
Setelah makan malam, Mama Kesya dan Papa Arka pun pamit duluan untuk pulang. Tak lupa Mama Kesya meminta Arash untuk mengantarkan Sifa pulang dengan selamat.
"Rumah kamu di mana?" tanya Arash kepada Sifa.
"Hah?" Gadis itu bingung harus menjawab apa. Ingin menyebutkan tempat tinggalnya yang di apartemen, takut jika Arash bertanya lebih jauh.
"Sifa," panggil Arash.
"Iya, Pak. Saya tinggal di dekat apartemen__" Sifa pun terpaksa menyebutkan tempat tinggalnya. Tetapi, gadis itu sengaja tak mengatakan jika dirinya tinggal di apartemen, melainkan di toko yang berada di dekat apartemen tersebut.
"Emangnya ada kos-kosan di sana?" tanya Arash.
"Hah? oh itu, gak ada sih, Pak. Kebetulan teman saya punya toko di sana, jadi ada kamr kossong. Nah, dia kasih izin saya untuk tinggal di sana sampai saya mendapatkan tempat tinggal yang baru," ujar Sifa.
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Arash pun mengantarkan Sifa ke tempat yang di sebutkan oleh gadis itu. Setelah tiba di sebuah toko yang pintunya sudah tertutup, Arash pun memarkirkan mobilnya di depan toko.
"Sepertinya kosong," ujar Arash.
"Ah, sudah tutup, Pak. Saya ada kunci sendiri kok," ujar Sifa dengan tertawa pelan.
Arash menganggukkan kepalanya, "Saya gak turun lagi ya, kamu gak papa kan buka pintu sendiri," ujar Arash.
__ADS_1
"Gak papa, Pak. Saya bisa buka pintu sendiri kok. Bapak gak usah repot-repot bukainnya," ujar Sifa sambil terkekeh.
"Sekali lagi terima kasih ya, Pak,' ujar Sifa sebelum benr-benar turun dari mobil.
"Sama-sama," ujar Arash.
Sifa pun membuka pintu mobil dan turun. gadis itu melambaikan tangannya di saat Arash menghidupkan klakson dan berlalu meninggalkannya.
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun menutupi kepalanya dari hujan yang masih turun namun tak terlalu lebat.
Sifa berlari dengan menuju apartemen di mana dirinya tinggal, untungnya toko yang gadis itu sebutkan tak terlalu jauh dari apartemennya.
Setelah sampai do lobi, Sifa mengibas-ngibas bajunya yang basah, kemudian dengan rambutnya yang juga basah.
Gadis itu pun menoleh ke arah sumbe suara. "Bapak?" ujar Sifa dengan terkejut.
"Kenapa bisa basah-basah begitu?" tanya Abash.
Ya,pria yang menghampiri Sifa adalah Abash.
"Oh, tadi saya naik ojek, ya. naik ojek," ujar Sifa tanpa berani menatap wajah Abash.
Abash menaikkan alisnya sebelah, pria itu sempat melihat jika Sifa berlari menerobos hujan. Namun, pria itu tak ingin ikut campur terlalu jauh tentang urusan pribadi gadis yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Abash mengernyitkan keningnya saat melihat baju yang di kenakan oleh Sifa terlihat tembus pandang karena basah. Pria itu pun membuka jasnya dan memakaikannya ketubuh Sifa, sehingga membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Baju kamu tembus, BH-nya terlihat, makanya saya tutupi," ujar Abash yang mana membuat Sifa membuka sedikit mulutnya karena merasa terkejut dengan bahasa yang di gunakan oleh bosnya itu.
"Kamu masih mau berdiri di sini? Atau mau masuk?" tanya Abash.
"Hah? Oh, masuk Pak." jawab Sifa gugup.
"Ya sudah, ayo."
Sifa pun berjalan di belakang Abash yang sudah berjalan duluan di depannya.
"Bapak dari mana?' tanya Sifa, kemudian detik selanjutnya gadis itu menyesal menanyakan pertanyaan tersebut.
"Lembur," jawab Abash setelah satu menit diam mencueki pertanyaan Sifa.
Pintu lift terbuka, mereka pun masuk ke dalam kotak besi tersebut.
"Kamu sibuk?" tanya Abash tiba-tiba.
"Hah? enggak, kenapa Pak?" tanya Sifa.
"Temani saya lembur mau? Nanti saya kasih bonus lembur," ujar Abash sambil menoleh ke arah Sifa.
__ADS_1
Sifa mengerjapkan matanya mendengar ucapan Abas, haruskah dia menerima tawaran sang bos? Atau menolaknya?