
"Kamu gak papa?"
Putri dan Arash pun saling mengerjapkan matanya, hingga akhirnya Arash berdehem pelan untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa kering. Kenapa saat ini dia malah mengkhawatirkan perasaan Putri? Bukan perasaannya sendiri.
"Enng, se-sebaiknya kita biarkan saja mereka dulu," ujar Arash dan mengajak Putri untuk menjauh dari kamar Abash.
Arash pun mengajak Putri untuk duduk di kantin. Mereka pun memesan minuman hangat untuk menghangatkan hati yang dingin. Tidak, bukan itu, tetapi menghangatkan tubuh yang dingin karena basah. Arash sudah menghubungi Toto untuk membawakan baju ganti untuk dirinya dan juga Putri. Tentu saja baju yang di bawakan oleh Toto adalah baju yang baru. Tidak mungkinkan pria itu mengacak-acak lemari Putri!
Putri menggenggam gelas yang berisi teh hangat untuk menghangatkan tangannya, kemudian menangkup pipinya yang terasa dingin. Mereka berdua pun terdiam dengan pemikiran masing-masing. Putri memikirkan dan mengkhawatirkan bagaimana perasaan Arash saat ini, di mana pasti pria itu merasa sedih karena melihat wanita yang dia cintai sedang berciuman dengan kembarannya sendiri.
Sakit. Pastilah sangat sakit sekali perasaan pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini. Karena terlalu terlena dengan pemikirannya, sehingga membuat Putri pun menghela napasnya dengan berat, hal itu pun mengambil atensi Arash yang sedang berkecamuk dengan pemikirannya sendiri.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arash yang mana membuat Putri menatap ke arahnya.
"Ya?" tanya Putri dengan bingung.
"Kamu baik-baik saja?" ulang Arash lagi yang mana membuat Putri semakin mengernyitkan keningnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa?" tanya Putri heran.
"Soal yang kita lihat tadi, apa kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Arash lagi untuk memastikan.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Putri tanpa ragu. "Kamu sendiri bagaimana? Apa baik-baik saja?" tanya Putri balik.
Melihat wajah Putri yang terlihat tenang dengan pertanyaannya, membuat Arash berpikir jika Putri sudah mengetahui tentang hubungan Sifa dan Abash. Tapi, kenapa gadis itu tidak mengatakan apa pun kepadanya? Padahal kan Putri mengetahui jika dirinya menyukai Sifa.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada aku?" tanya Arash yang mengabaikan pertanyaan Putri.
"Mengatakan apa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Apa kamu sudah tahu sebelumnya? Jika Abash dan Sifa memiliki hubungan khusus?" tanya Arash memperjelas pertanyaan dan rasa keingintahuannya.
Putri terlihat menghela napasnya pelan, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku sudah tahu," ujar Putri dengan suara yang pelan.
"Sejak kapan?" tanya Arash merasa penasaran.
"Sejak awal," jawab Putri yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Tunggu, maksud kamu sejak awal kamu bertemu dengan Abash, kamu sudah tahu kalau dia dan Sifa memiliki hubungan?" tanya Arash memastikan.
"Tidak, bukan seperti itu. Tapi---"
Putri pun menceritakan bagaimana pertemuan dirinya dengan Sifa, di mana saat itu dia sedang berbelanja dan tanpa sengaja bertemu dengan Abash dan Sifa. Saat itulah Abash memperkenalkan Sifa sebagai kekasihnya.
Arash yang mendengar cerita Putri pun, ikut menghela napasnya dengan pelan.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku?" tanya Arash merasa kesal kepada gadis yang ada di hadapannya saat ini.
"Itu karena bukan kewajiban aku untuk memberitahu kamu," jawab Putri dengan menundukkan wajahnya.
Putri kembali mengangkat wajahnya di saat mendengar Arash menghela napasnya dengan berat dan kasar.
Gadis itu pun merasa bersalah karena tak memperingatkan pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud---"
"Sudahlah, lupakan saja," ujar Arash dan menyesap kopi panasnya.
Putri pun menghela napasnya dengan pelan, rasa bersalah pun semakin menggerogoti seluruh perasaannya. Melihat orang yang dia sukai terluka, seolah dirinya juga merasakan hal yang sama.
"Arash? Putri?" tegur Naya yang mana membuat kedua orang tersebut menoleh ke arah sumber suara.
"Kenapa kalian di sini? Kenapa tidak melihat kakek? Ah ya, Mbak Quin sudah tiba di sini, sekarang dia sedang di rawat di sebelah kakek. Tadi, setelah menjenguk Abash, kondisi tubuh Mbak Quin semakin melemah. Kamu tau, ada kabar gembira yang di bawa oleh Mbak Quin," ujar Naya sambil tersenyum.
"Kabar gembira apa?" tanya Arash yang mana jantungnya berdetak tidak karuan saat ini.
Memikirkan Putri merahasiakan hubungan Abash dan Sifa, sudah membuatnya merasa kesal. Sekarang, di tambah lagi mendengar kabar tentang sang kakak yang mana baru saja tiba dan malah jatuh sakit saat ini. Lalu, di mana letak kabar gembiranya?
"Mbak Quin ternyata positif hamil," ujar Naya dengan penuh semangat, yang mana membuat Arash langsung berdiri dari duduknya.
"Apa? Kamu serius, Nay?"
"Iya, aku serius," jawab Naya sambil menganggukkan kepalanya.
Arash yang terlalu bahagia mendengar kabar dari sang sepupu pun, langsung berlari meninggalkan Putri tanpa pamit. Putri yang di tinggal oleh Arash, seolah pria itu melupakan keberadaannya pun, hanya bisa menatap punggung Arash yang semakin menjauh dengan perasaan sedih dan terluka.
"Apa tak sepenting itu keberadaan aku? Sehingga dia berlari tanpa pamit dariku?" batin Putri.
__ADS_1
Naya yang melihat tatapan sendu Putri pun berdehem pelan, sehingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Kami boleh bergabung di sini, kan?" tanya Naya yang saat ini sedang bersama Kak Martin.
"Silakan," jawab Putri dengan tersenyum.
"Apa baju kamu basah?" tanya Naya memastikan, karena melihat gadis yang duduk di hadapannya saat ini terlihat kedinginan.
"Huum, hanya basah sedikit saja," jawab Putri dengan tertawa kecil.
Kak Martin pun bergegas membuka jasnya, kemudian memberikannya kepada Putri.
"Pakailah ini," ujar Kak Martin.
"Tidak, saya tidak-apa-apa kok," tolak Putri merasa tak enak.
"Gak papa. Pakai saja ini, biar kamu tidak terlalu kedinginan." uKak Martin masih mengulurkan jas miliknya kepada Putri.
"Iya, Put, kamu pakai saja," ujar Naya ikut memaksa gadis itu menerima jas yang di ulurkan oleh Kak Martin.
(Ah ya, di sini emak mau kasih tau. Kalau ada yang belum mampir ke kisahnya Naya dan kak Martin, boleh intip-intip di aplikasi F ya. Karena emak masukin kisah mereka ke sana.)
Putri pun akhirnya meraih jas yang di ulurkan oleh Kak Martin, kemudian menutupi tubuhnya dengan jas yang sudah pasti kebesaran di tubuhnya. Namun, jas itu setidak membuat tubuh Putri merasa hangat.
Perhatian yang di berikan oleh Kak Martin kepada Putri, membuat Naya semakin merasa kagum dengan pria yang berparas bule itu. Masih berawal dari rasa kagum. Akankah rasaa kagum itu berubah menjadi cinta? Entahlah, tidak ada yang tahu bukan tentang permainan perasaan.
Sudah lima belas menit Putri, Naya, dan Kak Martin berada di kantin. Putri pun menanyakan kabar tentang Kakek Farel. Ingin rasanya dia menjenguk pria yang sudah lanjut usia itu, tetapi mengingat bagaimana tatapan Arash yang membencinya, membuat Putri mengurungkan niatnya.
Ah, bagaimana cara Putri bisa pergi dari rumah sakit ini? Saat ini dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk pamit kepada Naya dan juga Kak Martin.
Cling ...
Sebuah pesan pun masuk ke ponsel Putri, sehingga membuat gadis itu meminta izin kepada Naya untuk membaca pesannya yang baru saja masuk.
"Kamu baik-baik saja, Put?" pesan yang tertulis di layar pipih itu. Pesan yang di kirim oleh Soni.
Putri mengerjapkan matanya, apakah ini jalan untuk diirnya bisa pergi dari rumah sakit?
"Ya ,aku baik-baik saja. Bisakah kamu menjemputku sekarang?" send.
__ADS_1
Putri menunggu balasan dari Soni, tak butuh waktu lama balasan pesan pun masuk ke dalam ponsel Putri.
"Share loc."