
Arash memberikan segelas air putih kepada Putri. Saat ini mereka sudah berada di apartemen pria itu.
"Sudah lebih baik?" tanya Arash kepada pUtri.
"Hmm ..." gumam Putri.
Pikiran gadis itu masih terbayang-bayang akan apartemennya yang berantakan, di tambah lagi ancaman yang menakutkan itu. Walaupun Putri bisa bela diri, akan tetapi jiwa Putri tetaplah seorang wanita, di mana bahaya bisa saja mengancam gadis itu, di mana pun dia berada.
"Untuk malam ini, tidurlah di sini dulu. Aku juga akan tidur di sini malam ini. Kamu akan tidur di kamar itu, sedangkan aku akan tidur di kamar ini," ujar Arash sambil menunjuk ke arah dua kamar yang bersebelahan.
Putri mengikuti arah tunjuk Arash, gadis itu pun menganggukkan kepalanya untuk menyetujui usul pria itu.
Arash menoleh ke arah Abash yang terlihat termenung, entah apa yang di pikirkan oleh kembaraannya saat ini.
"Bash, lo tidur sini juga, kan?" tanya Arash yang mana membuyarkan lamunan pria itu.
"Hmm? Ya. Lagian gak mungkin juuga gue tinggalin kalian berdua dalam satu ruangan, kan?" ujar Abash yang di angguki oleh Arash.
"Baiklah, kalau begitu kamu bis istirahat di kamar, Put. Di dalam kamar juga ada kamar mandi, kok. Kalau kamu mau bersih-bersih dulu bisa di dalam kamar aja," ujar Arash memberi tahu
Putri menganggukkan kepalanya, gadis itu pun mengambil paper bag yang berisi baj-bajunya. Tadi, Arash sudah mengambil beberapa baju yang nyaman untuk gadis itu gunakan.
"Terima kasih," lirih Putri dan berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh Arash tadi.
Di dalam kamar mandi, Putri menangis di bawah shower, agar tidak ada yang mendengar tangisannya. Bayangan potongan jari yang masih berlumur darah itu masih saja menghantui pikiran Putri.
"Hiks, Mama ..." lirih Putri dengan sesenggukan.
__ADS_1
Di luar kamar, Arash masih memperhatikan sang kembaran yang sedari tadi terlihat terus melamun.
"Apa yang sedang lo pikirin, Bash?" tanya Arash.
"Hmm? Tidak ada. Hanya saja, gue tidak menyangka jika akan terjadi seperti ini," ujar pria itu dengan mengusap wajahnya kasar.
"Seharusnya gue mendengarkan ucapan Daddy, untuk tidak mempermasalahkan hal ini," lirih Abash menyesal.
"Semua ini sudah terjadi, sebaiknya kita hadapi dia dengan tenang. Pihak kepolisian akan mencari bukti kuat untuk menahannya," ujar Arash.
"Gue harap, kita bisa berhasil menangkap Yosi, seperti kita menangkap Riki saat itu," sambung Abash.
"Jika kita bekerja sama, gue yakin kalau kita pasti berhasil menangkapnya."
"Hmm, lo benar. Gue akan mencoba meretas IP-nya, agar lebih gampang untuk kita menangkapnya."
"Lo yakin tinggalin gue berdua dengan Putri?" tanya Arash.
"Gue percaya sama lo. Lagian, mau ngapain lo sama Putri?" goda Abash yang mana membuat Arash menggelengkan kepalanya
Kepergian Abash pun membuat suasasan ruang tamu itu menjadi senyap. Arash pun akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.
*
Abash menatap sepuluh pesan yang masuk dari Sifa. Dia sangat merasa bersalah kepada sang kekasih, karena telah berbohong dan mengabaikan semua pesan dan juga panggilan yang masuk.
"Apa kamu sudah tidur?" send.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, pesan tersebut pun langsung di baca oleh Sifa.
"Belum. Mas di mana? Mas baik-baik aja, kan?"
Abash tak membalas pesan Sifa, pria itu pun memilih untuk membuat panggilan video kepada sang kekasi.
"Mas," sapa Sifa saat wajah Abash sudah terpampang jelas di layar ponselnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Abash.
"Belum, Mas di mana? Mas baik-baik aja?" tanya Sifa yang terdengar rasa khawatir.
"Hmm, Aku baik-baik aja. Tapi, Putri tidak," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.
"Maksud, Mas? A-apa ada yang terjadi sesuatu dengan Mbak Putri?" tanya Sifa dengan jantung yang berdebaran.
"Ya, ada sesuatu yang terjadi dengannya," lirih Abash sambil mengusap awajahnya dengan satu tangan.
"Sifa, apa pun yang kamu dengar dan lihat saat ini, Aku harap kamu tidak mempercayai gosip tersebut. Karena itu tidak seperti apa yang kamu lihat. Aku hanya ingin mengatakan, jika saat ini Putri menjadi tanggung jawab aku."
Terlihat perubahan dari raut wajah Sifa, sehingga membuat Abash langsung berbicara cepat, agar sang kekasih tidak salah paham dengan apa yang di katakannya saat ini.
"Aku akan menjelaskannya besok. Aku harap, kamu tidak berpikiran macam-macam, ya? Hapus semua foto-foto itu, karena aku yakin, jika kamu melihatnya itu sama saja dengan kamu menyakiti perasaan kamu. Aku haarap, kamu tetap percaya dengan apa aku. Ya,?" pinta Abash.
Sifa menarik susdut bibirnya dan mengangguk pelan.
"Aku percaya sama Mas."
__ADS_1