
Sifa mengernyitkan keningnya di saat Abash menghentikan mobil di sebuah rumah makan kecil, di mana terdapat penjual sarapan pagi.
"Kita sarapan dulu yaa, saya belum sarapan," ujar Abash dan turun dari mobil.
Sifa pun ikut turun dari mobil dan mengekori Abash dari belakang.
"Bapak yakin makan di sini?" bisik Sifa, yang mana itu artinya tubuh wanita itu sangatlah dekat dengan Abash.
"Hah? Oh, ya .. kenapa?" tanya Abash sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Gak papa. Secara kan Bapak----,"
"Saya bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan, Sifa. Yang penting halal, bersih, dan enak saja, sudah cukup untuk saya, " ujar Abash cepat.
"Ooh..." Sifa pun memilih duduk di hadapan Abash.
Seorang pelayan pun mendatangi mereka untuk menanyakan pesanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Abash kepada Sifa.
"Saya sudah sarapan tadi di rumah, Pak," jawab Sifa.
"Yakin gak mau makan lagi? Di sini enak loh," ujar Abash.
__ADS_1
"Emm, tapi saya ma--"
"Kamu suka sayur kan? Gimana kalau saya pesanin gado-gado? Gado-gado di sini enak loh," ujar Abash dan langsung memberi tahu kepada pelayan pesanan makanan mereka.
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun mengelus perutnya yang masih terasa kenyang.
"Gimana mau ikut lomba? Kalau kekenyangan?" batin Sifa.
Tak berapa lama gado-gado dan lontong pesanan Abash pun tiba, Sifa terpaksa menerima piring yang di sodorkan oleh Abash kepadanya.
"Ayo, di makan," ujar Abash dan mengucapkan bismillah sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Sifa pun ikut membaca bismillah dan memasukkan sesendok gado-gado ke dalam mulutnya. Mata gadis itu pun langsung membulat di saat merasakan betapa enaknya rasa gado-gado yang ada di dalam mulutnya.
Abash pun menyunggingkan senyuman, di saat melihat Sifa menyukai makanan yang dia pesankan.
"Bapak tau aja makanan enak ya," seru Sifa.
"Hmm, ini juga karena Mama. Mama suka jajanan lawas begini."
"Oh yaa? Wah, Tante Kesya memang luar biasa ya. Walaupun tajir melintir, tapi tetap suka jajanan beginian. Saya pikir awalnya kalau Tante Kesya dan Om Arka itu orangnya sombong dan dingin seperti Bapak, ternyata sangat baik dan ramah," ujar Sifa dengan tertawa pelan.
"Kamu bilang apa? Saya dingin?" tanya Abash.
__ADS_1
Sifa mengerjapkan matanya, kemudian dia perlahan menganggukkan kepalanya.
"Iya, Bapak berbeda dengan Pak Arash. Kalau Pak Arash itu ramah, murah senyum, trus suasana pun juga terasa hangat."
Sifa pun terkejut di saat tangannya di genggam erat oleh Abash.
"Apa sekarang kamu merasa hangat?" tanya Abash yang mana membuat Sifa menelan ludahnya dengan kasar.
"Hah? I-itu---,"
"Saya hangat kan? Gak dingin seperti yang kamu katakan tadi," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengerjapkan matanya bingung.
Sifa kembali membesarkan matanya di saat Abash tersenyum kepada dia.
"Senyum saya gak kalah manis kan dari Arash?" ujar Abash lagi.
Sifa kembali menelan ludahnya dengan kasar. "I-iya, manis... Bapak lebih ganteng kalau senyum," lirihnya dengan pelan.
"Terus? Apa bedanya saya dengan Arash?" tanya Abash.
"I-itu---," Sifa melirik ke arah tangannya yang masih di genggam oleh Abash.
"Ba-bapak bisa lepas tangan saya dulu, Gak?" tanya Sifa dengan perasaan canggung, karena orang yang ada di sekitar mereka telah mencuri pandang ke arah mereka.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak nyaman?"