongan Anda. Pak,” tegas Arash sambil menatap tajam ke arah pria bertato itu.


Arash yang saat ini memang mengenakan masker pun, membuat pria bertato itu tak bisa melihat sepenuhnya wajah Arash, hanya nama yang terpampang di bajunya saja, yang dapat pria itu baca dengan jelas.


“Di sini di katakan, jika Anda menghina Nona Sifa. Jadi, Pak Abash memukul Anda karena ingin memberikan pelajaran untuk mulut Anda yang brengsek itu. Bukan begitu Pak Abash?” tanya Arash dan menoleh ke arah sang kembarannya.


“Ya, seperti itu,” jawab Abash dan membalas tatapan mata sang kembaran.


“Tapi di sini Anda juga salah, Pak Abash. Seharusnya Anda tidak boleh melakukan kekerasan atau main hakim sendiri. Serahkan semua kasusnya itu ke pihak yang berwajib, Anda cukup memberikan bukti-bukti yang ingin Anda laporkan,” ujar Arash dengan kesal, karena dirinya harus menghadapi kembarannya sendiri yang statusnya saat ini


“Ya, saya akui jika saya salah. Tapi---,”


“Baiklah, jika Anda sudah mengakui jika Anda salah. Itu tandanya Anda siap untuk mendapatkan hukuman Anda,” ujar Arash memotong ucapan Abash.


Abash ingin menjawab sang kembaran, akan tetapi Arash memberikan isyarat matanya untuk tidak menjawab ucapannya saat ini. Abash pun memilih diam dan menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib.


“Bagus, saya ingin dia di penjara sepuluh tahun,” ujar pria bertato itu sambil tersenyum penuh dengan


kemenangan.


“Dan saya akan menghukum anda di dalam penjara selama lima puluh tahun,” jawab Arash yang mana membuat

__ADS_1


pria bertato itu terkejut.


“Kenapa saya? Saya korban di sini,” pekik pria bertato itu sambil menggeprak meja.


“Jaga perilaku Anda, Pak. Walaupun ini bukan kantor polisi, tapi Anda sedang berhadapan dengan pihak  kepolisian,” tegas Arash dengan tatapan tajamnya.


“Saya jelaskan kesalahan Anda itu apa. Pertama, Anda telah menghina dan merendahkan Nona Sifa dengan


ucapan Anda. Hal itu sudah menjatuhkan Anda pada pasal 310 KUHP yang berbunyi tentang penghinaan atau pencemaran nama baik. Kedua, Anda telah melayangkan pukulan Anda kepada Pak Abash, di saat beliau ini sudah ingin pergi, yang mana kasus ini jatuh pada pasal 351 KUHP yang berbunyi penganiayaan. Juga, Anda telah memukul pihak security yang ingin merelai perkelahian kalian berdua, jelas sekali bukan pasal yang saya sebutkan tadi?” ujar Arash dengan tatapan matanya yang tajam.


Pria bertato itu pun mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Abash dan Arash. Pria itu memang tak tahu jika mereka adalah kembar, tetapi mendengar pasal yang di sebutkan oleh Arash, membuat pria itu semakin kesal.


“Baiklah, melihat wajah kalian yang sudah berlumuran darah, sebaiknya kalian obati dulu luka di wajah kalian dan siang nanti, silahkan datang ke kantor polisi untuk membuat pernyataan. Sekarang, identitas kalian akan saya tahan, silahkan ambil di kantor polisi,” ujar Arash dan menahan identitas Abash dan pria bertato tersebut.


“Untuk Pak Satpam, bisa siang nanti ke kantor polisi untuk memberikan laporan kesaksiannya, sedangkan Nona Sifa, silahkan ikut kami sekarang untuk memberikan kesaksiannya,” ujar Arash.


Sifa melirik ke arah Abash, gadis itu merasa tak tega melihat kondisi Abash yang babak belur karena dirinya.


“Sekarang, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing. Ingat, jangan mangkir nanti siang atau kami akan menambah hukuman kalian berdua,’ ujar Arash mengingatkan.


Pria bertato pun keluar dari ruangan keamanan itu dengan kesal, sehingga meninggalkan Arash, Abash, Sifa, dan dua petugas keamanan yang berjaga di ruangan tersebut.


“Pergilah ke rumah sakit, atau mau aku telpon Kak Lucas?” tanya Arash.


“Sudahlah, jangan kasih tau siapa-siapa soal ini. Hanya luka pukulan kecil saja, aku bisa mengobatinya sendiri,” ujar Abash, pria itu pun berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.


Sifa menatap kepergian Abash, kemudian gadis itu pun meraih tasnya dan berdiri.

__ADS_1


“Pak Arash, saya tidak bisa pergi ke kantor polisi saat ini, nanti siang saya akan ke sana untuk memberikan laporannya. Terima kasih,” ujar Sifa dan berlari keluar menyusul Abash.


__ADS_2