Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 311


__ADS_3

"Maaf, hiks ..."


Hanya itu yang bisa Putri ucapkan kepada Arash. Pria itu mengepalkan tangannya erat karena tidak bisa mengeluarkan semua emosinya.


"Put, Akkhhhh ....." pekik Arash yang tidak tahu harus menyalahkan siapa.


Bukan hanya Arash yang terpukul, tapi Putri juga.


Di sini, Putri lah yang paling terpukul dari pada Arash. Dia kehilangan kehormatannya tanpa dia setujui. Dan juga, kehormatan yang selama ini dia jaga, di rampas oleh Abash, kembaran tunangannya sendiri.


Namun, bagaimana semua itu bisa terjadi?


Di tempat lain, Abash sudah berlutut kepada Sifa, meminta maaf kepada kekasihnya itu, karena Abash telah menaruh garam di atas luka yang menganga di dalam hati Sifa.


"Aku minta maaf, Sifa. Aku tidak tahu kenapa semua ini terjadi. Aku berani bersumpah," lirih Abash dengan mata yang berkaca-kaca.


Sifa menahan Isak tangis yang sedari mencoba menembus bibirnya. Walaupun air mata sudah membanjiri mata dan membasahi seluruh wajahnya, gadis itu mencoba agar tidak terlihat lemah saat ini.


"Mas, aku harap kamu bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan."


Setelah mengatakan hal itu, Sifa bangkit dari duduknya dan meninggalkan Abash.


"Sifa, tunggu. Jangan begini," lirih Abash sambil menahan lengan Sifa.


"Lepas, Mas. Biarkan aku sendiri."


"Tidak Sifa, tidak. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri."


"Mas, aku mohon, tolong lepaskan aku. Biarkan aku sendiri, Mas," pekik Sifa sambil menghempas tangan Abash.


"Sifa, aku tidak akan membiarkan kamu sendiri. Aku yang membawa kamu ke sini, maka aku juga yang akan mengantarkan kamu pulang dengan selamat."


Setelah mengatakan hal itu, Abash menggenggam tangan Sifa dengan erat. Pria itu tidak akan melepaskan tangan yang basah dan terasa dingin itu, walaupun sang empu memberontak agar tangannya terlepas.


Tidak, Abash tidak akan membiarkan orang yang dia cintai pulang sendirian di tempat jauh ini.


*


Di dalam mobil, tidak ada satu orang pun yang berbicara. Sifa benar-benar membungkam mulutnya. Dia juga tidak membiarkan isam tangis keluar dari bibirnya yang sudah bergetar hebat. Hanya air mata yang mengalir deras, karena Sifa gak mampu membendungnya lagi.


Abash melirik ke arah sang kekasih, terlihat jika gadis itu sangat terluka dengan pengakuan yang telah dia berikan. Andai saja waktu bisa di ulang, mungkin Abash akan lebih berhati-hati lagi malam itu.

__ADS_1


Tidak, semua sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak ada waktu yang bisa di ulang kembali. Abash harus mencari tahu siapa dalang yang telah melakukan hal ini kepada dirinya dan juga Putri.


Akhh, membayangkan kejadian itu, Abash merasa ingin menggantung dirinya saat ini juga.


"Bajingan kamu, Bash," maki Abash kepada dirinya sendiri.


Di mobil yang lain, Putri masih sesenggukan dan tidak berani menatap ke arah Arash. Dia benar-benar merasa bersalah, walaupun dia sendiri tidak mengingat apa yang telah terjadi malam tadi.


Saat Putri terbangun pagi, dia benar-benar terkejut di saat menemukan dirinya berada di satu selimut yang sama dengan Abash.


Ya, dia sangat yakin jika pria itu adalah Abash, karena warna rambut Arash dan Abash malam itu berbeda.


Putri melihat tubuhnya yang tidak terbungkus sehelai benang pun, dia memekik keras sehingga membuat Abash terbangun dari tidurnya. Pria itu meringis di saat merasakan pusing yang hebat, sehingga detik selanjutnya dia tersadar akan kondisi dirinya saat itu.


Abash melihat tubuhnya yang ada di dalam selimut, sama halnya dengan Putri, di mana pria itu juga tidak mengenakan satu helai benang pun saat itu untuk menutupi bagian penting pada tubuhnya.


Abash bertanya kepada Putri dan meminta maaf, walaupun dia juga tidak ingat apa yang telah terjadi kepada mereka malam itu. Abash berpikir, jika mereka di jebak dan semua ini di rekayasa agar mereka terlihat tidur bersama.


Lalu, bagaimana dengan noda merah yang ada di seprai dan juga perkakasnya?


"Aku akan bertanggung jawab." satu kalimat itu pun keluar dari mulut Abash, walaupun Putri meminta untuk menyembunyikan kejadian ini dari pasangan mereka.


Namun, siapa yang menyangka, jika saat mereka keluar dari kamar, Arash dan Sifa sudah berada di depan kamar itu dengan wajah yang terkejut. Pakaian Putri yang terdapat sedikit sobekan, begitu juga kancing baju Abash yang terlepas dan juga ada noda lipstik di sana, membuat pikiran Arash pun melayang entak ke mana dan bertanya-tanya.


"Antar saja aku ke hotel," pinta Putri saat Arash sudah memasuki jalanan ibu kota.


"Sebaiknya kamu pulang, Put."


"Antar aku ke hotel, atau aku turun di sini," ancam Putri yang mana membuat Arash menghela napasnya dengan berat.


Pria itu pun terpaksa mengantarkan tunangannya ke hotel, karena tidak ingin memperburuk keadaan Putri.


Sesampainya di hotel, Arash ikut turun walaupun Putri melarangnya. Untungnya pria itu membawa sang tunangan ke hotel milik mereka. Jadi, tidak sulit bagi Arash untuk memantau sang tunangan.


Arash pun membiarkan Putri masuk ke dalam kamarnya sendiri, setelah membantu gadis itu melakukan check in.


Saat ini yang di butuhkan oleh Putri adalah waktu menyendiri. Ya, Putri butuh waktu sendirian untuk menenangkan perasaannya.


*


Abash memarkirkan mobil di basemen apartemennya. Sifa langsung membuka pintu mobil dan bergegas turun dari dalam mobil. Abash hanya bisa memandang punggung gadis itu dengan rasa bersalah yang membuncah di dalam hatinya.

__ADS_1


"Bagaimana caraku menyembuhkan luka di hati kamu, Sfia?" lirih Abash dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.


Sedari tadi, Abash sengaja menahan air matanya di depan sang kekasih, karena dia tidak ingin terlihat di kasihani oleh gadis yang dia cintai atas kesalahan yang telah dia perbuat.


Hanya dalam satu malam, semua impian yang sudah Abash bangun dengan Sifa, hancur lebur dalam satu detik.


*


Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu, Sifa sempat tidak masuk kerja selama dua hari, gadis itu menghilang entah ke mana. Abash sempat mencari keberadaan Sifa, akan tetapi dia seolah kehilangan jejak sang kekasih.


Namun, saat hari ketiga, Sifa kembali bekerja untuk berpamitan dengan teman-teman kantornya, karena esok dia sudah mulai bekerja di perusahaan Farhan dan bergabung ke tim Cobra.


Hal ini sebenarnya sangat menguntungkan Sifa, karena dia tidak perlu lagi melihat wajah sang kekasih yang mana membuat hatinya semakin terasa sakit.


Tidak hanya Sifa yang menghilang tanpa kabar. Putri pun juga tidak ada kabarnya setelah gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Arash sampai mencari keberadaan Putri hingga ke Bandung, akan tetapi gadis itu tidak berada di sana. Tidak hanya Putri, Abash juga melakukan hal yang sama. Mencari keberadaan gadis itu dan ingin membicarakan tentang tanggung jawab yang akan dia lakukan.


Jika Sifa sudah di ketahui keberadaannya, tetapi tidak dengan Putri yang saat ini masih tidak di ketahui keberadaannya.


Abash baru saja memarkirkan mobilnya di teras rumah. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah melihat batang hidung sang kembarannya di rumah. Tapi hari ini, Arash berada di rumah, memandang langit gelap yang bergelimang bintang di pinggir kolam renang.


"Rash," tegur Abash, sehingga membuat Arash menoleh ke arah pria itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Abash dan mendudukkan bokongnya di kursi yang yang ada di sebelah Arash.


Arash menarik napasnya panjang, pria itu menatap mata sang kembaran dengan serius.


"Biarkan aku yang bertanggung jawab. Putri adalah calon istri aku, jadi biarkan aku yang bertanggung jawab," ujar Arash tanpa ada rasa keraguan sedikit pun.


Abash sempat tertegun dengan apa yang Arash katakan. Nyatanya kembarannya itu sangat mencintai Putri, dan pasti kejadian ini membuat pria itu sangat terpukul sekali. Namun, jika hal ini di balik, maka Abash pastikan jika dia juga akan melakukan hal yang sama dan akan menanggung tanggung jawab atas orang yang dia cintai.


"Tidak, Rash. Aku tidak bisa melepas tanggung jawab aku," ujar Abash menolak permintaan Arash.


"Kenapa, Bash? Kenapa? Kamu tidak mencintai Putri, kamu tidak bisa membahagiakan dia. Jadi, biarkan aku yang bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kamu perbuat," tegar Arash.


"Tidak, Rash. Aku tidak bisa. Bagaimana jika Putri mengandung anak aku? Bagaimana, Rash? Bagaimana jika Putri hamil dan mengandung anak aku?" tegas Abash.


"Aku yang bersalah, maka aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Putri, terlepas dia mengandung anak aku atau tidak."


Praaang ...

__ADS_1


Abash dan Arash pun serentak menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka terbelalak di saat melihat ratu di rumah itu berdiri di sana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ma-mama?"


__ADS_2