Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 302 -


__ADS_3

"Jadi gadis itu seorang pengacara hebat?"


"Iya, Pak. Orang tuanya juga seorang pengacara. Bahkan, yang membuat paman Anda tertangkap dan harus menghabiskan sisa hidupnya di penjara, itu karena orang tua gadis itu," ujar pria berbaju hitam dan berwajah sangar.


"Jadi, mereka adalah ayah dan anak?" Josi menatap tajam ke arah Putri yang sedang berbincang dengan teman kantornya.


"Kamu bilang, kalau gadis itu sudah bertunangan dengan polisi yang menangkap Bang Yosi?" tanya Josi.


"Iya, Pak. Mereka baru saja bertunangan. Memang, pertunangan mereka ini masih di ketahui hanya di kalangan keluarga saja," ujar pria berbadan besar itu memberitahu.


"Apa kamu yakin jika mereka memang benar-benar bertunangan?" tanya Josi.


"Saya yakin seratus persen, Pak."


Josi menghela napasnya pelan, pria itu memang tidak sekuat sang Abang. Bahkan terkesan manja, walaupun dia memiliki tubuh yang besar dan wajah yang tidak bersahabat. Akan tetapi, demi membalaskan dendam sang Abang dan mendiang sang paman, Josi akan memikirkan cara untuk melancarkan aksi balas dendamnya. Tenang saja, Josi akan di bantu oleh seseorang yang juga memiliki dendam dengan keluarga Moza.


Siapa dia?


Akankah rencana mereka berhasil untuk mengancurkan keluarga Moza?


*

__ADS_1


"Aku pulang sama Bara, nanti kita ketemuan di tempat latihan aja, ya," ujar Putri kepada Arash dari seberang panggilan.


"Iya, kamu hati-hati ya. Aku gak sabar buat ketemu sama kamu. Kangen berat aku tuh."


"Iya .. iya, sayang. Tunggu kedatangan aku, ya."


Panggilan pun berakhir, Putri menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Gadis itu pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, sembari menunggu kedatangan sang adik.


Di tempat lain.


Sifa menghela napasnya pelan, Abash sedari tadi tidak membalas pesan singkat yang dia kirimkan. Bahkan, untuk menerima panggilan teleponnya saja, tidak diterima oleh Abash.


"Sibuk kali, ya?" gumam Sifa pelan dan naik ke atas motor, setelah memastikan jika mobil yang di pakai oleh Abash akhir-akhir ini, masih berada di parkiran khusus pejabat tinggi perusahaan.


"Nona Sifa baik-baik, saja?" tanya mbak ojek langganan Sifa, yang sebenarnya juga seorang pengawal wanita yang di tugaskan oleh Abash untuk menjaga gadis itu.


"Ya, saya baik-baik saja."


Jantung Sifa berdegup dengan kencang, di saat melihat dua pria berbadan besar turun dari mobil. Kedua pria itu pun menghampiri Sifa dan mbak ojek yang masih berada di atas motor.


"Sebaiknya Nona ikut dengan kami sekarang. Jangan mencoba melawan, atau kalian akan terluka," ancam pria berbadan besar itu kepada Sifa dan mbak ojek.

__ADS_1


"Siapa kalian?" tanya Sifa saat salah satu dari mereka memintanya untuk turun.


"Nanti, Nona akan tahu siapa kami, setelah bertemu siapa bos kami," ujar pria berbadan besar itu.


"Kalau aku tidak mau ikut dengan kalian, bagaimana?" tanya Sifa.


Kedua pria itu pun saling memandang, kemudian salah satu dari mereka menganggukkan kepalanya.


"Kami terpaksa membawa Nona secara paksa untuk ikut kami. Maka dari itu, mohon kerja samanya, agar kamu tidak menyakiti Nona," ujar pria itu.


"Coba saja jika kalian berani menyentuh aku, maka kalian akan menyesal," ancam Sifa balik. "Aku tidak akan pernah ikut dengan kalian."


Sifa pun menyuruh mbak ojek untuk menghidupkan motor dan meninggalkan tempat tersebut. Gadis itu sudah bersiap untuk menyemprotkan air merica ke arah lawannya, di mana saat ini tangan Sifa sudah menggenggam botol kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana di dalam tasnya.


"Aakh..." Sifa terkejut, di saat Mbak ojeknya sudah di ancam dengan sebuah pisau yang ada di perut gadis itu.


"Sebaiknya Nona ikut kami, jika tidak ingin wanita ini terluka," ancam pria berbadan besar itu.


"O-oke, tapi jangan sakit dia."


Sifa pun terpaksa turun dari motor, gadis itu menurut kepada pria berbadan besar dan masuk ke dalam mobil. Dia teringat akan kalung yang pernah Abash berikan jika dirinya berada dalam bahaya. Tangan Sifa pun meraba kalungnya dan menekan mata kalung untuk meminta bantuan sang kekasih.

__ADS_1


"Abash bantu aku," batin Sifa berdoa, agar sang kekasih dapat menolong dirinya dari bahaya.


__ADS_2