
Putri dan Bara sedang bersiap untuk memberikan kejutan kepada sang mama dan papa. Di mana, kehadiran seluruh keluargnya ke Jakarta untuk melihat rumah yang Bara beli pun, bertepatan dengan ulang tahun Mama Nayna.
"Mbak, kayaknya aku harus ketemu klien deh," sesal Bara.
Saat-saat di mana dia sedang mempersiapkan kejutan untuk sang mama, tiba-tiba saja asistennya mengatakan jika Bara harus bertemu dengan klien penting mereka. Kalau tidak, maka proyek triliunan rupiah akan hilang dalam sekejap. Untuk itu, Bara meminta sang kakak untuk melanjutkan mempersiapkan segala keperluan untuk kejutan di hari ulang tahun sang mama.
"Jangan lama-lama, cepatlah kembali," pesan Putri sebelum adiknya itu benar-benar berlalu.
Putri mencebikkan bibirnya, di saat restoran yang di pilih oleh Bara adalah di salah satu hotel milik keluarga Moza.
"Semoga saja aku tidak bertemu dengan dia," lirih Putri yang masih merasa canggung bertemu dengan Arash.
Walaupun mulutnya berkata seperti itu, tetapi bahasa tubuhnya benar-benar sangat bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan saat ini. Contohnya seperti saat ini, di mana Putri sedang mencari-cari keberadaan Arash.
"Mana mungkin dia berada di sini. Pasti sedang dinas malam," gumam Putri yang tidakd menemukan keberadaan Arash.
"Apa kamu merindukan aku?" bisik suara bariton yang membuat Putri terkejut.
"Kamu?"
Soni terkekeh di saat dia berhasil mengejutkan gadis yang sangat dia cintai itu. Tadi, saat Bara sebelum pergi meninggalkan sang kakak sendirian, pria itu pun meminta Soni untuk menemani Putri mempersiapkan segala keperluan untuk malam nanti. Dan untuk itulah, Soni berada di sini saat ini.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Putri dengan kening mengkerut. "Pasti Bara yang menyuruhnya, kana?" tebak Putri.
"Emm, bisa ya dan bisa tidak," jawab Soni sambil tersenyum.
"Ya dan tidak gimana?" cicit Putri.
__ADS_1
"Ya, Bara memang menyuruh aku untuk menemani kamu di sini. Tidak, karena memang aku ingin menemui kamu," jawab Soni yang tak pernah melepaskan senyuman manisnya di depan Putri.
"Ooh." Putri pun kembali memperhatikan pihak organizer untuk mendekor restoran yang sudah di renovasi tersebut.
"Mbak, untuk kamar pengantinnya gimana?" tanya Putri kepada kepala manager hotel yang saat itu juga sedang mengawasi pihak organizer.
"Seperti yang Nona Putri inginkan. Kalau Nona ingin melihatnya, mari, biar saya tunjukkan," ujar manager hotel tersebut.
"Boleh," jawab Putri.
Manager hotel pun mempersilahkan Putri dan Soni untuk mengikutinya menuju kamar president suite yang ada di hotel ini. Kamar yang di khususkan untuk Mama Nayna dan Papa Satria.
"Silakan masuk, Nona, Tuan," ujar manager hotel kepada Putri dan Soni untuk masuk ke dalam lift.
Setelah Putri dan Soni masuk, manager hotel itu pun ikut masuk dan bersiap untuk menutup pintunya.
"Pak," sapa manager hotel tersebut kepada orang yang baru saja masuk ke dalam lift.
Putri yang sedang asik berbincang dengan Soni sambil memperhatikan ponsel pria itu pun, tidak memperhatikan orang yang baru saja masuk ke dalam lift.
"Jadi, kalau kita menikah nanti? Kamu mau bulan madu di mana?" tanya Soni sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Di bulan," jawab Putri asal sambil terkekeh.
Berhubung pria yang baru saja masuk ke dalam lift berdiri di hadapan Putri dan membelakangi gadis itu, sehingga membuat Putri tidak menyadari siapa pria tersebut. Apa lagi, penampilannya terlihat berbeda sore ini.
"Oke, nanti aku pesan pesawat luar angkasa ya," kekeh Soni.
__ADS_1
"Huum, yang nyaman dan ada AC-nya," jawab Putri dengan menahan tawanya.
"Baiklah. Ntar anak-anak kita mau di kasih nama planet yang mana? Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, atau Pluto?" tanya Soni dengan tersenyum lebar.
"Venus kayaknya cantik deh. Eh, emangnya anaknya cewek apa cowok?" tanya Putri.
"Aku ikut keinginan kamu aja," jawab Soni.
"Yee, mana bisa gitu. Kan ka—"
"Ekheeem .."
Suara deheman yang sangat kuat pun membuat Putri menghentikan ucapannya. Seketika gadis itu merasa seolah mengenali pria yang berdiri di depannya saat ini.
Arash berbalik dengan senyuman yang terukir sangat manis sekali di wajahnya, sehingga membuat Putri membelalakkan mata saat menyadari jika pria yang berdiri di hadapannya adalah Arash.
"Mulai dari sini, biar saya yang menjadi pemandu tamu VVIP kita," ujar Arash kepada manager hotel.
"Baik,Pak," jawab manager hotel itu tak ingin membantah sang bos.
"Jadi, kamar pengantin seperti apa yang Nona Putri dan Pak Soni inginkan?" tanya Arash sambil mengepalkan tangannya.
"I-itu ..."
"Kamar yang sangat romantis. Membuat kami seolah berada di atas bulan," jawab Soni sambil tersenyum miring, di mana pria itu sengaja ingin membuat Arash cemburu dan berjuang bersamanya untuk memperebutkan Putri.
Jangan di tanya ya, bagaimana posisi Putri saat ini. Jika saja Doraemon itu nyata, mungkin Putri akan meminta pintu ke mana saja untuk menghindar dari dua pria yang saat ini sedang perang tatapan.
__ADS_1