
Abash mengajak Sifa kembali pulang, karena mereka harus bertemu dengan klien.
"Apa kamu menyesal ikut saya?" tanya Abash tiba-tiba.
Sifa yang terkejut mendengar suara Abash pun, langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hah? Menyesal kenapa, Pak?" tanya Sifa.
"Karena kamu ikut saya dan tidak tinggal bersama Arash," ujar Abash dengan kesal.
"Ooh ..." lirih Sifa pelan dan tak lagi melanjutkan ucapannya.
Tiga menit Abash menunggu, akan tetapi gadis itu ternyata hanya menjawab ucapannya hanya dengan kata 'oh'.
"Kalau kamu khawatir dengan Arash di rumah sakit, saya akan mengantarkan kamu kembali ke rumah sakit," ujar Abash yang sudah membalikkan arah mobil.
"Hah? Loh, Maksud Bapak apa?" tanya Sifa panik, karena aura wajah Abash mulai terasa tak bersahabat.
"Kamu ingin menemani Arash, kan? Saya akan mengantarkan kamu," ulang Abash.
"Tunggu, berhenti," pekik Sifa dengan kesal dan napas memburu.
Abash pun sontak menekan rem sehingga mobil yang ia kendarai pun berhenti mendadak, sehingga membuat kepala Sifa terbentur ke dashboard, karena dia tidak memakai seat bell.
"Aww ..." ringis Sifa sambil memegangi keningnya.
"Kamu gak papa?" tanya Abash yang sudah menangkup wajah Sifa.
"Saya gak papa kok, Pak," ujar Sifa sambil meringis.
"Gak papa gimana? Benjol begini," gerutu Abash dan mengeluarkan sapu tangannya.
Pria itu pun meniup sapu tangan yang ada di tangannya dan menempelkannya di kening Sifa.
"Biar begini dulu," lirih Abash dan kembali mengulang apa yang dia lakukan kepada Sifa barusan.
"Kenapa Bapak melakukan ini kepada Saya?" tanya Sifa pelan dengan pandangan tertunduk.
"Maksud kamu?"
Sifa pun memberanikan diri untuk memandang ke arah Abash yang sudah menatap dalam ke matanya.
"Kenapa Bapak marah sama saya? Saat saya merasa khawatir dengan keadaan Pak Arash?" tanya Sifa.
Abash menggertakkan giginya dengan kesal, ternyata dugaannya benar, jika gadis yang ada di hadapannya saat ini sedang mengkhawatirkan kembarannya.
"Kamu tidak mengerti?" tanya Abash.
"Apa Bapak mengerti dengan perasaan saya?" tanya Sifa balik.
"Kamu menyukai Arash."
"Saya tidak menyukai Pak Arash," kesal Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.
Abash pun mengerutkan keningnya dan menatap gadis yang sedang menahan tangis itu.
__ADS_1
"Saya tidak menyukai Pak Arash. Tapi, kenapa Bapak selalu saja mengatakan jika saya menyukai Pak Arash? hiks ... Bapak tu nyebelin tau," kesal Sifa dan mengusap air matanya.
"Jadi, kamu tidak menyukai Arash?" tanya Abash yang sudah merasakan kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya.
"Iya, saya tidak suka sama Pak Arash," jawab Sifa sambil mengusap air matanya lagi.
"Alhamdulillah," seru Abash dan tiba-tiba saja pria itu menarik tubuh Sifa dan memeluknya.
Sifa yang terkejut dengan perlakuan Abash pun, menjadi diam membeku.
"Syukurlah, saya pikir kamu suka sama Arash," lirih Abash dengan bernapas lega.
Sifa kembali sadar dengan apa yang terjadi saat ini, sehingga membuat gadis itu ingin melepaskan pelukan Abash dari tubuhnya.
"Mak-maksud Bapak apa?" tanya Sifa yang masih belum bisa melepaskan dirinya dari pelukan Abash.
"Kamu tidak tau maksud saya?" tanya Abash yang sudah merenggangkan pelukannya.
Sifa menggelengkan kepalanya dengan penuh tanda tanya di dalam kepalanya.
"Tidak, saya tidak tahu. Ja-jadi maksud Bapak apa?" tanya Sifa.
"Sekarang tebak, apa maksud saya," ujar Abash dan tiba-tiba mencium bibir Sifa.
Sifa pun membelalakkan matanya, di saat merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya.
Abash pun melepaskan ciumannya dan menatap dalam ke mata Sifa yang masih terdiam membeku.
"Saya rasa kamu sudah mengerti apa yang saya maksud," ujar Abash dengan tersenyum puas.
"Hmm, bagaimana kalau kita merayakan hari ini dengan makan malam romantis?" usul Abash.
"Iya, makan malam romantis. Kamu mau kan?"
"Hah? Tap-tapi bagaimana dengan bertemu klien?" tanya Sifa.
"Gampang, saya bisa suruh Didi yang mewakilkan," ujar Abash dan meraih ponselnya. Pria itu pun langsung menghubungi sang asisten dan memberikan perintah kepadanya.
"Beres. Sekarang, ayo kita cari tempat makan yang enak," ujar Abash dengan tersenyum lebar.
Sifa masih bingung dengan semua yang terjadi. Apa maksud dari bosnya itu. Kenapa mereka harus merayakan hari ini? Lalu, apa arti dari ciuman tadi?
Tanpa Abash ketahui, jika seorang wanita itu butuh sebuah kepastian.
*
"Dokter Naya?" sapa Luna saat ingin menjenguk sang sahabat.
"Dokter Luna? Siapa yang sakit?" tanya Naya.
"Oh, sahabat aku. Itu," ujar Luna sambil menunjuk ke arah Putri yang sedang menikmati buah yang ada di tangannya.
"Oh, jadi Mbak Putri ini sahabat kamu?" tanya Naya. "Kebetulan sekali, Arash juga sepupu aku," ujar Naya yang mana membuat Putri tersedak ludahnya sendiri.
"Pelan-pelan, sayang," ujar Mama Nayna dan memberikan segelas air kepada sang Putri.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma."
"Hmm, bisa kebetulan begini ya," kekeh Luna. "Jadi, Pak Arash ini yang kejebak sama Putri di lift?" tanya Luna dengan suara yang menggoda kepada Putri.
Putri melirik ke arah Luna dengan tatapan yang tajam, sehingga membuat sang sahabat mengulum bibirnya.
"Iya. Nak Arash juga yang udah tolongin Putri," ujar Mama Nayna.
"Ohh, jadi begitu..." seru Luna sambil tersenyum penuh arti.
"Mumpung Luna di sini, Mama kembali ke hotel dulu ya. Mau mandi, gerah," pamit Mama Nayna.
"Iya, Ma."
"Luna, titip Putri ya."
"Iya, Tante."
"Nak Arash, titip Putri, ya," pamit Mama Nayna.
"Iya, Tante."
"Ngapain titip ke dia sih, Ma?" gerutu Putri yang masih di dengar oleh Arash.
"Nak Arash ini perwira polisi, jadi wajar aja dong kalau Mama bisa mengandalkan dia," ujar Mama Nayna dengan tersenyum.
"Iih, Putri bisa jaga diri sendiri kali, Ma," gerutu Putri lagi.
"Gimana ya? Tapi gak ada salahnya kan Mama minta bantuan ke Arash buat lihat-lihatin kamu?" ujar Mama Nayna.
"Hmm, terserah Mama aja, deh," ujar Putri akhirnya mengalah.
"Ya udah kalau gitu, Mama pulang dulu ya. Bentar lagi Bara ke sini kok," kekeh Mama Nayna yang berhasil menggoda sang putri.
"Mama nyebelin," cibir Putri yang hanya di tanggapi dengan tawa oleh Mama Nayna.
Luna dan Naya pun saling melirik dan terkekeh, mereka seolah dapat membaca apa yang terjadi dengan Arash dan Putri.
"Lun, tutup tirainya dong, aku mau tidur," titah Putri.
"Baiklah tuan putri," ujar Luna dan menarik tirai pembatas setelah berpamitan kepada Naya dan Arash.
Setelah tirai tertutup, Luna pun mendapatkan ide jahil untuk menggoda sang sahabat.
"Gimana rasanya di cium Pak Arash?" goda Luna yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Apaan sih? Siapa juga yang di cium dia?" cibir Putri dengan wajah merona.
"Ayolaah, semua orang juga sudah tau apa yang terjadi di dalam lift," ujar Luna sambil menarik turunkan alisnya.
"Ap-apa yang terjadi memangnya?" tanya Putri dengan gugup.
"Mau tau aja? atau mau tau banget?" goda Luna sambil terkekeh.
"Iih, nyebelin deeh. Kalau gak mau kasih tau ya udah," kesal Putri.
__ADS_1
"Iya .. iya... aku kasih tau. Jadi----," Luna pun menceritakan apa yang di ceritakan oleh Bara dengannya. Jika Arash memberikan napas buatan untuk Putri, di saat gadis itu kehilangan kesadarannya.
'Jadi itu benar?" batin Putri, yang mana saya dia pingsan, dia sempat membuka matanya dan melihat samar jika Arash sedang menciumnya.