Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 273 - Perut yang Berbunyi


__ADS_3

"Belum muhrim," cicit Putri dengan wajah yang merona.


Arash tersenyum, pria itu pun mengusap pipi Putri dengan ibu jarinya.


"Besok pagi ke KUA, yuk?" ajak Arash.


Putri mengerjapkan mata, apa dia tidak salah dengar?


"Hah? Ap-apa?" gugup Putri.


"Aku akan mempersiapkan semua keperluannya. Kamu hanya perlu menyiapkan diri kamu aja, gimana? Setuju?" ujar Arash sambil mengusap pipi Putri yang terasa dingin, tetapi terlihat bersemu.


"Me-menyiapkan diri? Untuk apa?" cicit Putri.


"Menikah denganku," jawab Arash dengan senyuman yang terlihat sangat manis dan memukau yang terpatri di wajahnya.


"Me-menikah? Siapa yang mau menikah?" tanya Putri.


Sakin gugup dan terlalu mendadak, Putri tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia masih butuh waktu untuk mencerna semua apa yang telah terjadi.


"Kita, aku dan kamu," jawab Arash.


Putri menyingkirkan tangan Arash dari wajahnya. Gadis itu juga mendorong tubuh Arash agar sedikit menjauh darinya.


"Ada apa, Put?" tanya Arash dengan kening mengkerut.


"Apa aku semudah itu bagi kamu?" tanya Putri setelah dirinya menyadari semua yang baru saja terjadi.


"Put, aku tidak bermaksud bergitu. Aku hanya—"

__ADS_1


"Seharusnya kamu memberikan waktu untuk aku berpikir," potong Putri, terlihat gadis itu menghela napasnya dengan kasar.


Ya, seharusnya Arash memang memberikan waktu untuk Putri. Tidak mendesaknya seperti saat ini. Walaupun sebenarnya niat pria itu baik, tetapi setiap orang membutuhkan waktu untuk berpikir, bukan? Apa lagi ini adalah keputusan yang harus dia ambul untuk seumur hidupnya.


"Bisa kita kembali sekarang?" ujar Putri menyadarkan keterdiaman Arash.


"Oh, oke." Arash pun kembali duduk dengan benar di kursi kemudinya. Pria itu pun mulai melajukan kembali mobil dengan kecepatan sedang.


Lagi, suasana mobil pun terasa hening, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Hanya ada lantunan musik yang di putar oleh Arash di dalam mobilnya untuk mengusir rasa sepi yang sedang menyelimuti mereka berdua.


Kruuukk ....


Putri menoleh ke arah Arash, di saat mendengar suara yang tak asing berasal dari perut pria itu.


"Kamu lapar?" tanya Putri yang membuat Arash menoleh ke arahnya.


Kruuuukkk ... kruuuuuuuuukkkkk ...


Lagi, perut Arash mengeluarkan suara yang terdengar sangat menggelikan sekali di telinga Putri.


"Sebaiknya kita cari makan," ujar Putri sambil menahan senyumnya.


"Ya, aku rasa begitu juga," sahut Arash sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal dengan wajah yang merona.


Ah, biasanya Putri yang selalu mempermalukan dirinya. Tapi saat ini, kejadian itu pun berbalik kepada Arash.


Arash pun menghentikan mobil tepat di sebuah warung makan tenda biru yang ada di pinggir jalan. Di sana terdapat berbagai makanan yang di jual.


"Kita makan di sini aja, ya?" ajak Arash.

__ADS_1


"Boleh, aku gak masalah."


Putri dan Arash pun turun, mereka berjalan bersisian masuk ke dalam tenda biru tersebut.


"Mau pesan apa, Mas?" tawar pelayan di saat Putri dan Arash sudah duduk di bangkunya.


"Saya pesan nasi uduk pecal lele aja, Mas," ujar Arash menyebutkan pesanannya. "Kalau kamu, Put?" tanya Arash kepada gadis yang duduk di sebelahnya, di mana Putri sedang melihat menu yang tertera di atas meja.


"Emm, aku mau sate padang aja," jawab Putri. "Pakai ceker ya, Mas," tambah Putri dengan tersenyum kepada pelayan.


"Baik, Mbak. Minumnya mau pesan apa?" tanya pelayan itu lagi.


"Emm, jeruk hangat aja, Mas, dua," jawab Putri yang mana membuat senyuman di bibir Arash pun mengembang.


"Sama air putih hangatnya ya, Mas," sambung gadis itu lagi, sehingga membuat senyuman Arash semakin melebar.


"Kamu suka ceker?" tanya Arash merasa sedikit takjut melihat gadis yang ada di sebelahnya saat ini.


Biasanya, ceker itu terkenal di kalangan masyarakat biasa, mengingat betapa mahalnya daging ayam di pasaran. Dan untuk seseorang seperti Putri, tentu saja gadis itu mungkin tidak pernah memakan ceker. mengingat dari mana Putri berasal. Seperti halnya dirinya yang tidak pernah sekali pun memakan ceker ayam.


"Suka banget. Apa lagi kalau di semur. Beeuh, itu rasanya nikmat lagi," seru Putri dengan wajah yang berbinar membayangkan betap lezatnya makanan yang berasal dari kaki ayam tersebut.


"Oh, begitu," lirih Arash yang sedikit pun tidak tergoda dengan apa yang Putri katakan.


Ya, Arash tidak berniat untuk mencicipi makanan yang berasal dari ceker ayam tersebut.


Duh, belum tahu aja Arash gimana rasa ceker ayam. Mungkin kalau sudah rasa sekali, bakal ketagian kali ya ...


Ah ya, di sini emak mau revisi sedikit soal umur Putri ya. Sebelumnya emak menuliskan jika Putri sebaya dengan umur Arash. Maaf, emak salah hitung, seharusnya putri sebaya dengan Quin. Jadi, umur Putri adalah 24 tahun, ya.

__ADS_1


__ADS_2