
"Kesel aja, Mas, habisnya dia itu--akhh ..." Amel memekik pelan di saat kakinya di pijak oleh Sifa.
Amel menoleh ke arah Sifa, hingga sahabatnya itu memberikan kode dengan mengedipkan matanya cepat. Untungnya Amel cepat memahami kode yang diberikan oleh Sifa, sehingga wanita itu langsung saja berdehem pelan.
"Ekheem ... Itu, Mas. Kak Jimi itu dulu pernah naksir aku. Tapi ya gitu deh, aku gak suka sama dia, habisnya dia lebay sih. Jadi ya begitu deh, kesal aja aku kalau selalu jumpa sama dia," ujar Amel yang tidak sepenuhnya bohong.
"Oh, begitu. Pantas saja sih kamu kesel lihat dia," kekeh Bimo pelan.
"Iya, Mas. Makanya aku gak mau berlama-lama bicara sama dia," sahut Amel.
Sifa bernapas lega, karena sahabat baiknya itu bisa mengontrol keadaan. Andai saja Amel tidak memahami kode darinya, mungkin saat ini Abash sudah menghampiri pria itu dan memberikannya pelajaran.
Tanpa Sifa ketahui, jika Abash ternyata mengetahui kode yang wanita itu berikan kepada sahabatnya. Dan Abash sudah bisa menebak, jika Amel sedang berbohong saat ini.
Dalam diam, Abash akan mencari tahu apa yang terjadi antara Sifa dan Jimi.
Ya, Abash akan mencari tahu apa penyebab sebenarnya yang membuat Amel merasa kesal terhadap Jimi. Jika hanya sekedar suka, tidak mungkin Amel bisa sekesal itu, dan juga, tidak mungkin Sifa memberikan kode kepada Amel untuk tidak kelepasan bicara.
Abash akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika perlu, pria itu akan memberikan pelajaran kepada Jimi, jika ternyata dia terbukti memang bersalah.
Kehadiran pelayan cafe yang memberikan menu makanan pun mengambil alih perhatian mereka semua. Absah langsung menyuruh sang istri dan sahabat istrinya itu untuk memesan makanan apa yang ingin mereka makan.
"Pesan aja, Bimo, apa yang ingin kamu makan," titah Abash yang diangguki oleh Bimo.
__ADS_1
"Bapak?" tawar Bimo sambil menyodorkan buku menu yang ada di tangannya.
"Saya gampang, istri saya yang akan memesankannya," ujar Abash dan mengembalikan buku menu tersebut kepada Bimo.
Dengan perasaan segan dan gugup, Bimo pun mengambil kembali buku menu yang Abash sodorkan kepadanya, kemudian menuliskan makanan apa yang ingin dia makan malam ini. Walaupun dirinya sudah sering duduk di satu meja yang sama dengan Abash, tetap saja Bimo merasa segan kepada pria itu, karena yang pertama Abash adalah atasannya, sedangkan dirinya adalah anak buahnya. Tentu saja circle mereka berbeda jauh. Ya, walaupun Abash menyuruh Bimo untuk bersikap biasa saja di luar kantor kepadanya dirinya, tetap saja berbeda, kan?
Sifa memberikan pesanan makanan mereka kepada pelayan, kemudian wanita itu menoleh ke arah sang suami yang kedapatan memandang ke arah Jimi dengan tajam.
"Mas?" tegur Sifa, Abash menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Ya, sayang!"
"Kamu lihatin apa, Mas?" tanya Sifa merasa penasaran.
"Tidak ada," jawab Abash berbohong sambil tersenyum kepada sang istri, di mana membuat Sifa juga ikut tersenyum kepadanya.
Ya, orang tua Amel menantang Bimo untuk menunjukkan seberapa usaha pria itu bisa membuat Amel bahagia. Bahagia tanpa harus dengan embel-embel harta seperti Abash.
Bisakah Bimo membuktikan kepada orang tua Amel, jika bahagia tidak hanya sekedar berasal dari uang? Tapi bahagia juga bisa di dapat dari saling melengkapi satu sama lain.
Ya, Bimo akan menunjukkan hal itu. Jika kebahagiaan juga bisa di dapat dari kesederhanaan dan juga saling melengkapi satu sama lainnya.
"Aku ikut senang mendengarnya, Mel. Aku doain, semoga saja perlahan-lahan Mas Bimo bisa mengantongi restu dari papa kamu," ujar Sifa dengan tulus.
__ADS_1
"Amiin, makasih doanya, Fa. Semoga aku bisa segera menyusul kamu ke pelaminan, ya!"
"Amin, semoga ya, Mel. Hal yang baik, pasti akan berjalan dengan baik."
Makanan yang tersaji di atas meja pun akhirnya habis. Waktu pun sudah semakin larut, sehingga membuat Sifa dan Amel harus berpisah. Bimo harus mengantar Amel kembali pulang ke rumah wanita itu, sebelum jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Abash dan Sifa sudah berada di dalam mobil yang sedang membelah jalanan.
"Mas, dari tadi aku lihat kamu diam saja, kenapa?" tanya Sifa merasa penasaran.
"Benarkah? Masa sih?" tanya Abash sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya, Mas. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sifa lagi.
Abash mengambil tangan Sifa dan menggenggamnya. "Tidak ada, sayang. Lagi pula, dari tadi kamu terus saja berbicara dengan Amel. Aku dan Bimo malah dicuekin," rajuk Abash, seolah pria itu sedang ngambek karena merasa di cueki oleh sang istri.
"Jadi karena itu, Mas? Karena aku mencueki kamu tadi?" tanya Sifa terkejut.
"Iya dan tidak," kekeh Abash.
"Maksdunya?"
"Ya, aku merajuk karena kamu mengabaikanku. Tidak, karena sebenarnya aku senang melihat kamu senang. Jadi, intinya, aku tidak merajuk sama kamu. Hanya saja, mungkin aku merasa bosan, makanya aku banyak memilih diam. Lagi pula, Bimo juga sepertinya masih kurang nyaman jika harus duduk di satu meja yang sama dengan aku, sayang. Mungkin itu juga yang membuat aku merasa bosan karena tidak memiliki teman ngobrol," ujar Abash mencari alasan yang tepat, padahal pria itu sudah mendapatkan informasi dari orang suruhannya, jika Jimi adalah orang yang telah membully Sifa dengan sangat parah saat di kampus dullu.
__ADS_1
"Hmm, maaf ya Mas, karena sudah membuat kamu merasa tidak nyaman."
"Tidak apa-apa, sayang. Lama-lama pasti juga akan terbiasa."