
"Ini apartemen kamu, gimana? Suka?" tanya Luna.
"Hmm, makasih banyak ya, udah mau bantuin aku cari apartemen."
"Sama-sama. Tapi, kenapa kamu carinya apartemen sederhana seperti ini? Padahal bisa cari yang wah. Secara, kamu kan pengacara hebat," kekeh Luna.
"Kamu sendiri kenapa cari apartemen yang biasa-biasa aja? Padahal kamu dokter yang hebat," balas Putri dengan kekehan.
"Karena alasan kita sama," bisik Luna dan mereka pun tertawa.
"Hmm, coba aja kantor aku dekat sama rumah sakit, pasti kita bisa tinggal bersama, ya kan," ujar Putri sambil memeluk Luna.
"Mau bagaimana lagi? Profesi kita berbeda. Lagian, kalau kamu tinggal di apartemen aku, ntar kejauhan lagi kamu pergi kerjanya."
"Ya juga sih."
Putri pun berjalan ke arah jendela, gadis itu melihat pemandangan yang ada di bawah sana.
"Ada toko kue juga di dekat sini?" ujar Luna dan menghampiri sang sahabat.
"Oh yaa?"
"Iya, di sana kuenya enak-enak. Kalau mood kamu gak bagus, kamu bisa perbaiki mood kamu dengan memakan kue lezat yang ada di toko itu."
"Hmm, kamu pasti sengaja cari apartemen ini kan?" tanya Putri.
"Sebenarnya bukan aku yang cari, tapi Bara," kekeh Luna.
"Hmm, udah aku duga. Pasti dia ikut turun tangan," cibir Putri.
"Itu tandanya dia sayang banget sama kamu. Bara gak mau kakaknya ini kenapa-napa," ujar Luna sambil mencuil hidung Putri.
"Hmm, coba aja Bara itu umurnya lebih tua dari kamu atau sebaya gitu. Pasti aku bakal jodohi dia sama kamu. Atau, aku jodohi aja kali yaa? Secara kan sekarang musimnya sama brondong," kekeh Putri.
"Iih, kamu ini. Ya gak lah, Bara itu udah aku anggap adik aku sendiri. Geli aja gitu kalau dia jadi suami aku. Cuma bayanginnya aja udah brrr ..." ujar Luna dengan menggetarkan tubuhnya.
"Hahaha, aku cuma bercanda. Eh, kamu capek gak?" tanya Putri.
"Enggak, kenapa?"
"Kita cobain cake yang di toko itu yuuk," ajak Putri.
__ADS_1
"Duh, gimana ya? Aku harus kembali ke rumah sakit, Ada pasien yang harus aku periksa," sesal Luna.
"Hm, ya udah deh. Tapi, makasih yaa untuk semua ini," ujar Putri dan memeluk sahabatnya itu.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu, aku balik ya,"
"Iya .. Hati-hati bawa mobilnya."
"Hmm, kalau ada hubungi aku aja,"
"Sip deh.."
Putri pun mengantarkan Luna hingga masuk ke dalam lift, kemudian gadis itu kembali masuk ke dalam apartemennya. Dia memandang keseluruhan apartemen yang saat ini akan menjadi tempatnya pulang.
Putri menarik kopernya ke dekat lemari, gadis itu terkekeh pelan di saat melihat jika lemarinya sudah terisi penuh.
"Dasar, Bara," cibir Putri sambil terkekeh pelan.
Di tempat lain, Arash meminta Naya untuk mengobati luka yang ada di wajahnya.
"Emangnya kenapa bisa sampai babak belur gini, sih?" tanya Naya.
"Hmm, mau gimana lagi, Mbak. Gak mungkin juga kan aku pukul cewek," lirih Arash.
"Iya, dia hebat. Bahkan, dia bisa melepaskan tangannya yang udah aku kunci. Keren deh bela dirinya."
"Cantik gak?" goda Naya.
"Biasa aja sih. Tapi, dia ternyata seorang pengacara," ujar Arash sambil menunjukkan kartu nama Putri.
Naya meraih kartu nama tersebut dan membaca nama yang tertulis di sana.
"Kusuma? Kok kayak gak asing yaa?" lirih Naya.
"Emangnya Mbak pernah dengar?" tanya Arash.
"Entahlah, tapi ada juga pengusaha yang namanya Kusuma. Dia baru aja mengajukan kerja sama dengan rumah sakit kita," ujar Naya.
"Oh yaa? Mungkin hanya namanya saja yang sama, Mbak."
"Hmm, bisa jadi sih. Eh, tapi malam ini kamu ikut kumpul ke rumah Mama kan?"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Pinginnya sih gitu, tapi gimana kalau Mama khawatir dengan ini?" tanya Arash sambil menunjuk wajahnya yang lebam.
"Bilang aja di pukul cewek," kekeh Naya.
Arash memutar bola matanya malas, pria itu pun juga tak mungkin menghindari acara keluarga, secara Mama Kesya sudah tau jika dirinya bebas jam kerja saat itu.
"Tutupi pakai fondation aja," saran Naya.
"Oh iya, ya. Makasih, Mbak."
Setelah mengobati lukanya, Naya pun pamit kepada Arash, karena harus kembali ke rumah sakit.
Arash menatap ke arah luar jendela, entah apa yang saat ini ada di dalam pikirannya.
*
"Jadi, begitu lah ceritanya, Sifa. Benci jadi cinta, jadi, jangan benci-benci banget dengan maklum berjenis kelamin pria, takutnya jadi cinta," kekeh Quin.
Entah mengapa, Sifa refleks melirik ke arah Abash yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kamu suka sama Abash, ya?" tebak Quin dengan berbisik.
"Hah? Oh, gak kok," cicit Sifa pelan.
"Udah, ngaku aja. Gak bakal Mbak bocorin kok," Ujar Quin dengan tersenyum manis.
"Sebenarnya bukan cinta sih, Mbak. Tapi---"
"Assalamualaikum, Arash gak terlambat kan?" ujar Arash dengan tersenyum lebar.
"Sedikit lagi mungkin ya," kekeh Papa Arka.
"Syukurlah kalau Arash gak terlambat. Jadi, siapa pemenang hadiah utama, Oma?" tanya Arash kepada Oma Laura.
"Abash dan Sifa."
"Apa? Mereka??"
"Iya, kenapa?" tanya Papa Arka.
"Arash kan pesan tiketnya untuk honeymoon!" lirih Arash dengan mantap ke arah Sifa.
__ADS_1
Nb: hai Readers semua. Maaf ya, kemarin salah up bab. Seharusnya bab ini tapi malah ke up bab sebelumnya. Maaf yaa, tapi bab 100 udah aq revisi kok. bisa di baca ulang yaa..
salam kangen dari emak. 🤗🤗🤗