
"Maaf, ada apa ini? Kenapa lama sekali ya?"
Arass menoleh ke sumber suara dengan kening mengkerut.
"Maaf, Mbak, atas ketidaknyamanannya," ujar gadis parkir tersebut. "Bapak ini kehilangan karcis parkirnya, kemudian beliau tidak dapat menunjukkan surat-surat berkendaranya," ujar gadis parkir tersebut.
"Baiklah, kalau begitu bisakah Anda menyingkirkan mobilnya sekarang? Karena saya terburu-buru di sini," ujar Putri kepada Arash.
"Nona, di sini bukan Anda saja yang terburu-buru, tapi saya juga," ujar Arash tak mau kalah.
Tak berapa lama kepala security pun datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya pria bernama Tono tersebut.
"Begini, Pak. Seperti yang sudah saya laporkan tadi. Bapak ini kehilangan karcis parkirnya, kemudian beliau juga tidak mampu menunjukkan surat-surat kepemilikan motornya. Tapi, beliau tetap bersikeras untuk meminta di bukakan palang pintunya," ujar gadis parkir.
Kepala security yang bernama Tono itu pun melirik ek arah Arash, pria itu tahu siapa pria yang kehilangan karcis tiket parkir di mall tersebut.
"Begini, Lola. Bapak ini sebenarnya adalah anak da----,"
"Pak Tono," tegur Arash. "Bapak masih ingat saya?" ujar Arash dengan memberikan kode, jika dia tidak mau identitasnya terbongkar saat ini. Apa lagi di sana ada orang asing.
"Dompet saya sepertinya terjatuh di ruangan, saat saya memberikan laporan tentang para siswa-siswa tadi," ujar Arash kembali dengan penuh tekanan di beberapa bagaiana kata, sehingga membuat Pak Tono dengan cepat mengerti.
Ya, walaupun tadi Arash sempat mengatakan jika dirinya adalah anak dari pemilik mall adem ini, akan tetapi dia menyesali perbuatannya yang telah membongkar identitasnya sendiri. Untungnya gadis parkir itu tidak percaya dengan ucapannya.
"Oh, jadi dompet yang jatuh itu dompet Anda," ujar Pak Tono. "Iya, saya menemukannya," ujar pria paruh baya tersebut.
"Nah, di dalam dompet itu ada surat-surat mobil saya. Bisa bapak tunjukkan kepada gadis ini. Saya ada keperluan mendadak soalnya," mohon Arash.
"Iya, baiklah. Anda bisa pergi kok," ujar Pak Tono.
"terima kasih, Pak. Bapak memang malaikat penolong saya," ujr Arash sambil menyalami tangan Pak Tono.
"Tunggu, tapi Bapak tetap tidak bisa pergi sebelum membuktikan surat-suratnya," cegat gadis parkir.
__ADS_1
"Lola, begini. Urusan surat kendaraan, biar saya yang urus. Saya akan tunjukkan surat-suat kendaraanya dengan kamu nanti. Jadi, biarkan Bapak ini pergi," ujar Pak Tono penuh dengan peringatan.
"Tapi, Pak. Tetap saja Bapak ini harus membayar dendanya," ujar gadis parkir yang bernama Lola tersebut.
Pak Tono pun melirik ke arah Arash, sehingga membuat pria itu kembali meminta pertolongan kepadanya.
"Begini, semua uang saya ada di dalam dompet. Bisakah Bapak meminjamkana uang sebentar? Nanti saya akan menggantinya," mohon Arash yang terlihats angat menyedihkan di mata Putri.
"Duh, saya cuma bawa uang liima ribu," ujar Pak Tono sambil mengeluarkan uang lima ribunya.
Putri menghela napas pelan sambil mendengus kesal, gadis itu pun berjalan menuju mobil untuk mengambil dompet, kemudian dia kembali ke gadis parkir.
"Berapa dendanya?" tanya Putri, yang mana membuat Arash dan Pak Tono menoleh ke arah gadis itu.
"Dua ratus lima puluh ribu," ujar Lola.
"Biar saya yang bayarkan dendanya," ujar Putri dan mengeluarkan uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.
"Ehm, permisi, kenapa Anda membayarkan denda saya?" tanya Arashd engan kening mengnkerut.
"Anggap saja ini ucapan permohonan maaf saya karena sudah salah paham dengan Anda kemarin, juga ucapaan terima kasih saya karena Anda telah menolong saya tadi, ya walaupun cara Anda sungguh sangat menyebalkan," desis Putri di akhir kalimatnya.
"Bukankah Anda tadi mengatakan jika sedang terburu-buru?" potong Putri.
"Ya,"
"Kalau begitu Anda bisa pergi, karena saya juga terburu-buru harus menemui seseorang," ujar Putri dan berbalik badan menuju mobil.
Arash hanya bisa memandang punggung Putri dengan mulut sedikit terbuka, karena dia ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi gadis itu malah membalikkan badannya sebelum dia mengutarakan apa yang ingin dia katakan.
"Dasar gadis aneh," lirih Arash dengan pelan.
Tin ... Tin ...
Putri menekan klakson, memberi kode kepada Arash untuk menepikan mobilnya.
__ADS_1
Pria itu pun berpamitan kepada Pak Tono dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Nyebelin banget tuh cewek," gerutu Arash dan melajukan mobilnya di saat palang pintu itu terbuka.
Di dalam mobil, Luna bertanya kepada Putri, apa yang terjadi di luar mobil. Sehingga membuat sahabatnya itu terlihat kesal dan semakin bad mood.
"Hah? Jadi kamu bayarin denda parkir tuh cowok?" tanya Luna.
"Hmm, anggap aja ucapana terima kasih aku ke dia," ujar Putri sambil membalas pesan dengan orang yang akan dia temui di hotel.
"Kebaikan kamu," ujar Luna. "Atau diam-diam kamu naksir lagi dia," goda Luna yang mana membuat Putri menoleh ke arah Luna dengan mata melotot.
"Apa? Naksir?" tanya Putri dengan nada tak senang. "Idih, kayak gak ada cowok lain aja di dunia ini. Lagian nih, ya. Kalau pun di dunia ini tinggal dia spesies jenis pria di muka bumi, mending gue ngejomblo seumur hidup," cibir Putri dengan kesal.
"Upps, hati-hati dengan ucapan kamu lo. Entar takutnya malah berjodoh lagi," kekeh Luna yang mana sangat suka menggoda sang sahabat.
"Idih, amit-amit jabang bayii," ujar Putri sambil memukul dasboard dan memukul kepalanya.
Luna melirik sang sahabat dan kembali terkekeh pelan. Dalam bayangannya saat ini, lucu mungkin ya jika Putri berjodoh dengan pria itu. Bagaimana hubungan mereka akan terjalin? Apa akan terus bertengkar atau bisa menjadi budak cinta seperti yang ada di novel-novel.
"Gak usah mikir kejauhan, ogah gue berjodoh sama tuh cowok," ketus Putri yang mana seolah mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya itu.
Luna pun kembali terkekeh mendengar gerutuan sang sahabat. Cukup jarang dia melihat Putri bisa sekesal ini dengan seorangg pria.
"Jadi, aku antar kamu ke hootel aja nih?" tanya Luna memastikan tujuan yang ingin di tuju oleh Putri.
"Hmm, Tante Desi sudah menunggu di sana."
"Oke," jawab Luna dan melajukan mobilnya menuju ke arah hotel yang di sebut oleh Putri.
*
Araash baru saja turun dari mobilnya, pria itu masih memikirkan harga dirinya yang seolah di bayar oleh gais bernama Putri.
"Pokonya aku harus balikin itu duit. Iya kali aku terima uang dari orang yang gak aku kenal," gumamnya dan berjalan masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
Kehadiran pria itu pun di sambut oleh asisten kliennya, dan membawa Arash bertemu dengan orang yang akan membahas kerjaan dengannya. Dia berharap agar pertemuannya tidak menjadi sial, karena dia baru saja bertemu dengan gadis yang dia anggap pembawa sial.
"Semoga sukses kontrak kerja sama ini," batin Arash.