Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 379


__ADS_3

"Ayo, sayang, kamu harus makan yang banyak. Karena lama ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita," ujar Abash sambil memberikan lauk dan sayur kepada Sifa.


Sifa membulatkan matanya, di saat mendengar kalimat yang membuat jantungnya berdebar dengan cepat.


"Kenapa malah bengong? Apa mau aku siapin?" tanya Abash dengan nada yang menggoda.


"Hah? Eng-enggak." Sifa dengan cepat mengambil piring yang Abash sodorkan untuknya.


"Nah, gitu dong. Makan sayurnya yang banyak, ya. Biar nanti malam bisa kuat nahan sakitnya, gak kayak tadi," bisik Abash yang mana membuat Sifa tersedak makanan yang ada di dalam mulutnya.


Uhuukk ... uhuk ... uhuk ...


Abash pun dengan cepat mengambil air untuk Sifa, membiarkan sang istri meneguk hingga habis air yang ada di dalam gelas tersebut.


"Pelan-pelan sayang, makannya." Abash mengusap punggung Sifa dengan lembut.


Sifa melirik ke arah Abash dengan kesal. Memangnya ulah siapa ini? Yang membuat dirinya sampai tersedak makanan? Bagaimana bisa Abash dengan santainya menyalahkan dirinya yang makan dengan terburu-buru.  Dan juga, untuk apa Abash mengingatkan tentang kejadian tadi? Di mana Sifa memohon kepada Abash untuk menghentikan pergerakan pinggul pria itu, karena dirinya merasa kesakitan.


Nah, makanya emak bilang kalau Abash dan Sifa benar-benar mandi, karena apa yang Abash rencanakan gagal total karena Sifa kesakitan. Ingatkan apa kata Abash, jika pria itu tidak tega untuk membuat Sifa kesakitan. Dan apakah nanti malam aksi Abash akan berhasil? Atau gagal lagi?


"Kamu gak makan, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami.


"Lihat kamu makan aja, aku sudah kenyang" ujar Abash sambil tersenyum manis.


Sifa menghela napasnya dengan pelan, kemudian gadis itu menyendokkan segarpu sayur dan menyodorkannya ke depan mulut Abash.


"Makan, Mas, kalau kamu gak makan, aku juga gak mau makan lagi," ancam Sifa.


Abash menghela napasnya dengan pelan. Pria itu pun terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar.


"Mas, kalau nanti malam aku gak ikut menemui tamu, gimana?" tanya Sifa dengan suara yang pelan.


"Kenapa memangnya kamu gak mau menemui tamu?"

__ADS_1


"emm, aku malu, Mas," cicit Sifa dengan kepala tertunduk.


Ya, Sifa malu dengan kondisi dirinya. Eits, malu bukan karena dia merasa jika tidak pantas untuk Abash, ya. Tidak, bukan karena itu. Akan tetapi Sifa merasa malu karena sekujur leher, dada, bahunya sudah penuh dengan bercak-bercak merah yang berukuran besar dan kecil. Bercak-bercak merah itu adalah hasil dari karya suaminya.


"Malu kenapa?" tanya Abash dengan kening mengkerut. "Kamu kan sudah janji sama aku dan mama, kalau kamu gak akan merasa kecil dan merasa tak pantas untuk menjadi pendamping aku, sayang. Masa kamu mau ingkar janji, sih?"


"Bukan itu, Mas. Tapi---"


"Tapi apa?" tanya Abash dengan kening yang semakin mengkerut sempurna. Detik selanjutnya, Abash dapat menebak apa yang di maksud oleh sang istri. Gadis itu pasti malu karena bercak-bercak merah yang ada di sekujur tubuhnya itu.


"Sayang, kalau kamu malu dengan hasil karya aku. Kamu tenang aja. Semua itu bisa ditutupi dengan foundation," bisik Abash dengan menggoda, sehingga membuat Sifa menoleh ke arah pria itu.


"Foundation? Dari mana kamu tau, Mas?"


Abash tersenyum lebar. "Tentu saja aku tahu. Secara Mbak Quin sering memakainya untuk menutupi tanda merah yang ada di lehernya," ujar Abash sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya ampun, Mas, apa kamu se-kepo itu? Sampai-sampai kamu bertaya hal seperti itu dengan Mbak Quin?" tanya Sifa penasaran.


"Ya gak dong, sayang. Tapi, Mbak Quin sering memesan foundation dengan Bang Fatih. Tau sendiri kan mulut Bang Fatih itu gimana? Dia sengaja mengantarkan Foundation ke rumah dan berteriak, hingga seluruh orang yang di rumah tahu, jika Mbak Quin membeli foundation hanya untuk menutupi bekas bercak merah yang ada di lehernya," jelas Abash.


Tapi, satu hal yang harus Sifa ingat, jika dia tidak boleh memesan foundation kepada Bang Fatih.


"Kenapa senyum-senyum? Jangan bilang kalau kamu sedang membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan?" tebak Abash.


Sifa pun membulatkan matanya, di saat tebakan Abash sangat tepat sekali.


"Kamu tenang aja, sayang. Aku tidak akan memesan foundation dengan Bang Fatih. Jadi, kamu jangan khawatir, ya?"


Sifa bernapas lega, setidaknya Abash mengerti akan dirinya yang tidak siap di goda oleh Bang Fatih, jika harus kehabisan foundation.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo, habiskan makanannya," titah Abash.


"Mas juga harus ikut makan," sahut Sifa yang diangguki oleh Abash.

__ADS_1


*


Wajah Sifa sudah memerah dengan sempurna, karena gadis itu merasa sangat malu sekali saat ini, di saat perias memintanya untuk membuka bhatdrop yang dia kenakan.


"Gak papa, Mbak. Kita semua di sini perempuan kok. Silahkan dibuka bathdrop-nya," pinta perias.


"Tap-tapi ..."


Abash yang melihat kegundahan sang istri pun, langsung berjalan mendekat ke arah perias dan membisikkan sesuatu. Perias itu terlhat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Baikah, Mas Abash. Saya mengerti."


Perias pun meminta kepada para semua asistennya untuk keluar kamar. Hal itu pun membuat semua asisten MUA tersebut bingung, begitu pun dengan Sifa.


"Sekarang sudah sepi, ayo silahkan di buka bathdorp-nya, biar saya utupi semua tanda merah yang ada," pinta perias tersebut sehingga membuat wajah Sifa semakin merona.


"Sayang, ayo, waktu kita gak banyak loh. Para tamu undangan sudah pada berdatangan," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengangukkan kepalanya dengan pelan.


Sifa pun membuka bathdrop yang dia kenakan, sehingga menampilkan tubuhnya yang hanya memakai tangtop bertali spageti.


Perias itu pun tersenyum, di kala melihat betapa banyaknya tanda merah yang ada di tubuh pengantin wanita. Wajar saja sih jika Sifa terlihat malu menunjukkannya di hadapan orang ramai, kan?


"Ayo, duduk sini, biar saya tutupi semuanya hingga tidak terlihat." Perias pun menuntun Sifa untuk duduk di kursi, kemudian memulai pekerjaannya.


Tiga puluh delapan menit pun berlalu, akhirnya bagian dada, bahu, dan leher Sifa sudah ditutupi oleh foundattion. Jangan di tanyakan lagi berapa banyak foundation yang dibutuhkan untuk menutupi tanda-tanda merah tersebut.


Sifa pun mengenakan kembali bathdropnya di saat para asisten perias itu kembali masuk. Di saat Sifa sedang di rias, Abash pun memperhatikan sang istri dari kejauhan.


"Bagaimana ya, caranya agar Sifa tidak kesakitan?" batin Abash. "Tapi kan, setiap baru melakukannya pasti akan terasa sakit. Aku tidak membuat Sifa harus merasakan sakit."


Abash menghela naasnya pelan dengan frustasi. Pria itu benar-benar bingung harus melakukan apa, agar Sifa tidak merasakan sakit di saat mereka akan melakukan hubungan suami istri.


"Bang Fatih, haruskah aku bertanya dengannya?" gumam Abash yang teringat jika Bang Fatih pasti bisa membantunya keluar dari masalah ini.

__ADS_1


"Tapi, ntar dia malah ngeledek aku lagi, Enggak, ah, aku gak akan bertanya dengannya," putus Abash.


__ADS_2