Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 61 - Setuju Lembur


__ADS_3

Temani Sang bos lembur? Haruskah Sifa menerima tawaran tersebut?


"Kamu gak mau?" tanya Abash saat melihat Sifa hanya terdiam saja.


"Saya mau, tapi__"


"Tapi apa? Kalau masalah uang lebur, kamu tenang aja. Saya bisa kasih kamu uang lembur lebih dari yang di kantor," ujar Abash.


"Bukan itu, pak. tapi saya ingin menolak uang tersebut. Saya akan membantu Bapak lembur, tapi saya tidak akan menerima uang lembur yang bapak tawarkan," uajr Sifa.


"kenapa?" tanya Abash dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Karena hanay ini yang bisa saya lakukan untuk berterima kasih dengan Bapak," ujar Sifa dengan tersenyum sangat manis sekali sehingga membuat jantung Abash tak merasa aman.


Deg ..


'Abash, sebenarnya tujuan kamu ngajakin Sifa lembur apa?' tanya batin Abash. 'Selama ini kamu bisa menangani semuanya sendiri. Kenapa sekarang meminta bantuan? Lagi pula bukannya kerjaan yang harus kamu kerjakan itu gak banyak ya? Dan hanya dengan kamu sendiri aja, bisa kamu kerjakan,' ujar Batin Abash berkata.


Suara dering ponsel pun membuyarkan lamunan Abash. Pria itu meraih ponselnya yang ada di dalam kantong.


"Ya, Ma?" ujar Abash kepada seseorang yang berada di seberang panggilan.


"Kamu sudah makan?" tanya Mama Kesya.

__ADS_1


"Sudah, tadi ada meeting sama klien. Jadi sekalian makan malam," jawab Abash.


"Oh, Mama pikir belum. Ya sudah kalau begitu, ini kamu di mana?" tanya Mama Kesya yang masih terhubung di sambugan telepon.


"Abash sudah di apartemen. Ini lagi di lift," ujar Abash.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Selamat istirahat, jangan banyak bergadang ya," ujar Mama Kesya.


"Iya, Ma," jawab Abash.


Setelah berbincang sesaat dengan Mama Kesya, pria itu pun memutuskan panggilan setelah mengucapkan salam.


Pintu lift terbuka di lantai di mana apartemen Sifa berada.


"Kamu ganti baju dulu, nanti langsung ke apartemen saya saja."


"Baik, Pak." jawab Sifa dan keluar dari lift.


Setelah Sifa keluar, pintu Lift pun kembali tertutup. Sifa pun langsung bergegeas menuju apartemennya untuk mengganti baju.


Sesampainya di apartemen, Sifa langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan juga mengganti pakaiannya.


"Jas Pak Abash," lirih Sifa saat menyadari jika di tubuhnya masih terdapat jas milik Abash.

__ADS_1


Sifa menghela napasnya pelan sambil membuka jas milik bosnya itu.


"Di cuci dulu nih, baru di balikin," ujar Sifa dan menggantung jas milik Abash.


Sifa pun bergegas memberishkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lain dan juga sopan.


Setelah berganti pakaian, Sifa pun bergegas menuju apartemen Abash. Gadis itu sengaja tergesa-gesa karena tak ingin terlalu lama dan juga kemalaman di apartemen Abash.


Sesampainya di apartemen Abash, Sifa menekan bel menandakan jika dirinya telah datang. Tak berapa lama pintu apartemen pun terbuka.


"Ayo masuk," ujar Abash dan membiarkan Sifa untuk masuk.


"Cuma kita berdua?" tanya Sifa. Gadis itu tadi sempat berpikir jika akan ada Didi bersama mereka.


"Emangny saya ada bilang kalau akan ada orang lain?" ujar Abash.


"Hah? Oh gak. Saya pikir__"


"kamu tenang saja. Saya tidak akan melakukan hal yang tak senonoh dengan kamu. Ini murni hanya kerjaan," ujar Abash seakan tau apa yang di pikrikan oleh Sifa.


Abash mengajak Sifa duduk di living room. Di sana sudah terdapat dua laptop yang tengah menyala.


"Kamu sudah makan?" tanya Abash.

__ADS_1


"Sudah Pak."


"Baiklah, saya hanya bertanya. kalau kamu lapar, di dapur ada mie instan. Masak saja sendiri. Kalau kamu mau buah, makan saja apa yang ada di atas meja," ujar Abash sambil menunjuk ke arah meja yang sudah terdapat bermacam buah-buahan.


__ADS_2