Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 257 - Di jemput Bara


__ADS_3

Putri melihat ke arah ponselnya yang berdering, menandakan sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel genggamnya. Gadis itu pun tersenyum di kala membaca nama sang adik yang tertera di ataslayar ponselnya dengan berlatar belakang foto Bara sendiri. Putri pun menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan yang masuk dari sang adik, sehingga panggilan telepon itu pun tersambung.


"Assalamualaikum, Bar," siapa Putri saat panggilan itu sudah terhubung dengan sang adik.


"Waalaikumsalam Mbak, kamu sudah selesai kerjanya?" tanya Bara dari seberang panggilan.


Putri melirik ke arah jam tangannya di mana sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Di mana sebentar lagi waktunya untuk istirahat kantor pun tiba.


"Sedikit lagi pekerjaan aku selesai, kenapa, Bar?" tanya tanya Putri yang sebenarnya sudah tau apa tujuan sang adik menghubunginya saat ini. Hanya saja, gadis itu berpura-pura tidak tahu untuk apa Bara menghubunginya.


Padahal Putri sudah bisa menebak apa yang ingin Bara katakan. Tentu saja adiknya itu ingin menjemputnya atau jangan-jangan Bara sudah ada di lobby kantornya lagi. Ah biarkan saja pria itu menunggu, siapa suruh dia menjadi pria menyebalkan pagi ini. Putri masih merasa kesal dengan apa yang terjadi pagi ini pada dirinya. Dan rasa kekesalan itu dia lampiaskan kepada Bara.


Kepada siapa lagi memangnya ingin putri lampiaskan jika tidak dengan adiknya itu. Tidak mungkin kan kepada Arash. Bisa-bisa pria itu salah paham lagi kepada Putri. Ah sudahlah, biarkan saja, Putri tidak ingin mengingat tentang arash lagi saat ini. Hal itu akan mengingatkan kepada perasaannya yang terombang ambing dan mengingat kejadian memalukan tadi pagi.


Jika setiap dia mengingat tentang Arash. Putri selalu berharap jika apa yang di katakan oleh Desi adalah benar. Di mana Arash ternyata juga mencintainya bukan mencintai Sifa. Mengingat akan hal itu Putri menjadi sedih. Apakah Arash mencintainya karena menjadikan dirinya sebagai pelarian? Apa karena pria itu memang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Atau jangan-jangan karena Arash merasa kasihan kepadanya. Di antara ketiga itu bisa saja kan apa yang Putri pikirkan benar?


"Baiklah kalau begitu, aku sudah menunggu di bawah." Bara pun memutuskan panggilannya secara sepihak.


Putri terkekeh geli melihat panggilannya telah diputuskan secara sepihak oleh adiknya itu. Kapan lagi dia bisa membuat adiknya itu merasa kesal atas perbuatannya. Anggap saja ini sebagai pembalasan dendam yang Putri berikan kepada sang adik.


"Emang enak di kerjain, Lagian mah siapa suruh jadi orang nyebelin," cibir Putri pelan agar tidak ada yang mendengar apa yang dia katakan nya barusan.


Putri bergegas menyimpan semua berkas-berkas yang ada di atas meja. Dia pun bersiap untuk menjumpai adiknya yang sudah berada di kantor firma hukum di mana tempatnya bekerja.


"Hai, Put," sapa Sonia.


"Hai, Sonia." Putri pun melihat penampilan Sonia yang sudah rapi dengan tas yang sudah tersandang di bahu wanita itu.


Bisa Putri tebak jika Sonia sudah bersiap untuk pergi makan siang dengan seseorang. Lihat saja bibir merahnya yang merekah membuat gadis itu terlihat sangat seksi dan cantik.


"Kamu mau pergi?" tanya Putri.


"Huum, ya. Siang ini aku ada undangan pesta," ujar Sonia memberitahu dengan tersenyum penuh arti. "Pesta pernikahan, pernikahan mantan," kekeh Sonia yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.


"Serius?" tanya Putri terkejut.


Benarkah Sonia akan mendatangi pesta pernikahan mantannya? Waah, sunggu luar biasa sekali wanita itu. Di jaman sekarang memang orang sudah pada unik-unik. Mereka sengaja datang ke pesta pernikahan mantan hanya untuk mencari sensasi. Apa Sonia juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang viral di media sosial saat ini?


"Iya, aku serius. Mantan aku hari ini nikah, dan aku di undang olehnya," jawab Sonia tanpa rasa beban sedikit pun.


"Wah kamu luar biasa, Sonia," puji Putri merasa kagum dengan keberanian teman seperjuangan kantornya ini. "Ntar kamu jangan jadi viral seperti apa yang sudah-sudah di media sosial, ya?" kekeh Putri yang mana membuat Sonia membuka mulutnya.


"Doa kan saja agar aku tidak ikut viral seperti yang sudah-sudah," bisik Sonia sambil terkekeh pelan.


"Lagi pula, sudah tak ada lagi cinta di hati ini untuk pria itu. Jadi, untuk apa aku merasa takut datang ke sana?" Jawab Sonia sambil mengendikkan bahunya.


Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Sonia. Jika tak ada lagi cinta untuk sang mantan, jadi untuk apa merasa takut datang ke pesta pernikahan mantan. Lagi pula Sonia datang dengan sebuah undangan kan, bukan hanya sekedar datang dan membuat heboh acara tersebut. Sonia sebenarnya juga berteman baik dengan istri dari mantannya itu, maka dari itu tidak ada salahnya kan jika dia datang ke acara pesta temannya dan mantan pacarnya untuk memberikan sekedar ucapan selamat?


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya," ujar Putri sambil menepuk bahu Sonia pelan.


"Iya, kamu juga ya, seperti nya kamu mau makan siang di luar juga nih?" goda Sonia sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Huum, kebetulan adik aku datang ke Jakarta. Jadi aku mau makan siang bersamanya," ujar Putri memberi tahu.


"Adik atau adik, nih?" goda Sonia lagi. "Bukannya bebeb polisi itu?" Kekeh Sonia yang mana membuat wajah Putri merona.


"Iih, apaan sih, aku tuh cuma temenan aja ya sama dia," ujar Putri memberi tahu.


"Temenan apa temenan?" tanya Sonia lagi dengan nada suara menggoda. "Atau temen tapi mesra?" sambung Sonia lagi dengan tertawa pelan.


"Aku serius, kami ini hanya berteman aja, kok," tegas Putri, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang ada di pipinya.


"Teman bisa seromantis itu ya," kekeh Sonia. "Ya udah deh kalau begitu, aku duluan yaa??" pamit Sonia yang di angguki oleh Putri.


"Iya, hati-hati di jalan. Ingat, jangan sampai viral," goda Putri yang mana membuat Sonia tertawa terbahak-bahak.


Putri pun kembali bergegas membereskan meja nya. Setelah beres, dia mengambil tas dan berjalan keluar menuju ruangannya.


Cling ..


Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel gadis itu, di mana kali ini nama Soni tertulis di sana.

__ADS_1


"Kamu sudah makan siang?" tanya Soni dalam pesan singkatnya.


"Iya, ini mau pergi makan siang dengan Bara," send.


"Oh, jadi dia sudah tiba di sini, ya?" tanya Soni lagi dari pesan sisngkatnya.


"Huum, tadi pagi dia tiba dan langsung menjemput aku ke apartemen," send.


"Apa? Pagi-pagi dia jemput kamu?" Bisa Putri tebak, jika saat ini pasti Soni sangat terkejut dan berkata dengan sedikit berteriak di saat sedang menulis pesan singkat itu.


"Iya, aku pikir dia akan marah karena telah menyembunyikan kasus ini dari dia. Tapi ternyata aku salah. Sepanjang perjalanan dia tidak membahas apa pun tentang masalah itu," send.


"Hmm, jika dia memarahi kamu, kamu tau kan ke mana harus mengadu?" ujar Soni dari pesan singkatnya itu.


"Aku tau."


Saat Putri sedang asyik berchat ria bersama Soni, tiba-tiba saja dia tidak sengaja menabrak Yani yang baru muncul entah dari mana, sehingga membuat semua berkas yang ada di tangan wanita itu terjatuh ke lantai dan berserakan. Tak hanya berkas, tetapi ponsel Putri juga ikut terjatuh dan terpental jauh dari jarak Putri berdiri.


Sebenarnya ponsel Putri terjatuh seharusnya tak jauh dari dekatnya, tetapi karena Yani menendang ponsel itu hingga terpental mengenai pot bunga yang terbuat dari tanah liat dan  ada di pinggir dinding, membuat ponsel Putri pun mati tiba-tiba.


Ya, maklumlah. Ponsel canggih jaman sekarang mana sekuat ponsel jaman dulu yang tebal nya memenuhi kantong. Bahkan, sudah terjatuh dan baterai terlepas pun, ponsel itu masuk hidup dengan gagah tanpa perlu di bawa ke counter. Kalau sekarang? Garansi mana garansi?


"Eh, maaf ya," lirih Putri merasa bersalah dan ikut membantu memungut berkas yang berserakan di lantai.


"Kamu itu kalau jalan lihat-lihat dong, punya mata kok di jual," geram Yani dengan suaranya yang menggelegar sehingga mengambil atensi orang yang ada di sekitar.


Semua orang yang berada di ruangan itu pun langsung menoleh ke arah Putri dan Yani yang terlihat bersitegang. Tidak, bukan mereka berdua, tetapi hanya Yani saja yang terlihat menarik urat lehernya. Sedangkan Putri masih terlihat tenangn dan seolah tidak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini. Lagi pula, jika Putri mau, cukup sekali kuncian tangan saja, Yani sudah bisa merintih kesakitan dan memohon ampun kepadanya.


"Yan, biasa aja kali responnya. Kan Putri gak sengaja juga nabrak kamu," bela Putra, yang mana saat ini sudah menengahi Putri dan juga Yani.


"Lo gak lihat? Kalau dia jalan sambil main hape dan gak lihat jalan? Kalau dia gak teledor, mana mungkin dia bisa nabrak gue," kesal Yani. "Segede gini masa gak kelihatan. Emangnya dia buta, apa?  Semua ini karena salah dia. Kalau begini ceritanya kan gue harus kembali mengeprint ulang semua berkas-berkas ini? Masa iya gue kasih kertas kotor ke atasan?" geram Yani yang mana membuat Putri menghela napasnya pelan.


Sebenarnya Putri tahu jika Yani sengaja membuat semua berkas-berkas yang ada di tangan nya terjatuh hingga berhamburan. Akan tetapi, Putri saat ini lagi malas berdebat tentang hal yang tidak penting. Maka dari itu, Putri memilih diam dan mengalah. Mengurus perasaannya sendiri saja, Putri masih perlu waktu, jadi dia tidak ingin menambah  beban


"Maaf, ya, Yan, aku gak sengaja," ujar Putri sambil memberikan semua berkas yang sudah dia pungut dari lantai.


"Dasar sok suci, bermuka dua. Tukang cari muka," geram Yani dan mengambil berkas yang ada di tangan Putri dengan kasar.


Membayangkannya saja sudah seram, gimana kalau beneran kejadian? Enggak deh, amit-amit, jangan sampai Putri satu ruangan dengan Yani. Uugh, bisa-bisa adu mulut dan berakhir adu jotos dengan nantinya.


"Kamu gak papa kan, Put?" tanya Putra memastikan keadaan Putri. "Ini ponsel kamu yang terjatuh," ujar pria yang jabatannya lebih tinggi dari Putri itu sambil memberikan ponsel Putri yang terlihat sedikit lecet pada bagian casingnya.


"Huum, aku gak papa," jawab Putri dengan tersenyum tipis. "Terima kasih ya." Putri pun mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Putra kepadanya.


"Iya, sama-sama. Dan apa yang di katakan oleh Yani, kamu gak usah ambil pusing, ya? Dia memang begitu orangnya. Suka marah-marah gak jelas," ujar Putra yang mana membuat Putri kembali tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya."


"Ya sudah kalau gitu, Put, aku balik ke ruangan dulu, ya?" pamit Putra yang di angguki oleh Putri.


"Sekali lagi terima kasih, Pak Putra," ujar Putri saat Putra berlalu meninggalkannya.


"Bukan masalah," jawab Putra sambil berlalu meninggalkan Putri.


Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun kembali mulai mengayunkan langkahnya keluar kantor, di mana Bara sudah menunggunya sedari tadi.


Putri melihat ke sekeliling parkiran mobil, kemudian dia melihat Bara yang tengah melambaikan tangan kepadanya.


"Dasar sok ganteng," gumam Putri saat melihat gaya Bara yang terlihat berbeda hari ini.


Tubuh atletis Bara yang biasa terbalut oleh jas dan dasi, kemudian rambutnya yang di sisir rapi klimis, di tambaha sepatu pantofel berwarna hitam dan mengkilat yang selalu membalut kaki Bara pun, membuat penampilan pria itu semakin terlihat sangat sempurna. Berbeda dengan penampilannya hari ini, di mana Bara hanya menggunakan baju kaos berlengan panjang, celana jeans yang membalut kaki jenjangnya, dan sepatu kets yang membungkus kakinya. Membuat penampilan pria itu terlihat sangat segar dan muda. Di tambah lagi kaca mata hitam yang menghiasi wajahnya, membuat pria itu semakin berkilau dan terlihat sangat tampan sekali.


Ah ya, jangan lupakan model rambutnya yang di biarkan tergerai tanpa menggunakan apa pun, sehingga membuat rambut Bara yang lembut terhembus oleh angin. Pria itu pun menyugar rambutnya, yang mana membuat penampilannya semakin terlihat sangat memukau. Lihat saja, semua wanita yang melihat ke arah Bara sudah berbisik - bisik dan menatap pria itu dengan tatapan memuja.


Putri berjalan menuju ke arah sang adik yang sudah tersenyum lebar kepadanya.


"Dasar sok tampan," cibir Putri yang mana membuat Bara tertawa terbahak-bahak.


"Memang tampan," jawab Bara dengan pedenya. "Kita pergi sekarang?" ajak Bara yang di angguki oleh Putri.


Bara pun membuka pintu mobil untuk sang kakak, setelah memastikan Putri duduk dengan aman dan nyaman, pria itu pun menutup pintu mobil dan setengah berlari menuju pintu yang lainnya.

__ADS_1


"Kita mau makan di mana?" tanya Putri kepada sang adik yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Makan di rumah padang aja, yuk. Aku tiba-tiba kepingin makan gulai kikil," ajak Bara yang mana di angguki oleh Putri.


"Oke, baiklah."


Bara pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan kantor firma hukum di mana Putri bekerja. Bersamaan dengan mobil Bara yang melaju meninggalkan kantor firma hukum, mobil Arash pun masuk dari pintu yang lainnya. Pria itu langsung memarkirkan mobilnya tempat parkir khusus tamu, kemudian dia mencoba menghubungi ponsel Putri kembali.


"Maaf, nomor yang Anda tuju, sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


"Ck, kenapa gak aktif, ya ponselnya?" gumam Arash yang kembali mencoba untuk menghubungi Putri kembali, tetapi hasilnya tetap sama aja. Ponsel Putri tidak dapat di hubungi untuk saat ini.


Arash pun turun dari dalam mobil, kemudian pria itu menghampiri satpam yang sedang bertugas. Satpam itu sudah mengenali dirinya, karena sereingnya Arash mengantarkan Putri ke kantor.


"Maaf, Pak, Putri nya sudah pulang atau masih ada di dalam, ya?" tanya Arash kepada satpam yang sedang berdiri di depan teras lobi.


"Oh, Buk Putri sudah pulang, Pak. Tadi di jemput sama seorang pria tampan," jawab Pak satpam sambil tersenyum ramah.


"Oh, begitu ya?" lirih Arash dengan pelan. "Kalau begitu terima kasih banyak ya, Pak? Saya permisi dulu," pamit Arash kepada satpam tersebut.


"Oh, Iya Pak, silahkan."


Arash pun kembali mengayunkan langkah nya menuju di mana tempat mobilnya terparkir. Pria itu pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Di sandarkan punggung nya ke sandaran kursi, kemudian dia menatap lurus ke arah orang-orang yang sedang berlalu lalang di hadapannya saat ini.


"Apa Putri pergi dengan Soni, ya?" pikir Arash yang mana membuat perasaan pria itu pun terasa sangat sakit.


Arash menghela napasnya dengan pelan,, kemudian dia mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil itu meninggalkan kantor firma hukum di mana Putri bekerja.


"Masih ada kesempatan lain, Rash, tenang aja," ujar Arash menyemangati dirinya.


*


Putri dan Bara baru saja tiba di rumah makan padang, mereka pun turun dari mobil dan berjalan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Itu jika di lihat oleh orang yang tidak mengenal mereka.


"Hayoo, jujur, kenapa kamu gak kerja hari ini?" tanya Putri kepada Bara, di saat mereka sedang menunggu makanan di hidangkan di atas meja.


"Aku kerja, siapa bilang aku gak kerja?" ujar Bara sambil melihat ke sekeliling nya.


Rumah makan ini adalah rumah makan favorit bagi Papa Satria dan Mama Nayna. Dulu, saat mereka sedang jalan-jalan ke Jakarta, maka Papa Satria akan membawa mereka makan nasi padang di rumah makan yang sedang Bara dan Putri datangi saat ini. Rumah makan itu masih terlihat sama, seperti saat dulu mereka datang ke sini bersama-sama.


"Yang bener? Kerja kok malah pakai baju santai begini?" tanya Putri dengan selidik.


Sebenarnya gak masalah sih jika Bara tidak bekerja sehari saja, akan tetapi pria itu hari ini tidak terlihat seperti Bara sang adik yang gila akan kerja. Waktu dalam kehidupannya hanya di penuhi oleh kata kerja .. kerja .. dan kerja. Untuk itu, Putri merasa sedikit heran jika Bara meluangkan waktunya seharian untuk hanya sekedar bersantai.  Apa lagi hari ini bukanlah hari libur.


"Mbak ku tersayang, aku ini kan bos. Jadi, bos bisa bekerja dari mana saja, dong? Lagi pula zaman udah canggih, Mbak ku," ujar Bara yang mana membuat Putri mengerucutkan bibirnya.


"Dasar sombong," cibir Putri yang mana membuat Bara tertawa terbahak-bahak.


"Aku serius loh, Mbak." Bara pun mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. Pria itu pun menunjukkan pesan yang di kirimkan oleh sang asisten, di mana terdapat banyak laporan yang di kirimkan untuk di periksa oleh Bara.


"Sekarang Mbak percaya, kan?" tanya Bara yang mana membuat Putri kembali mengerucutkan bibirnya.


"Gimana enaknya aja sama kamu, Bar," jawab Putri yang mana  tiba-tiba dia teringat kembali akan Arash.


Padahal seharian ini dia sudah berhasil memfokuskan pikirannya untuk tidak mengingat pria itu, akan tetapi saat setelah semua pekerjaannya selesai, tiba-tiba saja bayangan Arash muncul di dalam benak Putri.


"Kira-kira Arash lagi apa, ya?" batin Putri yang merindukan pria itu.


"Maaf, apa saya mengganggu jika bergabung di sini? Kebetulan semua meja sudah penuh," ujar seorang pria yang mana membuat Putri langsung menoleh ke arah sumber suara.


Putri pun melirik ke arah sang adik yang saat ini menatap pria yang sedang berdiri di dekat meja mereka dengan senyuman yang lebar dan terlihat sangat tampan sekali. Bara menyapu sekitar tempat rumah makan ini dengan matanya, memastikan jika memang tak ada lagi meja kosong untuk pria itu duduki.


"Dasar pengganggu," gumam Bara dan mempersilahkan pria itu untuk duduk dan bergabung bersama mereka.


"Hai, Put," sapa Arash dengan senyman lebar yang menghiasi wajahnya.


Putri hanya bisa tersenyum canggung, bagaimana bisa pria itu berada di tempat yang sama dengan mereka. Tidak, bukan itu intinya, tetapi bagaimana bisa Arash muncul di saat dirinya baru saja memikirkan pria itu.


Apa ini Arash yang nyata?


"Kok bengong?" tanya Arash sambil melambaikan tangannya di depan wajah Putri yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang kosong.

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2