Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 320


__ADS_3

Bara menatap iba ke arah Putri. Besok adalah hari pernikahan gadis itu dengan Abash. Walaupun Putri sudah memohon kepada Papa Satria untuk membatalkan pernikahannya, akan tetapi para orang tua sudah sepakat dengan keputusan mereka. Lagi pula, Abash tidak keberatan dengan pernikahan tersebut.


"Kamu memang benar-benar gila. Aku sudah mengatakan jika tidak ingin menikah dengan kamu, tapi kenapa kamu masih bersikeras untuk menikah, hah?" bentak Putri.


Gadis itu diam-diam pergi dari rumah dan menemui Abash yang ada di kantornya.


"Maafin aku, Put. Tapi aku tidak bisa melepas tanggung jawab aku  sebagai seorang pria."


"Dasar brengsek. Aku tidak mau menikahi orang yang tidak cinta dengan aku," kesal Putri.


"Kalau begitu menikahlah dengan Arash," saran Abash.


"Tidak, aku juga tidak akan menikah dengan orang yang wajahnya sangat mirip dengan kamu," tegas Putri.


"Kenapa, Put? Kenapa Arash juga menjadi korban kebencian kamu?" tanya Abash.


"Aku tidak benci sama Arash, aku hanya tidak suka dengan wajahnya. Karena hal itu akan selalu mengingatkan akan tentang---" PUtri menggantung ucapannya, gadis itu benar-benar tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi malam itu.


"Kamu tau, Put. Jika kamu membencinya karena wajahnya, dia bersedia untuk melakukan operasi wajah," ujar Abash yang mana membuat Putri terkejut.


"Apa?"


"Itu semua demi kamu, Put. Bahkan dia sudah mendaftarkan dirinya melakukan sebuah operasi."


"Apa dia sudah gila? Untuk apa dia melakukan hal itu?" tanya Putri.


"Untuk kamu, Put. Agar kamu bisa menerima dia," jawab Abash. "Lagi pula, aku tidak mengingat  apapun tentang malam itu, jadi, aku rasa tidak masalah jika kamu menikah dengan Arash," sambung Abash.


"Ap-apa? Kamu bilang apa?" kejut Putri. "Enteng banget kamu bicara gitu?" ketus Putri dengan tatapan matanya yang menyalang.


"Put, pernikahan ini tidak akan berjalan dengan baik. Kita tidak saling cinta, dan dihati kita sudah ada orang lain," ujar Abash.


"Ya, kita memang tidak saling cinta. Jadi, untuk apa kamu bersikeras menikah sama aku, hah?" pekik Putri sehingga suaranya menggelegar. "Jika kamu juga menolak dan bersikeras untuk juga tidak mau menikah dengan aku, maka akan lebih gampang bagi kita untuk membatalkannya."

__ADS_1


"Tidak, Put. Kamu tidak mengerti. Jika kamu bertanya apa aku ingin membatalkan pernikahan ini, maka aku akan menjawab, jika aku sangat ingin membatalkan pernikahan ini," ujar Abash.


"Maka lakukanlah, lakukan untuk membatalkan pernikahan ini," geram Putri.


"Tapi aku seorang  pria yang memiliki tanggung jawab, Put. Aku juga memiliki saudara perempuan yang harus aku jaga. Untuk itu, aku tidak ingin jika mereka dihukum oleh Allah atas dosa-dosa yang telah aku perbuat. Aku tidak mau, Put. Untu itulah, aku tetap bersedia menikah dengan kamu, walaupun aku tidak mencintai kamu."


"Euughhh ... dasar menyebalkan," geram Putri.


Putri mengambil tasnya yang ada di atas sofa. "Percuma aku kabur untuk bertemu dengan kamu," geram Putri dan menatap tajam ke arah Abash.


"Kalau begitu, kenapa kamu juga tidak kabur agar pernikahan ini tidak akan pernah terjadi?" sahut Abash yang mana membuat Putri semakin murka.


Gadis itu pun mengambil vas bunga dan melemparkannya ke arah Abash, sehingga membuat kening pria itu pun terluka akibat benturan dari vas bunga dari kayu tersebut.


Putri semakin menatap tajam ke arah  Abash, sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkan ruangan pria itu.


Abash menghela napasnya pelan, pria itu menyentuh keningnya  yang terasa perih dan nyeri. Dia pun melihat jarinya yang terdapat noda merah, di mana ternyata keningnya berdarah dan terluka. Sebenarnya Abash bisa mengelak saat Putri melempas vas bunga itu ke arahnya, akan tetapi dia sengaja tidak melakukkan hal itu, karena tidak ingin membuat Putri semakin kesal dan membencinya.


Abash kembali menghela napasnya dengan berat, pria itu benar-benar merasa iba dengan hubungan yang rumit ini.


*


"Dasar pria brengsek," kesalnya  dengan air mata  yang mengalir dengan keras. "Bisa-bisanya dia menyuruh aku yang pergi? Kenapa bukan dia yang pergi? Dasar pengecut," geram Putri.


Detik selanjutnya, gadis itu terdiam, seolah mendapatkan sebuah ide yang cemerlang.


"Tunggu, aku rasa apa yang dikatakan oleh Abash ada benarnya," lirih Putri. "Jika aku yang pergi, maka aku tidak akan dinikahkan oleh siapapun untuk menutupi aib ini. Ya, aku juga tidak perlu mengecewakan Arash yang mana dia juga bersedia untuk menikah denganku nanti," lirih Putri. "Sebaiknya aku yang pergi," ujar Putri dan bergegas menyiapkan rencananya.


*


"Kenapa kening kamu, apa kamu sengaja menjedotkan kening kamu ke dinding? Agar bisa mengingat semua kejadian itu?" tanya Arash saat mereka sudah janjian untuk bertemu di apartemen.


"Putri tadi mendatangi aku, kemudian dia melempar vas bunga dan mengenai keningku,"  ujar Abash yang mana membuat Arash terkejut.

__ADS_1


"Putri menemui kamu, tetapi kamu tidak memberitahu aku?" tanya Arash.


"Aku tidak punya kesempatan, gadis itu benar-benar murka tadi, karena aku menolak untuk membatalkan pernikahan ini," ujar Abash sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Aku merindukan dia, tetapi aku tidak mendapatkan izin  untuk bertemu dengannya," lirih Arash.


"Aku juga merindukan Sifa, tapi dia tidak mau bertemu dengan  aku," Abash tak mau kalah melow dari Arash.


"Hmm, semoga rencana kita nanti berhasil," ujar Arash.


"Aku harap juga begitu. Walaupun aku harus mempertaruhkan nyawaku."


"Kamu tau, saat ini aku merasa seperti seorang penjahat, di mana aku biasanya menangkap penjahat. tapi sekarang aku mengerti, ternyata identitas bodong diperlukan untuk hal seperti ini," lirih Arash. "Aku sungguh merasa bersalah dengan profesiku, karena sudah menodainya dengan keegoisanku," ungkap Arash dengan perasaan menyesal, tetapi enggan untuk mundur dari rencananya,


"Sepertinya tanpa operasi pun, aku akan mendapatkan wajah yang sedikit berbeda." Arash menoleh ke arah Abash.


"Maksud kamu?"


"Aku yakin, jika bakal ada codet di sini, sini dan sini," tunjuk Arash di beberapa daerah wajahnya.


Abash menganggukkan kepalanya. "Aku harap hidung kamu patah, jadi cukup aku yang memiliki hidung yang indah," ujar Abash.


"Aku harap kamu dibenci dengan Sifa, agar kamu tidak bisa menikahinya," kesal Arash, karena baginya, hidung adalah bagian yang paling dia sukai di wajahnya.


"Aku akan batalkan rencana ini, kemudian menikah dengan Putri dan Sifa," ujar Abash sambil tersenyum miring, sehingga membuat Arash menatapnya dengan tajam.


"Jangan macam-macam kamu, Bash," ancam Arash.


"Haah, senangnya dalam hati, punya istri dua. Satu Sifa, satu Putri, tiap malam bobok bergantian." Abash pun menyanyikan sebuah lagu madu tiga, dengan lirik yang berbeda.


"Aku rasa kening kamu harus dijedotkan sekali lagi," geram Arash dan bangkit dari tempat duduknya menghampiri Abash.


"Mau apa kamu?" tanya Abash saat Arash sudah berada di atasnya.

__ADS_1


"Mau kasih pelajaran buat kamu," geram Arash sambil menggelitik tubuh Abash.


"Hentikan, Rash, aku cuma bercanda .. ha ..ha .. aku bercandaaaaa....."


__ADS_2