Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 245 - Pria Bodoh


__ADS_3

“Jika aku meminta kepada kamu untuk tidak pergi, apakah kamu akan menurutinya?”


Putri mengernyitkan kening di saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Arash. Kenapa pria itu meminta dirinya untuk tidak pergi? Apa lagi rencana Arash kali ini?


“Apa maksud kamu?” tanya Putri mencoba menerka-nerka apa yang di maksud oleh Arash.


“Jangan pergi,” pinta Arash kembali dengan tatapannya yang sendu menatap ke dalam mata Putri.


“Kenapa aku tidak boleh pergi? Bisakah kamu kasih aku satu alasan yang kuat untuk aku tidak pergi?” tanya Putri dengan harapan jika Arash menahannya karena pria itu mencintai dirinya.


Arash terdiam mendengar pertanyaan Putri, pria itu bingung harus memberikan alasan apa kepada gadis yang sedang dia cekal lengannya.


“Rash?” panggil Putri yang mana membuat Arash menghela napasnya dengan pelan.


“Apa alasannya untuk aku tidak pergi?” ulang Putri dengan suara yang dalam.


“A-aku–” Arash merasa bingung harus memberikan alasan apa kepada Putri, pria itu pun masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini.


Degup jantung yang berdetak dengan cepat, rasa takut akan kehilangan atau bukan? Dan perasaan tidak ingin jauh dari gadis itu. Apakah debaran yang saat ini dia rasakan adalah beneran cinta? Bukan hanya kagum yang seperti pria itu rasakan kepada Sifa? Atau hanya sebuah ilusi karena dirinya baru saja merasakan patah hati yang bukan patah hati sesungguhnya. Arash masih belum bisa memastikan perasaannya kepada Putri dan membedakan mana cinta beneran atau hanya sebuah kekaguman saja.


“Hmm, kalau kamu tidak memiliki alasan, maka tidak ada alasan untuk aku tidak pergi,” ujar Putri dengan nada yang terdengar kecewa.


Putri pun melepaskan lengannya dari cekalan tangan Arash. Gadis itu berbalik dan siap untuk melangkahkan kakinya.


“Jangan pergi,” lirih Arash lagi yang mana membuat Putri menghentikan pergerakan langkah kakinya untuk menjauh dari pria itu.


Putri menatap mata Arash, seolah bertanya apa alasan pria itu menahan dirinya untuk tidak pergi makan malam bersama Soni.


“Jangan pergi, karena aku takut kamu terluka. Yosi masih berkeliaran di luar sana, aku takut jika dia–”


“Aku baik-baik aja, Arash. Tidak akan ada apa-apa yang yang terjadi kepadaku. Soni akan melindungiku,” ujar Putri dengan nada penuh kekecewaan.


Putri pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Arash. Mata gadis itu pun terasa berkabut, karena ada bulir bening yang sudah menggenang dan siap jatuh membasahi pipinya yang mulus.


Arash pun hanya terdiam berdiri di tempatnya, memandang kepergian Putri yang semakin menjauh darinya.


“Pak Arash,” panggil Joko yang mana membuat Pria itu tersadar dan menoleh ke arah bawahannya itu.


“Ya?”


“Kita berangkat sekarang?” ajak Joko, yang mana memang beberapa anggota polisi sudah bersiap untuk melancarkan aksinya menangkap Yosi.


“Ya, kita berangkat sekarang,” jawab Arash dan berbalik membelakangi Putri.

__ADS_1


Putri membuka pintu mobil, gadis itu pun mengusap air matanya yang sudah terjatuh membasahi pipi.


“Kita berangkat sekarang, Bang Jo,” lirih Putri dengan isak tangisnya yang tertahan.


Jo yang sedari tadi memperhatikan Putri dan Arash dari dalam mobil pun, hanya bisa menghela napasnya pelan. Ternyata apa yang di katakan oleh sang kekasih ada benarnya, jika Arash adalah pria bodoh yang tidak peka dan tidak mengerti akan perasaan Putri dan juga perasaan pria itu sendiri.


Tanpa menjawab ucapan Putri, Jo pun melajukan mobilnya menuju apartemen Arash, di mana tempat Putri tinggal dalam beberapa bulan ini.


“Terima kasih, Bang Jo,” lirih Putri dan turun dari mobil.


Jo masih terus memperhatikan gerak gerik Putri, hingga pria itu merasa iba kepada gadis yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.


Jo mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada sang kekasih. Mengajak Desi untuk bertemu malam ini.


Sesampainya di dalam apartemen, Putri merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Gadis itu pun kembali meneteskan air matanya tanpa bisa dia tahan.


“Sesulit inikah cinta pertama?” lirih Putri.


Dia teringat akan cinta pertama sang mama kandung, di mana Papa Satria lah orangnya. Tetapi, Papa Satria sedikit pun tidak mencintai Mama Melati, pria paruh baya itu menikahi sang mama karena permintaan dari Oma Lia.


Hingga sampai akhir hayat Mama Melati, sedikit pun tak ada cinta untuk almarhumah yang di berikan oleh Papa Satria. Cinta Papa Satria hanya untuk Mama Nayna seorang.


“Apakah cinta pertamaku akan berakhir seperti Mama? Hanya mencintai seorang diri?” lirih Putri dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Jam sudah menunjukkan pukul enam, sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel Putri.


Jangan di tanya lagi siapa orang yang mengirimkan pesan kepada Putri, sudah pasti jelas jika orang itu adalah Soni.


“Oke, sebentar lagi aku turun.” send.


Putri pun kembali mematuk penampilannya di cermin. Melihat betapa cantik dirinya yang saat ini sedang terbalut oleh gaun yang indah, hingga perhatiannya terambil saat pintu kamar terbuka.


“Kamu mau pergi?” tanya Desi yang ternyata baru saja pulang.


“Huum. Kamu baru pulang?” tanya Putri balik.


“Ya, dan mau pergi kembali,” kekeh Desi sambil meletakkan tasnya di atas tempat tidur.


“Bersama Bang Jo?” tebak Putri yang di angguki oleh Desi.


“Iya, tadi saat sehabis mengantar kamu pulang, Bang Jo ngajakin aku keluar,” kekeh Desi.


“Oww, ya … tadi dia yang menjemput aku,” ujar Putri memberi tahu.

__ADS_1


“Ahh ya, aku heran deh, bagaimana kamu bisa bertahan dengan Bang Jo? Sedangkan seharian ini dia hampir tidak mengeluarkan satu patah kata pun kepada aku,” tanya Putri dengan kening mengkerut.


Desi pun terkekeh, memang kekasihnya itu sangat irit sekali berbicara. Sifat itu pun di turunkan oleh sang papa. Jika di lihat-lihat, Mami Ara cukuplah cerewet sebagai seorang ibu. Bukan cerewet suka marah-marah, tetapi selalu berbicara dan meramaikan suasana di rumah mereka. Namun, di antara kedua anak Mami Ara dan Papa Jodi, tak ada satu pun yang menuruni sifat sang mami. Mereka berdua menjadi pria pendiam dan irit berbicara, tetap selalu menunjukkan segala sesuatu hanya dengan gerakan.


“Begitulah, mau tak mau aku harus memimpin untuk berbicara,” kekeh Desi. “Dan ya, kalau kamu melihat Mami Ara, kamu gak akan percaya jika beliau memiliki dua putra yang sama sekali tak memiliki ekspresi dan irit berbicara,” sambung gadis itu masih dengan terkekeh pelan.


“Aku jadi penasaran sama keluarga Bang Jo,” kekeh Putri pula.


“Butik itu,” tunjuk Desi ke arah paper bag yang ada di samping meja rias.


“Kenapa sama paper bag itu?” tanya Putri penasaran di saat melihat ekspresi Desi.


“Butik itu milik Mami Ara, maminya Bang Jo,” ujar Desi memberitahu, yang mana membuat Putri membulatkan matanya.


“Yang beneer?” tanya Putri dengan terkejut.


“Huum, lain kali aku kenali,” ujar Desi yang menyadarkan Putri akan ponselnya yang kembali berbunyi.


“Sepertinya ada yang tidak sabar menunggu kamu di bawah,” goda Desi yang mana membuat pipi Putri pun merona.


“Kamu bisa aja. Kalau begitu aku duluan, ya,” pamit Putri yang di angguki oleh Desi.


Putri pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lift, gadis itu menghembuskan napasnya dengan sedikit keras.


“Santailah, Put, jangan gugup. Anggap saja kalau kamu tidak tahu jika Soni ingin melamar kamu,” ujar Putri yang kembali melihat tampilan dirinya di dinding lift.


“Kamu terlihat cantik dengan gaun ini, Put,” puji Putri kepada dirinya sendiri.


Ya, Putri memang terlihat sangat cantik sekali dengan gaun yang dia kenakan saat ini. Gaun berwarna hijau tosca, yang mana warna gaun itu adalah warna kesukaan Putri.


Pintu lift terbuka, Putri pun malangkahkan kakinya keluar dari lift dan mencari keberadaan Soni. Terlihat pria itu sudah menunggunya di depan meja reseptionis dengan tampilan jas yang berwarna senada dengan warna gaun yang dia kenakan saat ini. Penampilan Soni pun sungguh sangat memukau mata wanita mana pun, termasuk Putri saat ini yang juga menganggumi penampilan pria itu yang berbeda dari hari biasanya.


“Kita berangkat sekarang?” ajak Soni yang sudah mengulurkan tangannya kepada Putri.


“Oke.” Putri pun menyambut uluran tangan Soni, yang mana hal itu di lihat oleh Jo di sudut lain.


Di tempat lain.


Arash yang sudah berhasil menangkap Yosi pun, saat ini hanya memikirkan Putri saja. Pria itu sampai tidak fokus saat atasannya memuji kinerja mereka di saat Yosi melakukan perlawanan kepada pihak kepolisian.


“Pak Arash, ada apa?” tanya Joko yang menyadarkan Arash dari pikirannya.


“Saya harus pulang, ada hal penting yang harus saya lakukan,” ujar Arash dan langsung meminta izin kepada atasannya itu.

__ADS_1


Untungnya atasan Arash memberikan izin untuk pria itu pergi, karena di dukung oleh Daddy Bara yang juga ada di dalam tim tersebut.


“Putri, aku harap kamu belum pergi,” lirih Arash sambil melajukan mobilnya dengan kencang.


__ADS_2