
Zia menyapu seluruh ruangan apartemen Arash, di saat pria itu menyuruhnya masuk.
"Itu kamar kamu, sedangkan di sebelahnya kamar aku," ujar Arash mengambil atensi Zia.
"Hmm? Ya ..."
Arash pun berlalu meninggalkan Zia di belakangnya sambil menggendong Rayyan. Di saat pria itu ingin masuk ke dalam kamar, Zia pun segera menghentikan langkah Arash.
"Tunggu!"
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun kembali menoleh ke arah belakang. Lebih tepatnya di mana Zia berada.
"Ya?"
"Emm, bagaimana dengan anak-anak? Apa mereka akan tidur denganku?" tanya Zia.
"Tidak, mereka akan tidur denganku," jawab Arash sehingga membuat Zia mengernyitkan keningnya.
"Bukankah Mas menikah denganku, agar Rayyan dan Yumna mendapatkan sosok seorang ibu?" tanya Zia.
"Ya, aku menawarkan kamu posisi itu. Tapi, tidak untuk mengambil hak asuh anakku."
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Zia dengan kening mengkerut.
"Rayyan dan Yumna tetap akan tidur di kamarku. Karena aku adalah ayah kandungnya. Sedangkan kamu! Kamu hanya---"
"Bagaimana jika mereka meminta tidur denganku?" potong Zia cepat.
"Rayyan sudah tidur, tidak mungkin dia meminta tidur bersama kamu!"
"Utiii .. Yan au bobo ma Uti," ujar Rayyan dengan suara paraunya yang menggemaskan.
Sudut bibir Zia berkedut membentuk sebuah senyuman. Akan tetapi, dia menahan senyuman itu agar tidak membuat suaminya tersinggung dan marah.
"Rayyan hanya mengigau. Sebaiknya kamu segera masuk kamar dan tidurlah," titah Arash dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Ya, Sepertinya Rayyan benar-benar mengigau, seperti apa yang Arash katakan. Buktinya, balita menggemaskan itu tidak lagi meminta tidur dengan Zia, di saat Arash membawanya masuk ke dalam kamar.
"Permisi, Non," pamit encus yang menggendong Yumna dan ingin membawa masuk ke dalam kamar Arash.
"Tunggu, Encus," tahan Zia yang mana membuat langkah encus pun terhenti.
Zia tersenyum, gadis itu pun membelai kepala Yumna dengan penuh kasih sayang dan mengecup keningnya.
"Selamat tidur, sayang," bisik Zia dengan lembut.
Zia mengangkat pandangannya dan melihat wajah encus, gadis itu pun tersenyum serasa menganggukkan kepalanya, seolah memberitahu jika encus sudah boleh masuk ke dalam kamar Arash.
__ADS_1
"Haaahh ... Sepertinya malam ini aku tidak tidur dengan Rayyan dan Yumna," gumam Zia dengan perasaan sedih.
Zia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Banyak hal yang harus dia lakukan di dalam kamar. Misalnya seperti menyusun baju atau meletakkan semua barang-barang pekerjaannya yang sudah di letakkan oleh orang suruhan Arash ke dalam kamar.
Zia kembali menyapu ruangan kamarnya dengan mata. Walaupun kamarnya tidak sesuai dengan selera dirinya, tapi harus dia akui, jika kamar yang akan dia tempati lumayan bagus.
"Lumayan." Zia pun membuka tirai kamarnya, di mana pemandangan di luar jendela terlihat sangat indah.
Kerlap kerlip lampu kendaraan membuat jalanan di bawahnya terlihat seperti hujan meteor yang berada di bawa kaki. Di tambah lagi keindahan lampu gedung-gedung yang berada di seberang apartemennya pun, terlihat juga begitu indah.
Harus Zia akui, jika pilihan Arash cukup bagus .
"Hmm, setidaknya aku bisa melihat pemandangan yang indah, setelah merasa sesak memandang wajahnya," ucap Zia dengan lirih.
Setelah puas memandang ke arah luar jendela, Zia pun menutup tirai tersebut dan berniat untuk berganti pakaian. Untungnya kamar yang dia tempati juga terdapat kamar mandi di dalamnya. Jadi, Zia tidak perlu repot-repot harus keluar kamar untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berada di dekat dapur.
"Aah, segarnya ...." ujar Zia dengan lirih di saat dirinya sudah selesai membersihkan diri.
Zia pun menatap koper-kopernya yang masih berserakan di lantai, begitu pun dengan koper yang berisi semua perlengkapan pekerjaannya.
"Besok saja lah. Lagi pula aku terlalu malam ini," Zia pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan kepala yang masih terbungkus dengan handuk.
Tok .... Tok .... Tok ...
Baru saja dia menutup matanya untuk segera beristirahat, tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
Zia pun bangkit dari tempat tidur, sehingga membuat handuk yang menutupi rambut basahnya terbuka dan terbentang di atas tempat tidur.
Dengan berjalan perlahan menggunakan tongkatnya, Zia pun membuka pintu kamarnya.
"Ya?"
Zia membulatkan matanya, di saat melihat wajah Rayyan sudah di penulis dengan air mata.
"Rayyan ingin tidur dengan kamu," ujar Arash dengan wajahnya yang merona menahan rasa malu.
Zia tersenyum, gadis itu pun menyuruh Arash untuk masuk ke dalam kamarnya. Arash melihat koper-koper Zia yang terbuka semuanya, di mana baju-baju gadis itu terlihat belum di susun ke dalam lemari.
"Ah, aku akan menyusunnya besok," ucap Zia memberi tahu.
"Aku akan menyuruh orang untuk datang dan menyusunnya ke dalam lemari," sahut Arash.
"Eh, tidak perlu. Aku bisa menyusunnya sendiri, kok," tolak Zia.
"Besok kamu tidak ke kantor, kan?" tanya Arash memastikan.
"Iya, besok aku tidak ada jadwal ke kantor. Jadi, aku bisa memberes---"
__ADS_1
"Kamu cukup menjaga Rayyan dan Yumna saja. Biar si mbok yang bereskan pakaian dan semua barang-barang kamu," ujar Arash memotong ucapan Zia.
"Iya!" jawab Zia pelan.
Arash pun melanjutkan langkahnya untuk meletakkan Rayyan ke atas tempat tidur Zia. Akan tetapi, pergerakan pria itu terhenti di saat melihat ada handuk basah di atas tempat tidur.
"Ah, maaf ... Tadi selepas mandi aku ketiduran," ujar Zia dan mengambil handuk basah tersebut.
Arash menghela napasnya dengan pelan dan kasar.
"Lain kali jangan di ulangi. Handuk basah bisa membuat tempat tidur lembab, dan itu tidak baik untuk kesehatan Rayyan dan Yumna," ucap Arash dengan wajah kesalnya.
"Iya, Mas."
"Rayyan malam ini tidur sama kamu, karena dia merengek minta tidur sama kamu," ujar Arash memberitahu.
"Bagaimana dengan Yumna, Mas?" tanya Zia memastikan.
"Yumna masih tidur. Semoga saja dia tidak rewel dan mengganggu waktu istirahat kamu," ujar Arash dan berlalu dari kamar Zia.
"Iya, Mas," jawab Zia dengan pelan.
Saat pintu kamarnya di tutup, Zia pun menoleh ke arah Rayyan yang sudah berada di atas tempat tidurnya. Zia pun merentangkan tangannya untuk di peluk oleh Rayyan.
"Uuuhhh .... Rayyan kangen Uti, ya? Pingin tidur sama Uti, ya?" ujar Zia sambil membawa Rayyan ke dalam pelukannya.
"Uti ... ata eyang, cekalang Layyan manggil Uti, utan Uti. Api Mama?" tanya Rayyan dengan wajah menggemaskannya sehabis nangis.
Zia mengernyitkan keningnya. "Eyang bilang begitu?" tanya Zia memastikan.
"Iya. Eyang culuh Layyan manggil Uti, Mama."
"Emm, begitu yaa??" ujar Zia yang dijawab anggukan oleh Rayyan.
"Bagaimana jika Rayyan panggil Uti dengan sebutan Mommy aja?" pinta Zia.
Bagi Zia, panggilan mama cukup untuk Almarhumah Putri. Dia tidak ingin mengambil panggilan berharga itu dari sang kakak.
"Mommy?"
"Iya, Mommy."
"Layyan cuma. Mommy," ulang Rayyan sambil memeluk tubuh Zia.
"Layyan cayang Mommy."
"Mommy juga sayang Rayyan." Zia pun memeluk tubuh Rayyan dengan penuh kehangatan dan cinta.
__ADS_1
Semoga saja, kebahagiaan yang Zia rasakan saat ini tidak pernah berakhir dan tersakiti.