Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab 78 – Gak bisa tidur


__ADS_3

Sifa membalikkan tubuhnya ke arah lain, wanita itu benar-benar tak bisa tidur malam ini. Ciuman Abash   membuatnya terus terniang-niang.


“Duh, kenapa gak bisa tidur gini sih?” gerutu Sifa masih terus mencoba menutup matanya.


Sifa pun akhirnya mendudukkan dirinya. Perlahan, tangannya naik dan menyentuh bibirnya.


“Pak Abash apaan sih pakai cium-cium segala?” lirih Sifa. “Apa dia gak tau ya? Kalau ciuman seperti itu bisa di salah artikan?” Sifa berdecak kesal saat mengingat semua ucapan Abash saat di lift.


“Bukan tipenya, tapi main nyosor aja. Iih, dasar pria gak jelas,” geram Sifa dan kembali membaringkan tubuhnya.


“Pokoknya mulai besok aku harus jaga jarak dengan Pak Abash,” lirih Sifa dan menutup matanya.


Lima menit kemudian.


“Aaaa ... Pak Abash brengseek .. Gak bisa tidur kan aku,” lirihnya dengan kesal sambil menendang selimut dan bantal guling.


Sifa pun mendudukkan tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Wanita itu pun memilih keluar kamar, mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


“Emangnya bibir aku permen apa? Main ****-**** aja,” kesal Sifa dan menghabisi air minum yang ada di dalam gelas.


Sifa pun berjalan kembali ke arah kamarnya, tetapi, langkahnya terhenti saat di ruang living room.


“Apaan tuh?” lirih Sifa saat melihat paper bag di atas meja.


Sifa pun berjalan ke arah meja dan melihat apa yang ada di dalam paper bag tersebut.

__ADS_1


“Buku? Ini kan buku---.” Sifa pun mengeluarkan semua buku yang ada di dalam paper bag tersebut. “Apa Pak Abash sebelumnya masuk ke apartemen aku? Terus kasih ini tapi aku-nya gak ada?” lirih Sifa.


“Hmm, kayaknya sih gitu. Ya udah deh, lagian kan bukan aku yang minta,” lirih Sifa dan mendudukkan dirinya di sofa.


Sifa pun memilih salah satu buku cooding tersebut, kemudian dia membuka setiap lembar dan mempelajari apa yang tertulis di sana.


Di tempat lain, Abash masih menatap layar hitamnya dengan tatapan lurus ke layar, tetapi pikirannya melayang kepada Sifa.


“Kenapa ya aku cium dia?” lirih Abash bertanya entah dengan siapa.


“Pasti dia mikirnya aku suka lagi sama dia.” Abash pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Pasti dia pikir aku cowok gak bener,” lirihnya lagi dan kembal menegakkan tubuhnya. “Gak tau apa kalau itu ciuman pertama aku? Tapi kenapa ya aku bisa tertarik untuk cium dia?” lirih Abash sambil menyentuh bibirnya.


Perlahan, Abash menutup matanya dan kembali membayangkan betapa dingin, basah, dan empuknya bibir Sifa.


“Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan Sifa,” lirih Abash sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


*


Pagi menyapa, Sifa pun masih serius dalam membaca buku yang di berikan oleh Abash.


“Ya ampun, udah subuh, tapi aku masih belum bisa tidur,” lirih Sifa dan menghela napasnya pelan.


“Hmm, sholat subuh dulu deh,” ujarnya dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Di  tempat lain, hal yang sama pun terjadi kepada Abash. Pria itu tak bisa tertidur semalaman karena terus memikirkan kenapa dirinya bisa mencium Sifa.

__ADS_1


“Akhh, keramas mungkin bisa buat pikiran aku jernih,” lirihnya dan bergegas bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual mandi dan sholat subuhnya, Abash pun bersiap untuk berangkat ke kantor.  Abash pun keluar dari apartemennya dan berjalan menuju lift, pria itu masuk dan menekan tombol lift ke lantai paling


bawah.


Ting ..


Pintu lift terbuka saat berada di lantai apartemen Sifa. Di luar lift, Sifa berdiri dengan terdiam membeku, bingung haruskah dia masuk ke dalam atau tidak. Pintu lift kembali tertutup secara perlahan, akan tetapi Sifa masih belum bergerak untuk menahan pintu itu tetap terbuka.


“Kenapa harus ada Pak Abash sih? Padahal sengaja pergi pagi-pagi,” lirih Sifa pelan.


Sreeet ...


Pintu lift kembali terbuka, sehingga membuat Sifa melebarkan sedikit matanya karena terkejut. Ya, Abash telah membuka kembali pintu lift itu.


“Kamu gak masuk?” tanya Abash.


“Hah?”


“Masuklah, anggap saja kita tak saling kenal,” ujar Abash yang mana membuat sesuatu di hati Sifa sedikit tertusuk.


Sifa pun perlahan melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam lift.


“Kok sakit banget ya hati aku? Dengar pak Abash bilang gak saling kenal?” batin Sifa sambil menatap lantai lift yang besih.

__ADS_1


__ADS_2