Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 427


__ADS_3

Merasa asing di tengah orang-orang yang sedang berbahagia atas kehadiran Rayanza pun, membuat Sifa memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. Sifa melangkahkan kakinya menuju dapur, merasa jika keberadaannya di dapur akan lebih baik dari pada di ruang keluarga.


"Ada yang bisa aku bantu, Mbak?" tanya Sifa kepada Quin yang tengah membuat kue untuk di jadikan cemilan seluruh keluarga.


"Loh, kok kamu malah ke sini?" tanya Quin yang terkejut dengan keberadaan Sifa. "Udah, kamu ke depan aja, sana. Ngobrol dengan yang lainnya," titah Quin.


"Gak papa, Mbak, aku di sini aja. Mana tau ada yang bisa aku bantu-bantu, kan," kekeh Sifa.


Quin menoleh ke arah adik iparnya itu. Entah mengapa Quin merasa jika mata Sifa terlihat sembab dan basah. Quin berjalan mendekati Sifa, menatap lekat wajah wanita yang berada tepat di hadapannya saat ini.


"Ada apa, Mbak? Apa ada yang aneh  dengan wajah aku?" tanya Sifa dengan gugup.


Quin menggelengkan kepalanya, wanita itu bisa menebak jika pasti Sifa tidak ingin kalau ada orang lain yang tahu, jika dia baru saja selesai menangis. Tapi, apa yang membuat Sifa menangis?


"Gak ada apa-apa. Mbak hanya melihat kalau kamu sedikit kurusan, ya!" ujar Quin.


Ya, memang berat badan Sifa sedang menurun. Tapi, tidak juga menurun dengan drastis. Lagi pula, menurut Sifa, wajahnya masih terlihat sama saja, walaupun berat badannya hanya turun dua kilogram.


"Masa sih, Mbak? Perasaan biasa aja, deh," ujar Sifa sambil menangkup pipinya.


"Biasa sama kamu, karena kamu sering memandang wajah kamu setiap hari.  Tapi, bagi Mbak yang jarang-jarang melihat kamu, pastinya sangat kelihatan sekali perbedaannya," sahut Quin.


"Masa sih?"


"Iya." Quin pun mencoba mengorek apa yang sedang adik iparnya itu rasakan.

__ADS_1


"Memangnya kamu lagi program diet? Makanya kurusan?" tanya Quin.


Ya itu adalah pertanyaan yang paling handal dan ampuh bagai seseorang yang terlihat kurus, kan?


"Enggak kok, Mbak. Aku sedang tidak diet," jawab Sifa.


"Lalu, apa kamu sering lembur dan tidur terlambat?" tanya Quin lagi. "Eh, tidur terlambatnya bukan karena Abash, ya. Tapi karena kerjaan," kekeh Quin.


Wajah Sifa seketika merona. Wanita itu masih merasa malu jika harus membahas tentang ranjang dengan siapapun. Ya, walaupun terkadang dia sering bertukar cerita dengan Putri, akan tetapi tetap saja Sifa masih merasa malu saat mengatakannya.


"Enggak kok, Mbak," jawab Sifa dengan kepala tertunduk.


"Enggak?" ulang Quin. "Lalu, kalian gak pernah melakukan itu?" tanya Quin dengan wajah menggoda.


"Apa kalian melakukannya di siang hari?" goda Quin lagi.


"Enggak hanya di siang hari aja kok, Mbak, tapi di malam hari juga ada," jawab Sifa lagi dengan wajah yang semakin merona dan kepala yang tertunduk.


Melihat bagaimana wajah Sifa yang semakin merona dan terlihat menggemaskan, membuat Quin ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi wanita itu sengaja menahan tawanya agar tidak melukai perasaan Sifa.


"Oh, jadi siang malam nih? Kalau pagi gimana?" tanya Quin lagi sambil menaik turunkan alisnya.


Sifa melirik ke arah Quin, kemudian dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Mbaak, cukup … jangan goda lagi," cicit Sifa yang mana akhirnya membuat Quin tertawa.


Quin tertawa, tetapi tidak sampai tertawa terbahak-bahak. Wanita itu masih bisa mengontrol tawanya.

__ADS_1


"Iya .. iya … kamu ini sungguh menggemaskan, Sifa," ujar Quin sambil mencubit pelan pipi sang adik ipar.


"Mbak sih, terus goda aku," ujar Sifa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Habisnya kamu lucu sih. Menggemaskan untuk di goda," sahut Quin yang mana membuat Sifa tersenyum tipis.


*


Awalnya Sifa dan Abash di minta untuk menginap di kediaman Mama Kesya, akan tetapi Abash menolak karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan semua pekerjaannya itu berada di dalam apartemen.


"Bohong, Ma. Malam ini kan malam jumat, Abash mau ibadah dia dengan Sifa," ujar Bang Fatih yang mana membuat Abash menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa? Ada yang salah? Kan kamu habis pesan fondatation sama, Layca," kekeh Bang Fatih yang berhasil membuat wajah Abash merona.


"Raysaaaa …" geram Abash dan menatap tajam ke arah sang sepupu.


"Ya? Ada apa?" tanya Raysa dengan wajah polosnya.


"Kenapa kasih tahu Bang Fatih sih, kalau aku pesan fondation?" geram Abash.


"Loh, aku kan pesannya sama Bang Fatih, Bash, wajar saja lah jika dia tahu. Lagian, Bang Fatih kan suami aku!" sahut Raysa dan tersenyum manis.


"Makanya, Bash, jangan pesan sama mereka. Bocor kan?" sahut Mas Abi yang di angguki oleh Abash.


"Gak lagi deh  pesan sama kamu, Ca," cibir Abash yang mana membuat Raysa tertawa.

__ADS_1


__ADS_2