
Zia memandang cincin yang diberikan oleh Ibra saat di pantai tadi. Cincin yang begitu indahnya. Zia mencoba memasukkan cincin tersebut ke dalam jari manisnya, sudut bibir gadis itu pun tertarik ke atas untuk membentuk sebuah senyuman.
"Cincinnya kebesaran," gumam Zia sambil tertawa pelan.
Tok … tok .. tok ..
Mendengar suara pintu kamarnya di ketuk, Zia pun bergegas membuka kembali cincin tersebut dan menyembunyikannya di atas pangkuan dan menutupnya dengan selimut.
"Apa Mbak menganggu kamu?" tanya Putri yang sudah memasukkan kepalanya saat meminta izin kepada sang adik.
"Silahkan, Mbak," jawab Zia sambil tersenyum.
Putri pun masuk ke dalam kamar Zia, terlihat wanita itu tersenyum penuh arti kepada sang adik.
"Ada apa, Mbak? Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Zia kepada Putri.
Putri pun mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur.
"Oke, sekarang coba cerita. Apa yang terjadi dengan kamu dan Ibra hari ini?" ujar Putri masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Gak ada terjadi apa-apa, Mbak," bohong Zia.
Putri menyipitkan matanya menatap ke arah sang adik. "Yang benar? Masa gak terjadi apa-apa sih?" tanya Putri dengan penuh mengintimidasi.
"Iya, Mbak. Beneran. Kami cuma jalan-jalan aja, kok."
"Masa cuma jalan-jalan aja? Pasti ada yang Ibra katakan kepada kamu, kan?" Putri mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan Ibra dan Zia.
"Memangnya Ibra mau bilang apa sama aku?" tanya Zia balik, seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Ck, masa Ibra gak ada ngomong apa-apa sih sama kamu? Pasti ada kan? Hayoo ngaku?" bujuk Putri.
"Ngomong apa memangnya, Mbak?" tanya Zia balik.
"Iih, Ziaaa … kok kamu gak mau cerita sih sama, Mbak? Ayo dong, cerita sama Mbak, Ibra ada bilang apa ke kamu? Gak mungkin lah dia khusus minta izin balik ke Jakarta hanya untuk menjenguk kamu dan langsung balik ke Papua," ujar Putri yang terus mencoba membujuk sang adik agar jujur kepadanya.
Sebenarnya bukan hanya Putri saja yang merasa kepo dengan apa yang terjadi hari ini antara Ibra dan Zia. Akan tetapi di keluarga Bunda Sasa, mereka juga sudah heboh menanyakan apakah Ibra melamar Zia atau tidak. Berhubung Ibra juga tidak mengatakan apa pun, membuat Bunda Sasa frustasi dan takut untuk mengambil langkah lebih jauh dalam hubungan Ibra dan Zia.
Ya, setelah mengantarkan Zia pulang ke rumah. Ibra kembali pulang ke rumahnya hanya untuk berpamitan kepada Bunda Sasa, jika dia harus kembali ke Papua dan mengejar pesawat yang akan segera berangkat. Untuk itulah, kedatangan Ibra yang memang khusus untuk berjumpa dengan Zia pun, membuat dua keluarga merasa penasaran, apakah mereka memang menjalin hubungan yang serius, atau tidak. Jika memang Ibra melamar Zia saat mereka pergi tadi, maka Bunda Sasa akan kembali melamar Zia secara kekeluargaan.
Akan tetapi, di saat Bunda Sasa bertanya kepada sang putra, Ibra malah mengatakan jika di antara dirinya dan Zia tidak ada apa-apa. Tapi, jika memang tidak ada apa-apa, kenapa Ibra sampai memohon doa restu kepada Bunda Sasa? Agar semuanya di lancarkan.
Hal itu pula yang membuat Bunda Sasa merasa geram kepada sang putra dan menghubungi Putri untuk bertanya kepada Zia apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.
Untuk itulah, Putri mencoba membujuk Zia agar berbicara, apa yang sebenarnya telah Ibra katakan kepada adiknya itu.
Zia tersenyum di saat melihat wajah kesal sang kakak, karena dirinya memilih diam.
"Mbak, aku serius. Ibra tidak mengatakan apa pun kepadaku, Mbak. Kedatangannya ke sini benar-benar murni untuk menghiburku saja," ujar Zia yang mana membuat Putri menghela napasnya berat.
__ADS_1
Sepertinya wanita itu tidak berhasil membujuk sang adik.
"Oke, baiklah kalau kamu gak mau mengakuinya," cicit Putri. "Tapi, Mbak mau kamu cerita apa yang terjadi hari ini. Ke mana aja dan ngapain aja kamu dengan Ibra?" tanya Putri dengan senyuman yang kembali merekah di bibirnya.
Zia tertawa, membuat sang kakak kembali cemberut.
"Ziaaa .. ayolaaaah …" bujuk Putri yang akhirnya di angguki oleh Zia.
"Iya .. iya … aku akan cerita, Mbak, ke mana aku dan Ibra hari ini."
Zia pun menceritakan ke mana saja Ibra membawanya. Berawal dari makan siang di sebuah restoran, kemudian jalan-jalan ke mall, lalu Ibra mengajak Zia untuk menonton bioskop. Berhubung Zia sudah semakin tidak nyaman dengan pandangan orang yang ada di sekitarnya pun, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke laut.
Putri mendengarkan cerita Zia dengan seksama. Memperhatikan raut wajah sang adik yang sesekali tersenyum dan tertawa. Dapat Putri simpulkan, jika Zia merasa bahagia pergi bersama Ibra. Akan tetapi, Putri tidak melihat ada cinta di mata Zia, gadis itu murni tersenyum dan tertawa dengan bahagia.
Putri menghela napasnya pelan, sepertinya harapan semua orang yang sedang menunggu kabar tentang Ibra dan Zia pun, harus merasa kecewa di saat mendengar penjelasan Putri nanti.
"Hmm, jadi kalian hanya bersenang-senang saja, ya?" tanya Putri masih dengan tersenyum, akan tetapi terlihat ada raut wajah wanita itu terlihat sedih.
"Iya, Mbak."
"Mbak senang mendengarnya. Mbak harap, jika kamu akan selalu bisa tersenyum seperti ini, ya?" ujar Putri dengan tulus.
"Ah ya, sudah malam. Kamu tidur gih. Yuk, Mbak bantu pindah ke tempat tidur," tawar Putri.
Seketika Zia pun teringat dengan cincin yang ada di pangkuannya, gadis itu pun dengan cepat menolak tawaran sang kakak.
"Mau lanjut menggambar lagi?" tanya Putri yang diangguki oleh Zia.
"Oh, baiklah kalau begitu. Mbak keluar dulu, ya. Aryan pasti sudah menunggu Mbak untuk tidur," pamit Putri dan berlalu meninggalkan kamar Zia.
Zia menatap pintu kamarnya yang di tutup rapat oleh Putri, hingga gadis itu pun menghela napasnya secara perlahan.
"Huuf, hampir saja," lirih Zia pelan dan mengambil cincin yang dia sembunyikan sedari tadi.
Zia memandang cincin pemberian Ibra yang ada di tangannya itu lekat-lekat. Entah yang ke berapa kalinya gadis itu menghela napasnya. Ingatannya pun kembali pada saat Ibra melamarnya saat di pantai.
"Zia, maukah kamu menikah denganku? Aku tahu, di hati kamu tidak ada cinta untuk aku saat ini. Tapi, percayalah, jika hati aku sudah terpaut kepada kamu, Zi. Aku bersungguh-sungguh telah jatuh hati kepada kamu, untuk itu, aku berharap kamu mau menghabiskan sisa umur bersamaku." ujar Ibra.
"Bra, aku---"
"Aku tahu kalau ini terbilang sangat tiba-tiba. Tapi, aku hanya tidak ingin membuang kesempatan ini, Zi. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang aku rasakan. Maaf, jika aku mendadak mengajak kamu menikah secara tiba-tiba begini. Tapi percayalah, Zi, kalau aku memang benar-benar bersungguh-sungguh untuk mempersunting kamu."
Zia menarik sudut bibirnya sedikit, membentuk sebuah senyuman kecil.
"Terima kasih karena sudah mencintai dan meminta aku untuk menjadi istri kamu, Bra. Tapi, kamu tahu sendiri kan kondisi aku saat ini seperti apa?"
"Aku gak masalah dengan kondisi kamu saat ini, esok, atau sampai kapan pun. Karena yang aku nikahi bukan hanya fisik, melainkan semua yang ada pada kamu, Zi. Yang ingin aku nikahi adalah kamu, gadis yang berhasil mengambil perhatian aku."
"Kamu tau, ucapan kamu itu terdengar seperti seorang penggombal," kekeh Zia.
__ADS_1
"Gak masalah kamu berkata apa. Tapi, apa yang aku katakan, memang benar apa adanya," jawab Ibra sambil tersenyum.
Zia menatap wajah Ibra, gadis itu merasa bingung harus memberikan jawaban apa untuk pria itu saat ini. Yang jelas, Zia memang belum siap untuk menikah. Bukannya dia menolak Ibra, bukan. Akan tetapi, Zia membutuhkan waktu untuk sembuh dulu, sebelum dia menerima lamaran pria yang ada di hadapannya saat ini.
Zia akan pastikan, jika dirinya sudah sembuh, maka dia akan menerima lamaran Ibra. Ya, Zia pasti akan menerima lamaran Ibra.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Aku cuma pingin kamu tahu apa yang aku rasakan kepada kamu saja, Zi. Jangan terlalu di ambil pikiran, ya?" ujar Ibra sambil tersenyum.
"Dan untuk cincin ini. Aku harap kamu menerimanya, ya. Aku akan menagih jawaban darimu, di saat ke kembali tahun depan. Jadi, kamu simpan saja cincin ini dulu, ya?" titah Ibra yang di jawab anggukan oleh Zia.
"Ah ya, satu lagi. Mari kita rahasiakan pembicaraan kita ini dari semua orang. Jangan sampai ada yang tahu satu orang pun," pinta Ibra.
"Kenapa?" tanya Zia dengan kening mengkerut.
"Aku takut, jika keluarga kita mengetahui kalau aku melamar kamu hari ini, maka mereka akan heboh untuk menjodohkan kita. Bukannya aku tidak ingin di jodohkan dengan kamu, bukan. Bahkan aku sangat ingin di jodohkan dengan kamu. Tapi, aku hanya tidak ingin membuat kamu merasa tidak nyaman dengan kehebohan yang akan terjadi nanti," ujar Ibra yang mana membuat Zia menatap lekat ke arah mata pria itu.
"Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, tanpa ada yang mengusik tentang hubungan kita nantinya. Hanya itu saja. Kecuali, jika kamu memang sudah siap untuk di jodohkan denganku," kekeh Ibra.
Zia ikut tersenyum mendengar kalimat terakhir yang Ibra ucapkan.
"Senyum kamu sungguh manis, membuat aku tidak bisa tidur nyenyak jika tidak bisa memilikimu," ucap Ibra.
Zia kembali menghela napasnya pelan di saat mengingat kejadian saat di pantai tadi.
"Maafin aku ya, Bra, karena aku belum bisa memberikan jawaban dalam waktu dekat ini," lirih Zia menatap cincin yang ada di tangannya.
Zia menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah meja rias. Gadis itu mengambil kotak tempat penyimpanan perhiasan. Zia pun memasukkan cincin pemberian Ibra ke dalam kotak tersebut.
"Untuk sementara, kamu diam di sini dulu, ya. Di saat yang tepat nanti, aku akan memakai kamu," ujar Zia kepada cincin pemberian Ibra.
*
Sifa menatap tespack yang ada di tangannya saat ini. Satu tahun telah berlalu, akan tetapi dirinya masih juga belum di berikan momongan.
Sifa sedikit terkejut, di saat merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Maafin aku ya, Mas, karena aku belum bisa memberikan keturunan untukmu," lirih Sifa dengan air mata yang menggenang.
"Sssttt … jangan bilang begitu, sayang. Tidak semua kesalahan ada ada wanita. Bisa saja, kesalahan ada padaku, sayang," bisik Abash yang mana membuat Sifa semakin meneteskan air matanya.
Bukannya menyalahkan Sifa, Abash malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Mas, aku---"
"Bagaimana kalau kita honeymoon lagi, hmm?" potong Abash cepat.
Abash membalikkan tubuh Sifa menghadap ke arahnya.
"Mumpung aku gak banyak kerjaan. Bagaimana?"
__ADS_1