Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 158 - Tebakan Mama Kesya


__ADS_3

Sifa benar-benar gugup, sedari tadi dia terus mengirim pesan kepada Abash di saat memiliki kesempatan.Ya, pesan apa lagi selain kalau tidak mengancam sang kekasih untuk tidak mengatakan tentang hubungan mereka yang sebenarnya.


"Jadi, kenapa kamu gak bilang kalau Sifa yang tempati apartemen kamu?" tanya Mama Kesya setelah memesan makan malam mereka di restoran yang ada di dekat apartemen.


"Mama tau Abash gimana kan?" jawab Abash yang di angguki oleh Mama Kesya.


"Sifa, kamu sering masak gak?" tanya Mama Kesya tiba-tiba.


"Hmm? Ya, Tante? Gimana?" tanya Sifa gugup, karena gadis itu baru saja ketangkap basah melirik ke arah Abash.


"Tante tanya, kamu sering masak gak di rumah?"


"Oh, Sering Tante."


"Bagus deh kalau gitu. Abash itu suka banget sama tumis capcai pakai jamur. Pokoknya apapun tumisan sayur yang pakai jamur, Abash suka. Kamu nanti sering-sering masakin itu untuk Abash ya! Kan kalian di gedung apartemen yang sama. Lagi pula, Abash ini suka malas makan dan gak ingat waktu kalau udah di depan komputer. Kamu ingetin dia buat makan ya," titah Mama Kesya dengan tersneyum penuh arti.


"I-iya, Tante. Insya Allah," cicit Sifa dengan gugup.


Abash tersenyum tipis, pria itu sudah menduga jika sang mama adalah wanita yang paling peka di dunia. Buktinya, Mama Kesya sudah memberi tahu apa saja makanan kesukaan dirinya. Padahal, tanpa Mama Kesya sebutkan pun, Sifa sudah tahu, karena Abash sendiri yang mengatakannya.


"Ah, pesananan kita udah datang. Ayo makan," ajak Mama Kesya.


Mereka pun makan bertiga dengan diam,. Ya, walaupun sesekali Mama Kesya terus mengajak Sifa berbicara tentang Abash dan apapun yang di sukai dan tidak di sukai oleh pria itu.


"Mama mau bicara sama kamu tentang Papa. Jadi, Mama ikut kamu ke apartemen ya," pinta Mama Keysa.


Mamam Kesya sengaja mengatakan ingin berbicara tentang suaminya, karena posisi mereka saat ini ada di dekat Sifa.


"Iya, Ma."


Mama Kesya pun ikut turun dari mobil, karena wanita paruh baya itu akan berbicara empat mata dengan snag anak. Saat di dalam lift, Mama Kesya sempat menawarkan kepada Sifa untuk selalu berangkat dan pulang kantor bersama Abash, akan tetapi Sifa menolak akan hal tersebut.


"Ah ya, sepedanya udah Mama letakkan di tempat parkikan khusus. Ini kunci rantai sepedanya," ujar Mama Kesya sambil memberikan kunci rantai kepada Abash.


"Makasih, Ma."


"Sifa, ini kunci rantai sepeda kamu, ya."

__ADS_1


"Iya, Tante. Makasih banyak."


Ting ...


Pintu lift pun terbuka, Sifa pamit turun duluan dari lift.


"Sampaikan terima kasih saya ke Oma, Tante," uajr Sifa sebelum keluar dari lift.


"Sebaiknya kamu yang bilang sendiri. Ah ya, hari minggu ke rumah ya, Tante ada arisan di rumah, kamu tolong bantu-bantu ya. Jadi, nanti kamu bisa langsung mengucapkan sendiri ucapan terima kasihnya ke oma."


"Iya, Tante, Insya Allah."


Pintu lift pun tertutup, Mama kesya langsung memandang ke arah sang putra.


"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tebak Mama Kesya.


"Hah? Mama tanya apa sih?' gugup Abash.


"Mama butuh penjelasan dari kamu. Oke, Mama mengerti jika kalian tidak ingin mengungkapkan hubungan kalian. Jadi, kamu harus kasih tau alasannya sebelum Mama seret kalian berdua ke KUA," ancam Mama Kesya.


Abash mengerjapkan matanya, pria tu pun menggandeng lengan sang mama dengan manja dan tersenyum manis.


Sesampainya dia apartemen, Mama Kesya langsung melemparkan kembali pertanyaan yang sama kepada sang putra.


"Cepat, jelaskan ke Mama, atau Mama telpon Papa untuk mengurus berkas pernikahan kalian besok," ancam Mama Kesya yang sudah meraih ponselnya dan siap menghubungi sang suami.


"Ma, jangan," mohon Abash.


"Makanya, jangan kebanyakan bengong. Ayo cerita," titah Mama Kesya.


"Jadi begini, Ma. Abash dan Sifa memang berpacaran. Tapi, Sifa tidak ingin hubungan kami ini di ketahui oleh orang lain. Maka dari itu, Abash menyembunyikan hal ini dari Mama atas permintaan Sifa."


"Loh, kenapa begitu? Kamu gak bilang ke Sifa? Kalau Mama itu gak milih-milih menantu. Ya emang sih, Mama pernah bilang ke kamu, kalau bisa jika kamu ingin mencari istri itu yang sudah tamat kuliah. Sebenarnya Mama dari awal sudah curiga dengan kamu," ujar Mama Kesya.


"Sifa punya alasan yang kuat, Ma."


Abash pun memberi tahu apa alasan Sifa ingin menyembunyikan status hubungan mereka. DI mana Sifa tak ingin di cap sebagai memanfaat Abash untuk kepentingan pribadinya sendiri.

__ADS_1


"Hmm, begitu ya. Jadi, Sifa ingin membuktikan ke semua orang yang sudah merendahkan dan meremehkan dirinya, kalau dia itu mampu lulus kuliah tanpa bantuan orang lain," lirih Mama Kesya.


"Oke, Mama hargai keputusan kalian berdua untuk menyembunyikan status hubungan kalian ini. Tapi kamu harus ingat, kalian in belum muhrim, jadi jangan macem-macem, oke?" tegur Mama Kesya.


"Iya, Ma. Gak macem-macem kok, cuma satu macem aja," kekeh Abash.


"Abash!" tegur Mama Kesya lagi dengan tatapan yang tajam dan juga penuh peringatan.


"Canda, Ma," kekeh Abash sambil menunjukkan dua jarinya berbentuk huruf V.


"Hmm, ya sudah kalau begitu. Sudah malam juga, Papa pasti cariin Mama. Kalau begitu Mama pulang ya," pamit Mama Kesya.


"Gak tidur di sini aja, Ma?"


"Kamu tuh yag seharusnya pulang, bukan Mama yang tidur di sini," ketus Mama Kesya dengan manja.


"Iya, beosk Abash pulang."


Abash pun mengantarkan sang mama hingga ke lobi, kemudian pria itu kembali ke apartemennya.


Cling ...


Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponselnya.


"Mas, Mama udah pulang belum?"


Abash tersenyum membaca enam pesan dari sang kekasih. Ya, ternyata Sifa sedari tadi sudah mengirimi diirnya pesan, akan tetapi karena terlalu asyik berbincang dengan sang Mama pun, membuat pria itu tak melihat lagi ke ponselnya.


"Mama tidur di sini. Kata mama, besok dia mau sarapan dari masakan kamu." send.


Abash pun terkekeh saat mengirimkan pesan untuk Sifa. Entah mengapa, dia sangat ingin menjahili kekasihnya yang menggemaskan itu.


"Hah? Serius, Mas? Aku harus masak apa besok?" tanya Sifa dari pesan singkatnya.


"Terserah kamu. Yang jelas, Mama itu suka cerewet kalau menu di atas meja gak lengkap." send.


Abash terus tersenyum membayangkan wajah Sifa yang pasti saat ini sudah sangat menggemaskan. Ingin rasanya dia melakukan panggilan video call, akan tetapi dia takut ketahuan oleh sang kekasih, jika dirinya telah berbohong.

__ADS_1


Di apartemen lain, Sifa sudah mondar mandir sambil menggigiti jarinya.


"Duh, masak apa besok buat camer?" gumamnya dengan panik.


__ADS_2