Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 176 - Balik Bandung


__ADS_3

Putri merelai pelukannya dari Sifa.


"A-aku harus kembali ke Bandung," lirih Putri.


"Kamu tidak boleh pergi sendiri," tahan Arash. "Aku akan menemani kamu," ujarnya.


"Tidak, pinggang kamu lagi sakit, kamu harus banyak beristirahat," cegah Naya.


"Aku bisa pergi sendiri, kok. Lagi pula, ada Awal yang akan mengikutiku," ujar Putri.


Sifa melirik ke arah Abash yang juga terlihat bingung saat ini.


"Biar Pak Abash aja yang temenin, Mbak," ujar Sifa yang mana membuat Abash menoleh ke arah sang kekasih.


Abash sebenarnya sengaja tidak ingin memberikan penawaran kepada Putri, karena dirinya tidak ingin menyakiti perasaan sang kekasih lagi.


"Iya, Sifa benar. Abash bisa menemani Putri kembali ke Bandung," tambah Naya yang di angguki oleh Arash.


"Lo bisa temani Putri ke Bandung, Bash! Awal memang akan mengikuti kalian, tetapi kalau lo berada terus di sampingnya, maka Putri akan lebih aman," ujar Arash yang lagi-lagi di angguki oleh Sifa dan Naya.


Putri sudah tidak enak hati dengan Sifa, walaupun gadis itu yang menyarani ide tersebut, tetap saja Putri tidak akan merasa nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Tidak, saya bisa pergi sendiri. Lagi pula, akan lebih aman jika saya pergi sendiri, karena tidak akan mengorbankan siapa-siapa lagi. Jika Yosi ingin membalaskan dendamnya dengan saya," ujar Putri dengan tegas.


"Enggak, Put. Kamu harus ada yang temani. Aku tau kamu jago dalam bela diri, tetapi tetap saja harus ada yang menemani kamu ke sana." Arash menolak ide yang diberikan oleh Putri.


"Tap---,"


"Mbak, Pak Abash akan menemani, Mbak, kembali ke Bandung. Ini sudah diputuskan. Sebaiknya kita menjaga agar tetap aman, Mbak, dari pada semuanya sudah terlanjur terjadi," ujar Sifa yang disetujui lagi dengan Arash dan Naya.


Putri melirik ke arah Abash, gadis itu sudah bisa menebak jika pria itu enggan untuk menemaninya. Putri pun paham akan hal tersebut, dia juga tidak ingin memaksa Abash untuk menemaninya. Lagi pula, hal itu juga akan membahaya nyawa pria itu.


Alangkah baiknya jika memang Putri sendiri yang kembali, kan?


"Apa pun alasannya, saya tidak ingin membahayakan nyawa orang lain. Sebaiknya saya pergi sendiri saja," putus Putri yang tidak ingin lagi di bantah.


Gadis itu pun bangkit dan bergegas untuk pamit pulang dengan tuan rumah.

__ADS_1


"Put," panggil Arash yang mencoba untuk membujuk gadis itu.


Naya pun merasakan ada atmosfir yang berbeda kali ini diantara Sifa dan Abash, sehingga membuat gadis itu menjauh dari kedua orang tersebut.


"Apa-apaan ini, Sifa? Kenapa kamu malah menyodorkan aku untuk menemani Putri?" tanya Abash dengan kesal saat melihat kepergian Naya.


"Mas, ini semua demi kebaikan Mbak Putri. Jika saja pinggang Mas Arash tidak terluka, mungkin aku juga akan setuju kalau dia yang akan menemani Mbak Putri. Tapi?"


"Tetap saja, Sifa. Kamu seolah menyuruh aku untuk dekat dengannya," ujar Abash dengan frustasi.


"Mas, aku gak menyuruh kamu untuk dekat dengannya. Aku hanya meminta kamu untuk menemaninya, Mas. Aku percaya sama kamu, kalau kamu tidak akan berpaling dari aku," ujar Sifa meyakini sang kekasih.


Abash menatap mata sang kekasih, sehingga Sifa tak lagi dapat memalingkan pandangannya dari pria yang telah mengunci pandangannya saat ini.


"Kamu percaya sama aku? Tapi kamu melukai perasaan kamu sendiri, Sifa. Kamu seolah kuat dengan apa yang kamu ucapkan, seolah menganggap semuanya akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya tidak, Sifa. Kamu hanya menyakiti perasaan kamu sendiri. Kamu hanya membuat perasaan kamu semakin terluka," ujar Abash dengan geram.


"Mas----,"


"Baiklah, kalau kamu mau aku yang pergi menemani Putri, maka aku akan pergi," ujar Abash dan berbalik meninggalkan Sifa di taman belakang.


"Mas---," panggil Sifa dengan nada yang lemah.


"Aku harap keputusan aku ini tidak salah," lirihnya pelan dan ikut menyusul Abash.


*


"Loh, kenapa, Put? Kok buru-buru pulangnya?" tanya Mama Kesya yang merasa bingung, karena tiba-tiba saja Putri pamit pulang dan harus kembali ke Bandung dengan segera.


"Zia masuk rumah sakit, Tante, makanya Putri harus pulang. Maaf karena tidak bisa membantu banyak dan malah bikin Tante susah tadi," sesal Putri.


"Gak kok, Tante gak merasa di susahkan sama kamu."


"Terima kasih banyak, Tante, kalau begitu Putri pamit ya," pamit Putri dan mencium punggung tangan Mama Kesya.


"Iya, hati-hati ya," ujar Mama Kesya yang merasa ada sesuatu yang tak beres dengan Putri dan juga anak-anaknya.


Naya dan Arash pun mengantarkan Putri hingga keluar rumah dan menuju mobilnya.

__ADS_1


"Abash mana?" tanya Arash kepada Naya yang di jawab gelengan oleh gadis itu.


"Mbak Naya, Arash, aku balik dulu, ya, terima kasih banyak atas semuanya," pamit Putri dan mencoba untuk tersenyum.


"Sama-sama, kamu gak tunggu Abash datang? Biar dia yang menemani kamu," ujar Naya.


"Gak papa, Mbak, saya pulang sendiri aja," jawab Putri dan bersiap untuk menuju ke pintu kemudi.


Baru saja Arash ingin menahan Putri dan mengatakan jika pria itu yang akan menemaninya, tiba-tiba saja Abash datang dan menahan pintu mobil yang ingin di buka oleh Putri.


"Naik mobil aku aja, ayo," ajak Arash yang mana membuat Putri terkejut.


"Ta-tapi---,"


"Ayo, lebih cepat bergerak maka kita akan lebih cepat sampai ke Bandung," titah Abash.


Putri melirik ke arah Sifa, terlihat gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi antara Abash dan Sifa, ingin rasanya untuk kembali menolak, tetapi mendengar suara Abash yang terdengar tak bersahabat, membuat nyali Putri pun menjadi ciut.


Putri kembali berpamitan kepada Sifa, Naya, dan Arash, kemudian gadis itu mengikuti Abash yang sudah duluan berjalan menuju mobilnya berada.


*


Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi diantara Putri dan Abash. Gadis itu merasa takut untuk membuka suaranya.


"Jangan merasa bersalah, ini memang sudah kewajiban saya untuk melindungi Anda," ujar Abash yang mana seolah bisa membaca gerak gerik Putri dari sudut matanya.


"Maaf, jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin semua ini juga tidak akan terjadi," lirih Putri dengan menyesal.


"Jangan disesalkan apa yang sudah terjadi. Sebaiknya kita hadapi semuanya dengan tenang dan berhatai-hati," ujar Abash yang di angguki oleh Putri.


"Tapi, bagaimana dengan Anda dan Sifa? Saya merasa tidak enak dengan dia," lirih Putri.


"Tidak mengapa, lagi pula sifa 'kan yang menyarankan untuk saya menemani Anda? Jadi, Anda tenang saja. Sifa percaya kepada saya, dan saya tidak akan mengkhianatinya, karena saya sangat mencintai dia," ujar Abash dengan tersenyum.


"Saya harap semua ini berakhir dengan cepat, agar hubungan Anda dan Sifa bisa kembali normal."


"Saya pun berharap juga begitu. Jadi, mari kita bekerja sama untuk menjatuhkan Yosi," ujar Abash yang di angguki oleh Putri.

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2