
Selama kepergian Putri, setiap hari Zia selalu menyempatkan diri untuk datang ke kediaman Mama Kesya. Wanita itu sengaja sering berkunjung hanya untuk melihat Yumna dan memastikan jika bayi mungil dan cantik itu baik-baik saja, walaupun hanya mampir sebentar.
"Tante, mungkin empat hari ke depan Zia tidak bisa datang ya," ujar Zia memberitahu.
"Kenapa, sayang?" tanya Mama Kesya merasa penasaran.
"Zia mau ke Singapura, Tante. Ada pameran di perhiasan di sana. Zia rencana mau ikut melihat pameran tersebut," jawabnya.
"Oh, iya sayang. Gak papa kok." Mama Kesya tersenyum memandang wajah Zia.
Sebenarnya, jauh sebelum Bunda Sasa mengatakan ingin melamar Zia, Mama Kesya sudah berniat untuk menjadikan Zia menantunya. Dia ingin Zia menggantikan posisi Putri sebagai ibu dari kedua cucunya itu. Tapi, mengingat bagaimana Arash pasti akan menolak ide itu, Mama Kesya pun terpaksa mengubur keinginannya dalam-dalam. Lagi pula, walaupun Zia tidak menjadi istri Arash, akan tetapi kasih sayang yang Zia berikan kepada Yumna dan Rayyan sudah menjadi obat perindu bagi kedua cucunya.
Mama Kesya dapat melihat, jika Zia memberikan kasih sayang kepada Yumna dan Rayyan begitu tulus, tanpa ada niatan sedikit pun untuk menggantikan posisi Putri di hati Arash. Tidak seperti Rina yang terlihat jelas jika ingin menggantikan posisi Putri di hati Arash. Tapi, semua itu balik lagi kepad Arash, kan. Siapa yang tahu isi hati seseorang. Mana tahu, Arash merasa nyaman dengan Rina. Ya, dua bulan ini memang Arash dan Rina sering terlihat bersama. Bisa saja 'kan, dari kebersamaan mereka bisa menumbuhkan cinta atau rasa nyaman di antara keduanya.
"Yumna, Uti izin gak jenguk kamu, ya. Gak lama kok, cuma empat hari aja, yaa!" Zia pun terlihat berbicara kepada bayi mungil yang belum mengerti apa-apa itu. Akan tetapi, entah mengapa terlihat raut wajah Yumna yang terlihat sedih, di saat mendengar jika Zia tidak akan datang untuk menjenguknya.
"Uuh, cup … cupp … cupp … jangan nangis dong, sayang. Uti cuma pergi sebentar aja kok. Nanti, Uti beliin Yumna oleh-oleh, ya. Yumna mau oleh-oleh apa? Baju atau boneka?" ujar Zia sambil menggendong Yumna, di saat bayi cantik dan mungil itu mulai menangis.
Lihatlah, sepertinya ikatan antara Yumna dan Zia pun sudah terjalin dan terikat dengan kuat. Yumna menangis seolah tidak ingin Zia pergi jauh darinya.
"Andai saja Zia bisa menjadi ibu bagi Yumna!" batin Mama Kesya. "Tidak ada wanita yang pantas menjadi pendamping bagi Arash, selain Zia. Tidak ada wanita yang pantas menjadi ibu pengganti untuk Yumna dan Rayyan, selain Zia. Tidak ada," sambungnya lagi dalam hati. "Tapi, aku tidak boleh egosi, kan? Zia patut bahagia dengan pria yang dia cintai."
Mama Kesya menghela napasnya pelan dan panjang, membuat semua perasaan dan keinginannya itu jauh-jauh dari hati dan pikirannya. Ya, Zia patut bahagia kan dengan pria yang gadis itu cintai.
*
Empat hari telah berlalu, nyatanya Zia harus menghabiskan waktu lebih lama dari seperti apa yang dia janjikan kepada Yumna. Salah satu karya Zia masuk ke dalam karya terbaik dalam pameran tersebut, sehingga Zia harus membuat perjanjian kontrak dan banyak hal lainnya yang harus dia urus. Zia pun harus menghabiskan dua hari lebih lama dari waktu yang dia janjikan kepada Yumna.
__ADS_1
"Yumna baik-baik ya, sayang. Uti gak bisa pulang dulu hari ini. Karya Uti menang di kontes pameran, loh. Ini semua pasti berkat doa Yumna, kan? Terima kasih ya, sayang," ujar Zia dari panggilan video yang tersambung pada ponsel Mama Kesya.
"Selamat Uti Yumna yang cantiiik. Semoga Uti bisa selalu sukses terus, ya," sahut Mama Kesya dengan menirukan suara anak kecil.
"Terima kasih, sayang."
"Selamat ya, Zi. Semoga kamu bisa menjadi designer perhiasan yang terbaik se Asia. Tidak, bukan se Asia, tapi se-dunia," ucap Mama Kesya dengan sungguh-sungguh.
"Amiin, terima kasih banyak, Tante, doanya."
Setelah berbincang-bincang sebentar, Zia pun memutuskan panggilannya. Zia harus beristirahat untuk melanjutkan hari esok yang pastinya lebih melelahkan dari hari ini.
Mama Kesya menghela napasnya pelan, setelah panggilan videonya dengan Zia telah terputus. Wanita paruh baya itu pun kembali memasangkan obat kompres di kening Yumna. Ya, sudah dua hari ini Yumna demam, sepertinya bayi mungil itu merindukan kehadiran Zia. Mama Kesya sengaja tidak memberitahu kepada Zia, jika Yumna sedang sakit saat ini. Wanita paruh baya itu tidak ingin membuat Zia merasa khawatir dan kembali ke Jakarta, sehingga membuat gadis itu meninggalkan pameran perhiasan yang pastinya menjadi impian setiap designer jewelry untuk mengikutinya.
Kesempatan yang sedang Zia dapatkan ini tidaklah mudah. Bahkan, bisa saja kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya. Tidak sembarang orang yang bisa ikut berpartisipasi dalam pameran perhiasan. Bahkan, yang sudah memiliki nama besar pun terkadang juga tidak bisa ikut berpartisipasi, karena peserta yang mengikuti pameran tersebut terbilang cukup terbatas. Dan yang syarat yang paling utama yang bisa menjadikan peserta adalah hasil karya yang begitu menakjubkan dan pantas untuk di pamerkan.
"Zia, Pa. Katanya dia belum bisa pulang, Mungkin, sekitar dua hari lagi dia baru bisa kembali," ujar Mama Kesya memberitahu.
"Papa tau, Zia menjadi pemenang dalam pameran perhiasan, Pa. Makanya dia harus mengurus segalanya dan menghabiskan beberapa hari lagi di Singapura," jelas Mama Kesya.
"Alhamdulillah. Syukurlah kalau Zia menang. Lagi pula, perhiasan yang Zia design memang terlihat sangat cantik. Simple tapi terlihat begitu elegant," puji Papa Arka.
"Iya, Pa. Mama juga belum bisa move on dari perhiasan yang Papa pesan dari Zia," ujar Mama Kesya.
"Cantik, sederhana, dan elegant. Sama seperti kamu, istriku," bisik Papa Arka dengan mesra.
"Terima kasih, suamiku."
__ADS_1
"Bagaimana suhu badan Yumna? Apa sudah turun?" tanya Papa Arka yang kembali fokus kepada tujuan utamanya masuk ke dalam kamar Yumna. Ya, sebelum pikirkan negatifnya semakin merajalelai dirinya dan terpaksa menculik Mama Kesya untuk di bawa ke kamar mereka.
Ya, tau sendiri kan kenapa Papa Arka sudah menculik Mama Kesya!
"Masih belum, Pa. Tapi ini sudah Mama kasih obat kok. Semoga saja demamnya cepat turun," ujar Mama Kesya.
"Ya, semoga saja, ya. Kalau demamnya belum juga turun, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja?" saran Papa Arka.
"Iya, Pa."
Keesokan harinya. Suhu badan Yumna ternyata semakin bertambah. Bayi mungil itu pun terlihat semakin rewel dalam gendongan Arash.
"Gimana, Rash? Apa kita bawa ke rumah sakit aja sekarang?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma. badan Yumna begitu panas. Padahal, sudah semalaman Arash memeluknya tanpa memakai baju," ujar Arash memberitahu.
"Ya sudah kalau begitu, Mama hubungi Lucas dan Anggel dulu, ya."
Mama Kesya pun mengambil ponselnya, kemudian menghubungi Kak Lucas dan Mbak Anggel untuk memberitahu jika mereka sedang menuju ke rumah sakit membawa Yumna yang demam tinggi.
"Mama Nayna gimana, Ma? Apa sudah Mama beritahu jika kita mau ke rumah sakit?" tanya Arash saat Mama Kesya sedang membereskan perlengkapan Yumna.
"Iya, nanti Mama hubungi. Sekalian bilang untuk tidak memberitahu kepada Zia jika Yumna di rawat di rumah sakit. Mama tidak mau, jika pekerjaan Zia terganggu karena kepikiran Yumna," ujar Mama Kesya memberitahu.
"Iya, Ma."
Mama Kesya pun kembali melanjutkan membereskan pakaian Yumna. Wanita paruh baya itu pun juga membawa beberapa pasang pakaian almarhumah Putri untuk mengusir kerinduan Yumna kepada ibunya itu. Ya, bisa saja kan jika Yumna demam tinggi karena merindukan sosok ibunya? Atau sosok dari adik ibunya?
__ADS_1