
"Rash, kamu pulang ke rumah kan malam ini? Sudah dua bulan loh kamu gak pulang," bujuk Mama Kesya yang saat ini sedang mengunjungi sang putra yang ada di kantornya.
"Insya Allah, Ma. Arash akhir-akhir ini benar-benar banyak pekerjaan," ujar Arash merasa bersalah.
"Iya, tapi kamu juga butuh istirahat, Rash. Kamu juga perlu berkumpul dengan keluarga dan teman-teman kamu, bukan malah menghindar begin," lirih Mama Kesya.
"Mama rindu sama kamu yang dulu, Rash. Kamu yang ceria dan selalu tersenyum kepada siapapun."
Air mata Mama Kesya pun membasahi pipi wanita paruh baya tersebut, sehingga membuat Arash bangkit dari duduknya dan menghampiri sang mama.
"Maafin Arash, Ma. Maafin Arash," sesal Arash yang sudah memeluk wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.
"Kamu pulang, ya?" bujuk Mama Kesya lagi sambil menangis.
"Iya, Ma. Arash akan pulang."
Setelah sekian lama Arash menyendiri dan menghindar dari orang lain, akhirnya pria itu pun menuruti keinginan sang mama.
Lalu, di mana Arash selama ini tinggal?
Arash tinggal di apartemen Putri, sesekali dia juga akan menginap di apartemennya sendiri. Di mana tersimpan banyak kenangan di kedua kamar apartemen yang letaknya bersebelahan itu.
Setelah berhasil membujuk Arash untuk pulang, Mama Kesya pun kembali ke rumahnya, mempersiapkan makanan kesukaan sang putra untuk menyambut kepulangan putranya yang ada tetapi terasa tak ada itu.
Drrrtt ... Drrrttt ...
Arash menoleh ke arah ponselnya, di mana tertera di sana sebuah nomor asing. Araash mengernyitkan kening, tak ada yang mengetahui nomor pribadinya itu kecuali orang terdekat dan keluarga, tetapi, kenapa saat ini masuk panggilan dari nomor asing?
"Apa itu nomor Putri?" tebak Arash, pria itu pun bergegas mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan menggeser tombol hijau.
"Hal---"
"Hai, Rash, lama tak berbakar," sapa suara pria dari seberang panggilan.
Arash mengernyitkan keningnya, dia seolah tak asing dengan suara itu, tapi siapa?
"Apa kamu masih mengingat aku?" tanya pria itu.
Arash masih diam, menoba mengingat siapa pria yang telah menghubunginya saat ini.
"Aku Soni, pria yang sangat mencintai Putri," ujar pria yang bernama Soni itu, sehingga membuat Arash memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ya, aku ingat kamu," sahut Arash.
"Bisa kita bertemu?" ajak Soni.
Dan, di sinilah mereka berada, di sebuah cafe yang tak jauh dari perusahaan yang sedang Arash pimpin.
"Ada apa? Langsung saja, karena aku tidak punya banyak waktu," ujar Arash saat dia baru saja mendudukkan bokongnya di sofa.
Soni tersenyum tipis. "Apa kamu tidak ingin memesan makanan atau minuman dulu?" tawar Soni.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun memesan satu gelas americano panas untuk menemani dirinya berbicara dengan Soni.
"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arash, setelah pria itu menyebutkan pesanannya kepada pelayan.
"Baiklah, aku rasa kamu tidak ingin berbasa basi," ujar Soni dan meletakkan gelas berisi kopinya. "Begini, aku dengar kamu masih mencari keberadaan Putri?" tanya Soni.
Arash tersenyum miring, sepertinya dia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir.
"Lalu?" tanya Arash.
"Aku akan membantu kamu mencari Putri. Tapi, apakah bisa kamu memberikan informasi yang telah kamu dapat? Kita akan bekerja sama untuk mencari Putri," tawar Soni.
Arash terkekeh, apakah pria itu pikir jika Arash tidak tahu apa maksud dan tujuan Soni bertanya seperti itu.
"Aku tidak akan memberitahu kepada kamu, apapun yang aku tahu tentang Putri. Dan aku juga tidak tertarik, dengan informasi yang kamu miliki." Setelah mengatakan hal itu, Arash pun berbalik dan langsung berlalu meninggalkan Soni.
Soni memandang kepergian Arash yang semakin menjauh. Bahkan Arash pergi di saat pesanan minumannya belum tiba. Soni menghela napasnya pelan, sepertinya mencari informasi dari Arash tidak semudah apa yang dia bayangkan.
"Baiklah, jika kamu menolak untuk berbagi informasi, maka jangan salahkan aku, jika aku yang duluan menemukan Putri, maka aku tidak akan pernah menyerahkan Putri kepada kamu lagi," lirih Soni yang masih menatap kepergian Arash yang semakin menjauh.
*
Sudah hampir satu jam Mama Kesya menunggu kepulangan Arash, akan tetapi pria itu belum juga tiba di rumah. Bahkan, Mama Kesya sampai melewatkan makan malamnya agar bisa menikmati makan malam bersama sang putra.
"Ma, sebaiknya Mama makan dulu," bujuk Quin.
Mama Kesya menghela napasnya pelan, wanita paruh baya itu pun berbalik untuk menatap wajah putri satu-satunya itu.
"Mama gak lapar, Quin. Mama sekarang mengantuk, mama ke kamar dulu, ya?" pamit Mama Kesya dan berlalu meninggalkan Quin yang saat ini menatap sang mama dengan iba.
Quin menghela napasnya pelan, dia berjanji akan memarahi Arash jika adiknya itu pulang nanti. Dan jika Arash tidak juga pulang malam ini, maka Quin akan mendatangi pria itu dan menyeretnya untuk pulang.
__ADS_1
"Mbok, di simpan aja makanannya," titah Quin, dan bertepatan dengan itu, dia mendengar suara sebuah mobil yang masuk ke dalam perkarangan rumah.
"Apa ada yang datang?" tanya Quin.
"Sebentar Non Quin, biar si Mbok lihat siapa yang datang." Mbok Marni pun bergegas berlari untuk mengintip siapa yang pulang, saat melihat orang yang di tunggu-tunggu oleh majikannya itu, Mbok Marni pun bergegas menghampiri Quin dan memberitahu kepada wanita itu jika Arash telah pulang.
"Den Arash, Non, Den Arash pulang," seru Mbok Marni merasa terharu.
"Serius, Mbok?" tanya Quin yang di angguki oleh Mbok Marni.
Quin pun bergegas menghampiri adiknya itu. Bisa di katakan Quin akan menjegad adiknya itu di depan pintu masuk rumah mereka.
"Non, hati-hati, ingat Non baru saja melahirkan," tegur Mbok Marni mengingatkan.
"Iya, Mbok." Quin pun memperlambat langkahnya saat kembali melanjutkan jalannya.
"Mbak," sapa Arash, saat pria itu melihat Quin pertama kali saat masuk ke dalam rumah.
"Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Quin. "Apa kamu tau sekarang sudah jam berapa?" Quin kembali melempar pertanyaan kepada Arash. "Kamu tau, Rash, Mama sedari tadi sudah mempersiapkan makanan kesukaan kamu dan berharap bisa makan malam bersama dengan kamu. Tapi apa? Kamu malah tidak muncul saat makan malam tiba. Ke mana aja kamu, Rash? Apa kami ini tidak penting untuk kamu? Apa keberadaan Mama tidak penting bagi kamu, Rash?" tanya Quin yang sudah berlinangan air mata.
Arash mendekat, pria itu pun berlutut di depan Quin dan meminta maaf.
"Maafin Arash, Mbak, hiks .. Maafin Arash," lirih Arash yang tidak bisa menahan air matanya.
Quin ikut berlutut, wanita itu pun menangkup pipi Arash dan menghampus air mata pria itu.
"Pergilah, bujuk Mama untuk makan, Rash. Mama belum makan dari siang tadi, karena beliau hanya ingin makan bersama kamu," ujar Quin yang mana membuat hati Arash semakin terisis dan merasa bersalah.
"Rash," tegur Papa Arka yang ternyata sedari tadi mendengar percakapan kedua kakak beradik itu.
"Pa," lirih Arash.
Arash pun merangkak untuk menghampiri Papa Arka. "Maafin Arash, Pa, maafin Arash," sesal Arash sambil memeluk kaki Papa Arka.
"Iya, Nak. Papa sudah memaafkan kamu. Sekarang, kamu temui mama, ya? Beliau sangat merindukan kamu, sayang," ujar Papa Arka dengan lembut.
Papa Arka pun menuntun Arash untuk berdiri. Di tatapnya wajah sang putra yang terlihat kurus dengan rambut yang sudah terlihat panjang itu.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Papa Arka. Arash menggelengkan kepalanya.
"Makanlah bersama mama, karena Mama hanya ingin makan bersama putra kesayangannya ini," ujar Papa Arka sambil tersenyum dengan teduh.
__ADS_1
"Quin akan menyurh Mbok untuk menyiapkan makanannya," ujar Quin menghapus air matanya dan langsung bergegas kembali ke dapur.
"Pergilah, susul Mbak, mu," titah Papa Arka yang di turuti oleh Arash.