Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 435


__ADS_3

Kabar tentang keluarnya Sifa dari perusahaan Kak Farhan pun akhirnya terdengar di telinga Papa Arka. Pria paruh baya itu pun langsung menghubbungi sang putra untuk mempertanyakan kebenaran kabar tersebut.


"Apa Mama bilang, Pa. Kalau Sifa itu mau keluar dari perusahaan Farhan," ujar Mama Kesya sambil meletakkan jahe hangat untuk sang suami.


"Iya, tapi kan berita yang Mama katakan sebelumnya itu belum pasti kebenarannya. Mau tanya juga gak enak kan waktu itu?" sahut Papa Arka.


"Iya sih. Jadi, kapan mereka akan datang ke sini untuk menjelaskan semuanya?" tanya Mama Kesya penasaran.


"Nanti malam. Mereka akan datang nanti malam untuk menjelaskan kenapa Sifa mengundurkan diri dari perusahaan Farhan."


Dan, semakin menunggu waktu itu tiba, Mama Kesya merasa waktu berjalan dengan begitu lama. Entah berapa menit sekali wanita paruh baya itu berdecak kesal, di saat melihat jam seolah berjalan dengan begitu lambatnya.


"Kenapa sih, Ma?" tanya Papa Arka yang mulai pusing dengan sang istri.


Mama Kesya terus saja berjalan mondar mandir di hadapannya, sehingga membuat manik mata Papa Arka juga mengikuti ke mana arah sang istri berjalan.


"Itu, Pa. Coba Papa periksa dulu jam kita. Apa sudah rusak? Atau baterainya habis?" Mama Kesya menunjuk ke arah jam besar dan antik yang ada di ruangan tersebut.


Papa arka menoleh ke arah jam yang di tunjuk oleh sang istri, pria itu merasa jika jam antik yang dia dapatkan sedang susah payah itu terlihat baik-baik saja. Detiknya bergerak dengan seharusnya, gandulan di bawah jam itu pun juga bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu, apanya yang salah?


"Baik-baik aja kok jam-nya, memangnya apa yang salah dengan jam itu, Ma?" tanya Papa Arka dengan kening mengkerut.


"Ih, Papa," Mama Kesya berdecak kesal. Wanita paruh baya itu pun berjalan dan duduk di samping sang suami.


"Coba deh Papa pakai kacamata dulu. Terus lihat apakah jam itu benar-benar bergerak atau enggak?" tunjuk Mama Kesya lagi ke arah jam yang sama.


"Jamnya masih bergerak, Ma. Bahkan terlihat baik-baik saja," sahut Papa Arka. "Memangnya kenapa sih, Ma? Kok Mama terlihat kesal begitu?"


"Pa, Mama rasa jam itu rusak deh, masa sedari tadi Mama perhatikan jamnya bergerak lama banget. Rasanya udah hampir seharian Mama berdiri di sini, tapi tetap aja jam-nya gak bergerak-gerak. Kalau gerak pun ya sedikit aja," ujar Mama Kesya sambil mencebikkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Papa Arka menggelengkan kepalanya. Sudah menjadi sifat dasar dari istrinya begini, jika ingin mendengar kabar sesuatu maka tidak akan pernah sabar. Ya, walaupun Mama Kesya terdengar orang yang paling sabar. Tapi, tetap saja kan jika sudah menyangkut soal anak, maka kesabarannya bisa setipis tisu yang di belah dua.


"Ma, duduk dengan tenang aja deh. Sabar, ntar juga mereka datang kok. Lagian masih jam enam sore, mau magrib juga. Sebaiknya kita siap-siap buat sholat magrib, yuk," ajak Papa  Arka.


"Iya, Deh." Mama Kesya menurut apa kata sang suami dan beranjak menuju kamar mereka.


Di tempat lain.


Sifa memandang penampilannya di cermin. Wanita itu merasa gugup sekali untuk bertemu dengan Mama Kesya dan Papa Arka.


Abash yang baru saja masuk ke dalam kamar pun, mengernyitkan kening di saat memandang sang istri yang sedang mengatur napasnya.


"Kenapa, sayang?" tanya Abash sambil berjalan mendekat ke arah Sifa.


Sifa sedikit terkejut saat mendengar suara sang suami, wanita itu pun menoleh ke arah Abash dan tersenyum kecil.


"Gak papa kok, Mas," cicit Sifa pelan.


Abash menarik tangan Sifa, dapat pria itu rasakan jik tangan sang istri terasa sangat dingin sekali.


"Kamu gugup?" tebak Abash.


Sifa menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Sedikit, Mas."


"Kenapa?"


"Emm, sebenarnya aku merasa takut, jika mama dan papa salah paham akan keputusan aku untuk mengundurkan diri, Mas," ujar Sifa dengan pelan. "Dan juga, aku tidak ingin di sangka ingin menyaingi Putri, Mas. Aku tidak ingin orang-orang berpikir jika aku iri dengan Putri."


Abash mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan apa yang di duga-duga oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Loh, kenapa kamu bisa mengatakan jika kamu ingin menyaingi Putri? Apa ada seseorang yang berbicara seperti itu?" tanya Abash memastikan.


"Tidak, Mas, tidak ada."


"Jika ada, ketakan siapa yang mengatakannya," tanya Abash lagi dengan serius. Kali ini, pria itu menangkup wajah sang istri, agar mata Sifa dapat bertemu dengan mata miliknya.


"Mas, sungguh. Tidak ada yang mengatakannya. Ini hanya dugaan aku sendiri saja, Mas," jawab Sifa.


"Jika tidak ada yang mengatakannya, mana mungkin kamu bisa berpikiran seperti itu, sayang. Pasti kamu pernah mendengar perkataan yang membuat hati kamu merasa tak enak, iya kan?" tebak Abash. "Katakan, siapa yang telah membuat hati kamu merasa tidak enak, sayang?" Abash memaksa Sifa untuk menjawab pertanyaan.


"Seb-sebenarnya saat pengajian di rumah mama. Pengajian saat Rayanza turun tanah, ada ibu-ibu yang bertanya kepadaku, apa aku sudah hamil atau belum," ujar Sifa menceritakan bagaimana bisa terjadinya pemikiran yang dia sebutkan tadi.


"Ibu-ibu itu bertanya, apa aku sudah hamil atau belum, terus aku jawab belum, Mas. Lalu, ibu itu bilang, sebaiknya aku juga harus segera hamil, kalau tidak pasti mama akan mengabaikan aku sebagai menantunya ini. Menantu yang membanggakan itu bukanlah menantu yang bekerja dan menjadi wanita karir. Tapi, menantu yang did banggakan bagi orang kaya seperti mama adalah menantu yang bisa melahirkan anak laki-laki," ungkap Sifa menceritakan kejadian saat itu.


"Maka dari itu, Mas, aku takut jika aku menjelaskan apa alasan aku sebenarnya mengundrukan diri dari perusahaan, aku takut jika mama atau siapapun berpikir kalau aku ingin menyaingi Putri," ujar Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Astaghfirullah, sayang," Abash berkata lirih dan menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya. "Dalam keluarga aku, tidak ada hal semacam itu, sayang. Mau kamu melahirkan anak perempuan atau laki-laki, bagi keluarga aku itu adalah hal yang sama. Tidak ada perbedaannya sama sekali, sayang." Abash mengusap lembut punggung Sifa yang bergetar, menandakan jika wanita itu saat ini sedang menangis sesenggukan.


"Dan satu hal yang harus kamu tahu. Anak memang penting dalam sebuah rumah tangga yang sedang di bangun, karena mereka akan menjadi pelengkap keluarga. Tapi, jika Allah memang belum berkehendak untuk memberikan kita momongan, maka apa yang aku katakan di awal tadi tidaklah terlalu penting. Karena bagi aku yang paling penting adalah kamu. Seorang istri yang bisa memahami aku luar dan dalam, sayang." Abash merelai pelukannya dengan Sifa.


"Dan di keluarga aku. Tidak akan ada satu orang pun yang akan menuntut kamu untuk segera hamil, sayang. Bahkan, jika memang belum saatnya kita diberikan keturunan, maka keluarga aku tidak akan pernah menuntut aku untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Tidak, aku sangat mengenal keluarga aku, sayang. Maka aku sangat yakin sekali, jika keluarga ku, terutama mama dan papa tidak akan pernah menuntun keturunan kepada kita, karena semua itu adalah kehendak Allah," jelas Abash yang mana membuat air mata Sifa semakin mengalir deras.


"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, sayang. Walaupun bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun kita menikah dan belum di karuniai seorang anak pun, maka aku akan tetap berada di samping kamu. Anak itu tidak hanya di dapatkan di dalam rahim kamu, sayang. Tapi bisa juga kita dapatkan dari malaikat-malaikat kecil yang telah di telantarkan oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak masalah akan hal itu, sayang."


Sifa semakin tersedu-sedu mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Dan yang paling utama untuk kita saat ini adalah, marilah kita berdoa agar Allah memberikan karunianya kepada kita. Menitipkan harta yang paling berharga di dunia ini ke dalam rahim kamu, sayang. Dan percayakan semuanya kepada Allah, insya Allah, jika saatnya sudah tiba, pasti kita akan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu."


Abash mengusap air mata sang istri yang telah membasahi pipi. Pria itu mengecup kedua mata Sifa yang terasa basah.

__ADS_1


"Lupakan perkataan orang, sayang. Karena mereka tidak mengenal dan tahu bagaimana kehidupan kita yang sebenarnya."


__ADS_2