
Kak Lucas menatap sayu ke arah Mbak Anggel yang sedang menggendong Yumna. Di samping pria itu ada Shaka yang sedang mengondong Rayyan. Anak kecil itu terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya. Rayyan sudah tidak lagi menangis sesenggukan, dia sudah terlihat lebih tenang saat ini. Mungkin alasan Rayyan menangis tadi karena dia ketakutan saat berada di dalam mobil, karena Kak Lana membawa mobil dengan kecepatan tinggi, agar mereka bisa segera tiba di rumah sakit.
"Apa kami bisa membawa anak-anak masuk, Luc?" tanya Mbak Angel kepada Kak Lucas.
Kak Lucas pun menganggukkan kepalanya pelan. Tak ada alasan baginya untuk tidak membiarkan Mbak Angel membawa masuk Yumna dan Rayyan. Tangan Kak Lucas pun terangkat untuk membelai kepala Yumna yang ada di dalam gendongan Mbak Anggel. Rasanya sangat perih sekali, di saat harus membayangkan jika bayi mungil itu harus ria itu membelai kepada Rayyan dengan penuh kasih sayang. Pria yang terkenal dingin itu pun akhirnya meneteskan air matanya, tidak sanggup rasanya membayangkan jika anak sekecil Rayyan akan kehilangan ibunya.
Mbak Anggel mengangkat tangannya sebelah, menepuk pelan bahu sang sahabat yang merangkap sebagai keponakannya itu. "Semuanya akan baik-baik saja. Jika ini takdir mereka, maka tugas kita adalah melimpahkan segala kasih sayang untuk mereka berdua," bisik Mbak Anggel dengan mata yang berkaca-kaca.
Diana—istrinya Kak Lucas pun menghampiri sang suami. Wanita itu tersenyum dengan begitu manisnya kepada Kak Lucas, kemudian dia menarik tubuh sang suami dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Kamu harus ikhlas, Luc," bisik Kak Diana. Wanita itu pun membiarkan pria yang terkenal tak bisa tersentuh itu menangis di dalam pelukannya.
"Menangislah. Semua ini sudah kehendak yang maha kuasa, kamu sebagai dokter sudah menjalankan tugas sebagai mestinya dengan seluruh tenaga yang sudah kamu kerahkan," bisik Kak Diana.
Lucas pun semakin mempererat pelukannya di tubuh sang istri. Pria itu bahkan menyusupkan wajahnya di leher Kak Diana, tidak membiarkan siapa pun melihat wajahnya yang sedang menangis seperti ini.
Walaupun hubungan di antara Kak Diana dan Kak Lucas baru saja terjalin, akan tetapi Kak Diana dapat ikut merasakan bagaimana besarnya hubungan yang terjalin di antara persaudaraan suaminya itu. Kak Diana merasa beruntung, karena telah berada di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan cinta.
*
Mbak Anggel menghela napasnya pelan di depan pintu kamar Putri. Wanita itu perlahan masuk ke dalam ruangan di mana Putri berada, bersama dengan Rayyan dan Yumna.
Saat pintu berwarna putih itu terbuka, hal pertama yang Mbak Anggel lihat adalah wajah Putri yang terlihat bercahaya d balik wajah pucatnya itu.
"Mama," pekik Rayyan sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Shaka pun berjalan cepat untuk menghampiri sang kakak ipar dan memberikan Rayyan kepada Arash.
"Anakku," lirih Putri dengan air mata yang kembali terjatuh dari sudut matanya. Putri tersenyum, tersenyum bahagia karena akhirnya keinginan terakhirnya bisa terwujud.
"Mama. Mama pan uyang? Yan ndu Mama." (Mama kapan pulang? Rayyan rindu Mama)
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Rayyan pun, membuat hati siapa saja yang mendengarnya terisis pilu. Seketika, tangisan Mama Nayna dan Mama Kesya pun kembali meledak di dalam pelukan suami mereka masing-masing. Tak tega rasanya melihat perpisahan antara ibu dan anak.
"Mama minta maaf ya sama Rayyan. Sepertinya Mama gak bisa pulang lagi, sayang. Tapi, Mama akan selalu ada di dekat Rayyan," ujar Putri dengan suara yang terdengar bergetar dan semakin lemah.
"Mama au na?" tanya Rayyan dengan wajah polosnya itu. (Mama Mau ke mana?)
"Mama mau pergi bertemu dengan Oma Melati, sayang."
Mendengar kalimat yang baru saja Putri ucapkan, membuat Arash membuang wajahnya ke tempat lain. Pria itu benar-benar merasa belum siap untuk kehilangan istri yang dia cintai itu.
"Ma ti?" ulang Rayyan. (Oma Melati)
"Iya, sayang. Oma Melati. Mamanya Mama," jawab Putri.
Terlihat wajah kebingungan Rayyan yang begitu polosnya, hingga akhirnya Putri meminta Arash untuk mendekatkan Rayyan dan meminta putra mereka untuk memberikan kecupan terakhir pada dirinya.
"M-mbak" tegur Putri saat melihat Mbak Anggel.
Mbak Anggel pun membuka kain penutup wajah Yumna, sehingga membuat Putri bisa melihat wajah putrinya itu untuk terakhir kalinya.
"Yu-yumna, Maafin Mama." Napas Putri mulai terdengar tersendat-sendak, Arash pun meminta kepada sang istri untuk tidak berbicara lagi.
Putri mengulurkan tangannya dengan lemah, meminta kepada Mbak Anggel untuk mendekatkan Yumna kepadanya, agar dirinya bisa mencium putri kecilnya itu. Namun, tiba-tiba saja Yumna menangis kuat setelah mendapatkan ciuman dari Putri, sehingga membuat Mbak Anggel sedikit panik dan kuwalahan untuk mendiamkannya.
Arash pun mengambil alih Yumna dari gendongan Mbak Anggel, akan tetapi bayi mungil itu malah memangis dengan semakin kuat. Mbak Anggel sudah berusaha untuk memberikan susu, tetapi Yumna menolaknya dan terus saja menangis.
Bahkan, saat Mama Nayna dan Mama Kesya pun juga sudah turun tangan untuk membantu mendiamkan Yumna, akan tetapi bayi mungil itu terlihat tidak ingin diam. Arash sudah mencoba mendekatkan Yumna kepada Putri, mungkin ikatan antara ibu dan anak itu bisa membuat Yumna meredakan tangisnya. Bukannya semakin reda, tangisan Yumna semakin terdengar pilu.
"Mas," panggil Zia dan meminta Yumna dari gendongan Arash.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun memberikan Yumna kepada Zia.
"Cup … cup .. cup .. assalamualaikum anaknya Uti," bisik Zia kepada Yumna.
Saat berada di dalam gendongan Zia, tangisan Yumna pun perlahan mereda, bayi mungil itu pun akhirnya kembali tenang dan tertidur setelah meminum susu yang di berikan oleh Zia.
Putri yang melihat kejadian itu pun bernapas dengan lega.
"M-mas, Yu-yumna sudah memilih siapa ibunya," ucap Putri dengan lirih dan lemah.
Arash menoleh ke arah Putri. Tidak, bukan hanya Arash saja yang menoleh ke arah Putri, melainkan semua orang yang ada di sana sudah menoleh ke arah Putri, kecuali Zia.
"Sayang--"
"M-mas, se-sekarang aku merasa lega. A-aku bisa pergi de-dengan tenang, Mas. Yu-yumna sudah memilih siapa ibunya," ucap Putri dengan tersenggal-senggal.
"To-tolong ha-ha-hantarkan aku pergi, Mas," pinta Putri, di mana napasnya semakin terputus-putus saat mengucapkan permintaannya.
"Sayang---" Arash masih belum siap untuk kehilangan Putri.
"Rash, Ikhlaskan dan hantarkan Putri segera," pinta Papa Satria dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Dengan berat hati, Arash menguatkan dirinya, pria itu pun menunduk dan berbisik di telinga kanan Putri. "La illaha illallah—"
Putri pun berusaha untuk mengikuti apa yang Arash bisikkan, hingga akhirnya dia dia menghela napas untuk yang terkhir kalinya dengan kalimat yang sempurna seperti apa yang di bisikkan oleh Arash.
Tit .. tit … tit .. tiiiiiiiiiittt …..
__ADS_1
Suara mesin denyut jantung Putri pun berbunyi panjang, menandakan jika wanita itu telah pergi untuk selamanya-lamanya.
"Innallillahi wa innailahi rajiun."
Pecahlah tangis semua orang yang ada di sana. Bahkan Papa Satria pun juga ikut menangsi tersenggu-senggu sambil memeluk tubuh sang istri.
"Mas, hiks .. Mas," lirih Zia di dalam pelukan Bara.
"Iya, Dek, iya." Bara menundukkan kepalanya, mengecup pucuk kepala Zia untuk mengurangi rasa sedihnya. Akan tetapi, pria itu semakin sedih di saat menatap wajah Yumna yang berada di dalam pelukan Zia. Sungguh malang nasib bayi mungil itu, harus kehilangan sang ibu di saat umurnya yang masih sangat muda.
Zia pun berkali-kali mengecup pucuk kepada Yumna, berharap agar bayi mungil itu tidak merasakan kesedihan yang mereka rasakan saat ini. Tapi, semakin Zia mengecup pucuk kepada Yumna, gadis itu semakin menangis sesenggukan karena merasa sedih.
Secepat itukah sang kakak pergi meninggalkannya?
Andai saja waktu bisa di ulang kembali. Mungkin Zia akan menghabiskan semua sisa waktu yang ada untuk berceria dengan sang kakak. Zia akan mencurahkan segala apa yang ada di dalam hati dan pikirannya kepada sang kakak, seperti saat dulu hubungan mereka masih baik-baik saja.
Zia menyesal, karena sudah mengabaikan sang kakak selama ini dan menjaga jarak. Zia menyesal, karena sudah merubah sifatnya menjadi dingin kepada sang kakak. Padahal, Zia tahu, jika Putri begitu mencintai dirinya dengan penuh kehangatan.
"Mbak .. hiks .. Mbak Putrii …." tangis Zia sambil memeluk Yumna.
Rayyan yang melihat semua orang menangis pun, juga ikut menangis karena merasa kebingungan dan terkejut.
"Ma .. ma .. ma .." panggilnya sambil menunjuk ke arah Putri yang sudah menutup mata untuk selama-lamanya.
Tangis Shaka yang sedang menggendong Rayyan pun, kembali bercucuran. Walaupun Putri hanya seorang kakak ipar baginya. Tapi, Putri begitu baik dan mau mendengarkan semua cerita-ceritanya. Bagi Shaka, Putri bukan hanya sekedar kakak ipar, tetapi Putri juga sudah menjadi bagian keluarganya yang penting.
*
Kabar duka atas kepergian Putri pun telah tersebar. Semua sanak saudara yang berada di Bandung bergegas pergi ke Jakarta agar bisa ikut menghantarkan Putri ke pengistirahatannya yang terakhir.
"Kamu yang sabar ya, Rash. Semuanya sudah menjadi takdir yang maha kuasa. Kamu harus mengikhlaskan semuanya. "
Ya, setiap orang yang datang untuk melayat pun, selalu mengucapkan kata-kata yang sama.
Sabar dan Ikhlas. Dua kata itu pun tidak pernah lepas dari pendengaran Arash dan seluruh keluarga yang lainnya.
Apakah Arash bisa mengikhlaskan kepergian Putri?
Arash memandang kedua buah hatinya. Hanya Rayyan dan Yumna sajalah saat ini yang menjadikan Arash untuk kuat dan bertahan.
Ya, Arash akan kuat dan tegar setelah kehilangan Putri untuk selama-lamanya, karena ada buah cintanya dengan Putri yang membutuhkan kasih sayang dan perhatiannya saat ini. Arash berjanji, dia tidak akan menelantarkan dan mengabaikan kedua anaknya karena harus berlarut-larut dalam kesedihan. Arash akan memberikan semua perhatiannya kepada Yumna dan Rayyan. Itulah janji Arash kepada Putri dan kedua buah hatinya.
*
Sudah seratus hari kepergian Putri berlalu, Arash benar-benar menepati janjinya kepada Putri dan dua buah hatiny. Arash memang terpukul dan bersedih atas kepergian sang istri. Siapa yang tidak tidak terpukul atas meninggalnya orang yang sangat di cintai. Tapi, ini adalah takdir yang di harus Arash jalani bersama dengan kedua buah hatinya.
Arash sulit untuk di dekati, bahkan jika rekan kerjanya itu sedang bercerita dan mengeluh tentang istrinya yang boros, Arash malah mengatakan kalau pria itu sangat beruntung. Setelah mengatakan kalimat yang ketus kepada rekan kerjanya, Arash pun pergi meninggalkan meja di mana rekan-rekan kerjanya itu sedang berkumpul.
Selama berminggu-minggu, Arash terlihat seperti orang yang tidak bisa di sentuh dan di dekati. Bahkan, nasehat dari Mama Nayna, Mama Kesya, dan tetua lainnya pun tak di dengar oleh pria itu.
"Rash, kamu tidak lupa kan, kalau malam ini malam keseratus meninggalnya Putri?" ujar Mama Kesya mengingatkan sang putra.
"Iya, Ma. Arash ingat kok."
"Kamu jangan lupa pulang cepat, ya," pinta Mama Kesya.
"Hmm, ya, Ma." Arash pun berpamitan kepada Mama Kesya untuk berangkat kerja.
Arash baru saja tiba di depan pintu rumahnya, bersamaan dengan itu Abash pun datang bersama dengan Sifa. Perut Sifa saat ini mulai terlihat membucit, karena kehamilanya yang sudah memasuki tiga bulan. Tidak terlalu kelihatan sih memang, tapi jika di perhatikan dengan seksama, sudah terlihat perubahan dari tubuh Sifa. Terutama pada bagian pipi wanita itu, di mana sudah mulai terlihat chuby.
"Rash, mau pergi kerja?" sapa Abash dengan ramah.
Arash hanya tersenyum kecil, kemudian dia berlalu meninggal Abash dan Sifa tanpa membalas sapaan mereka.
"Ada apa dengan Mas Arash?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
"Entahlah, kita biarkan saja, ya." Abash pun merangkul sang istri untuk mengabaikan sifat Arash yang terlihat cuek dengan mereka. Mungkin pria itu masih merasa sedih karena kepergian Putri.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Sifa kepada Mama Kesya.
"Walaikumsalam. Eh, sayang, udah datang ya." Mama Kesya pun menyambut kedatangan Abash dan Sifa dengan pelukan hangat.
"Masya Allah, baru seminggu gak ketemu, tapi pipi kamu sudah mulai terlihat chubby ya," goda Mama Kesya.
"Iya, Ma. Abash sangat bersyukur kalau Sifa tidak mual-mual saat kehamilannya. Jadi, cukup Abash yang merasakan mual, Ma," sahut Abash sambil terkekeh.
Ya, setiap pagi Abash selalu terserang morning sick, sehingga dia harus muntah-muntah di setiap pagi menyapa. Tapi, Abash merasaa bersyukur karena bukan Sifa yang mengalaminya. Andai saja Sifa yang harus melewati rasa mual dan muntah-muntah di saat kehamilannya, mungkin Abash tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Sifa tertusuk duri ikan saja, Abash merasa tidak tega.
"Syukurlah kalau begitu, ya. Semoga sampai lahiran kamu gak mual-mual, ya," ujar Mama Kesya.
"Memangnya bisa mual-mual, Ma? Kalau sudah hamil besar? Bukannya kalau mual-mual itu saat hamil muda ya?" tanya Abash penasaran.
"Tidak semua wanita hamil mengalami morning sick di awal kehamilannya, Bash. Tapi, saat umur kehamilannya sudah masuk enak atau tujuh bulan, masih bisa juga terserang morning sick," jelas Mama Kesya.
"Duuh .." gumam Abash sambil menghela napasnya berat.
"Duh kenapa, Bash? Apa ada yang terluka?" tanya Mama Kesya menatap lekat ke arah sang putra.
__ADS_1
"Semoga saja Sifa tidak merasa mual-mual di saat kehamilannya sudah membesar ya, Ma. Abash tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Sifa. Biarkan Abash saja yang merasakan mual-mual," ujarnya menatap lekat ke arah sang istri.
Dapat Mama kesya lihat, betapa besarnya cinta Abash kepada Sifa. Satu hal yang Mama Kesya harapkan, semoga saja Abash tidak seperti Arash, jika suatu saat nanti Sifa harus---"
"Astaghfirullah …" Mama Kesya dengan cepat menggelengkan kepalanya, membuat Abash dan Sifa kompak mengernyitkan kening.
"Ada apa, Ma?" tanya Sifa penuh rasa penasaran.
"Hmm? Ah, tidak ada apa-apa." Mama Kesya tersenyum, kemudian dia mengajak Sifa untuk duduk.
"Ma, Abash pergi kerja dulu, ya," pamit Abash kepada Mama Kesya terlebih dahulu, kemudian baru berpamitan kepada Sifa.
"Apa kamu bertemu dengan Arash di depan tadi, Fa?" tanya Mama Kesya memastikan saat Abash sudah menjauh dari mereka berdua.
"Iya, Ma."
"Apa dia masih mengabaikan kalian?" tanya Mama Kesya lagi.
Sifa tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Mas Arash terlihat tidak menyukai Sifa," adunya. "Kira-kira kenapa ya, Ma? Apa salah Sifa?" tanya Sifa bingung.
Mama Kesya tersenyum, tangan wanita paruh baya itu pun terangkat untuk membelai rambut lembut sang menantu.
"Kamu jangan ambil hati ya atas perlakuan Arash kepada kamu. Maklumi saja, dia baru kehilangan istrinya. Pastinya dia merasa cemburu di saat melihat kebersamaan kamu dan Abash," ujar Mama Kesya merasa bersalah dengan Sifa.
Seharusnya, di saat Sifa sedang mengandung seperti ini, wanita itu tidak di bebani dengan masalah Arash yang seolah tidak menyukai pasangan suami istri.
Terkadang, di saat melihat Quin dan Abi terlihat romantis saja, Arash langsung memasang wajah tak suka. Ya, walaupun keesokan harinya dia akan kembali normal dan menyapa Mbak Quin dan Mas Abi seperti tak ada masalah apa pun sebelumnya.
"Iya, Ma. Sifa mengerti kok," jawab Sifa dengan tersenyum.
Mama Kesya merasa beruntung karena memiliki menantu yang begitu pengertian. "Terima kasih, sayang," ujar Mama Kesya merasa tidak enak.
Mama Kesya menatap wajah Sifa yang tersenyum kepadanya, dia pun menarik sang menantu ke dalam pelukannya yang hangat.
"Maafin Mama, sayang, karena Mama tidak memberikan perhatian lebih kepada kamu," bisik Mama Kesya. "Mama pun juga tidak sering mengunjungi kamu di apartemen, seharusnya Mama sering melakukannya, seperti apa yang Mama lakukan kepada almarhum Putri dulu," sambung Mama Kesya sambil menahan isak tangisnya.
"Enggak, Ma. Mama sudah sering menanyakan kabar Sifa saja, Sifa sudah sangat bersyukur sekali, Ma. Itu sudah menjadi perhatian yang begitu berarti bagi Sifa, Ma. Mama jangan menyalahkan diri Mama, ya?" pinta Sifa yang sudah merelaikan pelukannya.
Sifa memandang wajah sayu, menatap mata Mama Kesya yang terlihat layu dan letih, di mana di bawah kantong matanya sudah terdapat kantung hitam, yang menandakan jika Mama Kesya terlihat kurang tidur.
"Ma, bagi Sifa, Mama adalah yang orang tua yang paling terbaik untuk Sifa. Mama adalah orang yang paling berarti di dalam hidup Sifa, Ma. Jadi, jangan pernah Mama menyalahkan diri Mama atas kekurangan Mama. Bagi Sifa, Mama tidak memiliki sedikit pun kekurangan. Bagi Sifa, Mama adalah wanita yang paling sempurna yang ingin Sifa contoh. Suatu saat nanti, Sifa ingin menjadi seorang ibu seperti Mama," ungkap Sifa sambil menghapus air mata Mama Kesya.
"Terima kasih, Ma, karena sudah menyayangi Sifa dengan penuh banyak cinta."
*
Acara tahlilan seratus hari Putri pun berjalan dengan baik, Arash pun tidak memasang wajah masamnya kepada semua orang yang datang. Akan tetapi, di saat melihat Abash memberikan perhatian kepada Sifa. Misalnya mengambilkan kue untuk sang istri. Arash terlihat tidak menyukai hal tersebut dan memberikan pandangan ketus kepada Sifa. Entah apa salah Sifa kepada Arash, sehingga pria itu terlihat membenci dirinya.
"Boleh kita bicara sebentar?" ajak Abash kepada Arash.
Arash mengangukkan kepalanya, kemudian dia mengikuti sang kembaran menuju pinggir kolam renang.
"Ada apa, Bash?" tanya Arash saat mereka sudah berada di pinggir kolam renang.
"Kenapa kamu memandang Sifa dengan sinis? Apa Sifa memiliki salah kepada kamu, Rash?" tanya Abash yang tidak ingin berbasa basi.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu sudah menduga jika Abash akan menanyakan hal tersebut.
"Aku minta maaf, Rash. Bukannya aku bermaksud untuk menatap Sifa dengan ketus, akan tetapi!" Arash menggantung kalimanya. Pria itu menengadahkan wajahnya untuk melihat langit-langit yang di penuhi oleh bintang-bintang malam ini.
"Di saat aku melihat Sifa, aku teringat akan Putri, Rash. Perasaan dan pikiranku langsung kacau, mungkin itulah penyebab aku bersikap ketus dengan Sifa," ungkap Arash dengan wajah menyesal.
"Aku minta maaf, karena sudah menyinggung perasaan kamu, Bash. Aku hanya---"
"Sifa dan Putri berbeda, Rash. Kalau kamu begini, itu artinya kamu belum mengiklhaskan kepergian Putri. Mau sampai kapan kamu begini, Rash?" tanya Abash.
"Tidak semudah itu untuk melupakan orang yang kita cintai, Bash. Tidak semudah itu," sahut Arash yang tidak terima dengan apa yang Abash ucapkan.
"Rash, mengikhlaskan dan melupakan itu adalah dua hal yang berbeda, Rash. Mengikhlaskan bukan berarti kamu harus melupakannya. Kamu harus bisa pahami atas makna dari dua kata-kata tersebut," jelas Abash degan tegas.
Arash menarik napas dan menghelanya dengan berat.
"Aku sudah mencoba untuk ikhlas, Bash. Tapi---" Arash menggigit bibirnya, pria itu pun tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya.
Abash berjalan mendekat ke arah Arash, pria itu pun mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu sang kembaran, hingga tangisan Arash pun akhirnya pecah. Jika selama ini dia menyimpan semua kesedihannya, maka untuk pertama kalinya Arash meluapkan dan menumpahkan rasa sedihnya kepada sang kembaran.
"Menangislah, Rash. Menangislah. Keluarkan semua beban dan perasaan yang kamu pendam selama ini, Rash. Keluarkan semuanya. Biarkan dia mengalir bersama air mata kamu, Rash," bisik Abash sambil menepuk-nepuk pelan punggung sang kembaran.
"Bersikap tegar, bukan berarti kamu harus menyembunyikan rasa sedih kamu, Rash. Bersikap tegarlah di saat kamu bisa dan merasa sanggup menjalani kehidupan kamu yang sedang menanti."
Arash semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Abash, pria itu benar-benar meluapkan semua perasaan yang selama ini di pendamnya.
Tak jauh dari mereka, Mama Kesya dan Mama Nayna pun melihat kebersamaan Abash dan Arash. Mereka berdua juga ikut meneteskan air matanya di saat mendengar betapa pilunya suara tangisan Arash.
"Kisah ini belum berakhir, Rash. Karena masih ada hari esok yang menunggu untuk di ukir dan di tulis kenangannya."
\==== T A M A T ======
__ADS_1