
"Kamu beneran baik-baik aja?" tanya Arash yang melihat Putri memegang perutnya.
"Hmm, ya. Saya baik-baik aja," jawab Putri sambil menahan rasa sakit pada perutnya.
Tiba-tiba saja Putri merasa perutnya mules, hingga dirinya ingin segera ke kamar mandi.
"Kamu yakin?" tanya Arash memastikan, karena melihat wajah Putri yang terlihat sangat menahan rasa sakitnya.
"Hmm, ya," lirih Putri. "Kalau begitu saya duluan," pamit Putri sambil berjalan sedikit membungkuk memeluk perutnya yang melilit.
"Duh, kenapa secepat ini reaksi sakit perutnya sih?" batin Putri dan berusaha berjalan secepat mungkin, tapi percuma, perutnya terasa sakit dan bersamaan dengan sesuatu yang ingin mendesak keluar dari bokong.
Arash pun terus mengikuti Putri, karena merasa ada sesuatu yang tak beres dengan gadis itu.
"Beneran gak papa?" tanya Arash.
"Yaa, akhrrr...." lirih Putri pelan menahan sakit perutnya.
Putri pun setengah berjongkok sambil memeluk perutnya, serta berusaha keras agar sesuatu yang ingin mendesak keluar dari bokongnya tidak kelepasan.
"Ayo naik, biar aku gendong kamu sampai apartemen."
Arash sudah berjongkok di depan Putri, agar gadis itu naik ke punggungnya.
"Tidak usah, terima kasih," tolak Putri sambil menahan rasa sakit.
Arash menghela napasnya pelan dan menarik tangan Putri agar melingkar ke lehernya.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Putri pelan.
Arash langsung memaksa tubuh Putri agar naik ke atas pungungnya, di saat pria itu menarik kaki Putri sehingga terbuka di punggungnya, tiba-tiba terdengar suara yang terjepit.
Preeeet .....
Putri langsung menggigit bibir dan menempelkan wajahnya di punggung Arash.
"Akkhh, sungguh memalukan," lirih Putri yang masih dengar oleh Arash.
Arash sudah mengulum bibirnya, pria itu berusaha untuk tidak menertawakan penderitaan Putri saat ini.
"Aku akan berjalan cepat," ujar Arash dengan menahan tawanya.
"Terserah," lirih Putri yang sudah menyembunyikan wajahnya di punggung Arash.
Arash pun menepati ucapannya, pria itu berjalan dengan cepat agar mereka segera tiba di apartemen.
"Bi-bisakah lebih cepat lagi?" tanya Putri yang memang sudah tidak tahan untuk ke toilet.
"Oke, berpegangan yang kuat," ujar Arash dan dia pun mulai berlari di saat Putri mengeratkan pegangannya di leher pria itu.
Ya, tidak sampai mencekik juga.
"Malam, Mas Araaaasshhh ..." lirih pak satpam di saat melihat Arash berlari terburu-buru sambil menggendong seorang perempuan yang tak terlihat wajahnya.
__ADS_1
"Malam, Pak," jawab Arash sambil berlalu.
"Siapa yang di gendong Mas Arash?" tanya Satpam itu kepada temannya yang di jawab dengan mengendikkan bahu.
Arash sudah masuk ke dalam lift, pria itu dapat mendengar bunyi perut Putri yang berkriuk-kriuk sedari tadi.
"Lantai berapa?" tanya Arash.
"Se-sembilan," lirih Putri
"Bertahanlah," ujar Arash sambil menatap ke arah angka lantai lift yang terus bergerak ke atas.
"Akkh.... ini sungguh memalukan," lirih Putri dengan suara yang serak.
Bisa Arash tebak, jika gadis itu saat ini pasti sudah menangis.
"Apartemen nomor berapa?" tanya Arash lagi.
"1204." Lagi, Putrinmenjawab dengan suara seraknya.
Ting ...
Pintu lift pun terbuka, Arash bergegas keluar dan menuju kamar apartemen Putri.
"Masukkan password-nya," titah Arash.
Dengan tangan yang bergetar, Putri mengulurkan tangannya untuk menekan password apartemennya.
"Kenapa?" tanya Arash saat melihat tangan Putri hanya tergantung di depan handle pintu tanpa menekan password pintu apartemennya.
"Berapa tanggal lahir kamu?" tanya Arash.
"Buk-bukan itu," jawab Putri dan semakin meremas bahu Arash, sehingga membuat pria itu pun meringis kesakitan.
"Lalu??" tanya Arash.
"Akhh, ini sudah tak tahan," lirih Putri sambil semakin meremas bahu Arash.
Bokong yang terbuka pun membuat sesuatu yang ingin keluar dari sana, dengan bebas terlepas tanpa terjepit oleh dua bongkahan yang seharusnya mampu menahan sesuatu itu untuk keluar.
Preeettt ....
Lagi, suara itu terdengar dengan merdu di telinga.
"Aakkhh, sungguh memalukan," rengek Putri yang sudah terisak menangis.
Arash pun langsung bergegas menuju ke apartemen sebelah, karena apartemen tersebut adalah miliknya. Pria itu memasukkan password hingga terdengar suara pintu terbuka.
"I-ini apartemen siapa?" tanya Putri dengan mengintip dari bahu Arash.
"Apartemen aku," jawab Arash dan membawa Putri masuk ke dalam.
Arash turunkan Putri tepat di living room, sehingga wanita itu terus menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Di-di sana kan kamar mandinya?" tanya Putri masih dengan wajah tertunduk dan menunjuk ke arah dapur.
"Gunakan yang di kamar saya saja biar lebih nyaman, kamar mandi itu jarang digunakan," ujar Arash.
"Di-di mana?" tanya Putri.
"Sebelah sana," tunjuk Arash ke arah kamarnya.
Putri pun bergegas masuk ke dalam kamar Arash dan menuju kamar mandi.
Preet ... preet ... preeet ....
Aahh, lega rasanyaaaa ...
"Hikks ... ini sungguh memalukan," rengek Putri sambil menangkul wajahnya dan menangis.
Arash pun masuk ke dalam kamar, pria itu dapat mendengar dengan jelas suara terjepit yang menggema itu. Ada rasa iba dan juga lucu dalam bersamaan.
Pria itu pun mengambil sebuah kain sarung yang berbentuk celana, dia letakkan di atas tempat tidur agar bisa di gunakan oleh Putri.
Tok ... tok ...
Putri terkejut di saat mendengar suara ketukan di pintu, sehingga membuat gadis itu menoleh ke arah pintu.
"Aku letakkan celana kain d atas tempat tidur. Nanti kamu pakai saja. Aku gak akan masuk kamar lagi sampai kamu keluar dari dalam kamar," ujar Arash dan tak terdengar lagi suaranya.
"Hiks ... sial banget sih aku kalau udah ketemu sama dia," rengek Putri sambil menatap celananya yang teronggok di lantai dengan noda bercak berwarna kecoklatan.
Putri menangkup kembali seluruh wajahnya, rasanya saat ini dia ingin sekali di telan oleh bumi.
*
Arash menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka, pria itu pun langsung membuat mimik wajah yang seolah sedang tidak menertawakan apa yang terjadi tadi.
"Apa ada kantong plastik?" tanya Putri yang masih berdiri di depan pintu kamar, pastinya masih dengan wajah yah tertunduk.
"Sebentar." Arash bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah kantong plastik dari dapur.
"Ini." dia pun mengulurkan kantong plastik tersebut kepada Putri.
"Terima kasih," cicit Putri dan bergegas kembali masuk ke dalam kamar.
"Menggemaskan," gumam Arash tanpa sadar dan kembali duduk di sofa.
Putri kembali keluar dari dalam kamar, masih dengan wajah yang tertunduk.
"Maaf sudah merepotkan," lirihnya pelan. "Terima kasih juga karena sudah menolong," ujar gadis itu dan memberanikan diri untuk menatap wajah Arash.
Saat mata mereka beradu, gadis itu langsung kembali menundukkan kepalanya karena merasa malu.
"Duduklah dulu, aku sudah membuatkan teh kental pahit untuk kamu," ujar Arash sambil menunjuk sebuah cangkir yang masih mengeluarkan segumpalan asap.
Putri mengangguk dan memilih duduk di sofa yang lain dengan Arash. Gadis itu pun meminum air yang sudah di suguhkan untuknya.
__ADS_1
"1111111, bego banget sih. Kenapa bisa lupa?" lirih Putri sambil menimpuk kepalanya sendiri.